2021, Seluruh Desa di Gunungkidul Akan Punya Buku Sejarah Desa

Lalu lintas di ruas jalan utama Gunungkidul. - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
07 Maret 2019 20:50 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, WONOSARI—Dinas Kebudayaan Gunungkidul sejak tahun lalu rutin menulis sejarah desa. Kegiatan ini diharapkan tidak sebatas rutinitas, tetapi bisa menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kepala Bidang Sejarah Bahasa dan Sastra, Dinas Kebudayaan Gunungkidul Sigit Pramudyanto mengatakan tahun ini jawatannya menargetkan penulisan sejarah di 45 desa. Adapun bentuk penulisan menyangkut sejarah desa dari pendekatan antropologi.

Dia mengakui banyak kendala dalam proses penulisan inim seperti keterbatasan sumber daya manusia dan sumber tertulis. “Idealnya ada sumber tertulis dan juga lisan sehingga lebih komprehensif, tapi sayangnya penggalian sumber berdasarkan wawancara karena sumber tertulis masih sangat jarang khususnya menyangkut data sebelum kemerdekaan,” kata Sigit, Kamis (7/3/2019).

Penulisan sejarah desa sudah dimulai sejak tahun lalu. Rencananya, seluruh desa akan memiliki buku sejarah desa kami 2021 mendatang. “Ini kami lakukan bertahap dan harapannya di 2021 semua desa sudah menulis sejarah desa masing-masing.”

Pemerhati sejarah di Gunungkidul Markus Yuwono menyambut baik penulisan sejarah desa oleh Dinas Kebudayaan Gunungkidul. Menurut dia, program ini bisa menjadi sarana mengetahui asal usul hingga perkembangan desa. “Sejarah ini penting karena lewat rekonstruksi ulang kejadian masa lalu bisa kita ketahui bagaimana sebuah desa dari awal berdiri hingga perkembangannya sekarang seperti apa,” kata Markus.

Markus mengharapkan kepada Dinas Kebudayaan benar-benar memperhatikan hasil penulisan sehingga karya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan bukan sekadar asal tulis.

Alumnus Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma ini mengatakan Pemkab Gunungkidul dapat mendatangkan ahli dalam bidang kesejaharan untuk pendampingan.

“Pendampingan ini sangat penting agar karya yang dihasilkan benar berkualitas dan bukan hanya asal kegiatan terlaksana.”