Pariwisata Harus Jadi Penggerak Perekonomian Masyarakat

etua DPRD DIY, Yoeke Indra Agung Lasana, saat menyampaikan materi dalam diskusi dan bedah buku Perencanaan Pariwisata Perdesaan Berbasis Masyarakat Sebuah Pendekatan Konsep di Balai Desa Seloharjo, Pundong, Bantul, Selasa (19/3/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
19 Maret 2019 21:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Banyak potensi wisata di Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong yang dapat dikembangkan masyarakat dan menjadi daya ungkit perekonomian. Namun pengelolaan wisata jangan hanya asal kelola melainkan perlu dipersiapkan agar memiliki dampak besar bagi kehidupan masyarakat sekitar.

"Karena itu perlu ada perencanaan jangka pendek, menengah, dan jangka panjangnya. Dirembuk bersama-sama masyarakat dan pemerintah," kata Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Dinas Pariwisata Bantul, Ni Nyoman Yudiriani, dalam diskusi dan bedah buku, Perencanaan Pariwisata Perdesaan Berbasis Masyarakat Sebuah Pendekatan Konsep, di Balai Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Bantul, Selasa (19/3).

Sejumlah objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan di Seloharjo di antaranya adalah Gua Jepang, sebuah gua peninggalan zaman penjajah di Pedukuhan Surocolo, Ngerco, dan Poyakan. Ada 17 gua di lokasi tersebut yang sudah masuk dalam cagar budaya. Selain itu ada dua air terjun di Pedukuhan Kalipakem dan Pedukuhan Dermojurang.

Nyoman melihat objek wisata itu menjadi daya tarik khusus yang tidak dimiliki di tempat lain karena ada asek sejarahnya yang perlu ditonjolkan untuk wisatawan. Dinasnya siap mendampingi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) agar pengelolaan wisata dilakukan secara profesional. "Seni budayanya juga tidak lupa perlu ditampilkan untuk menambah daya tarik," kata dia.

Senada, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Yoeke Indra Agung Laksana mengatakan bahwa industri pariwisata dan industri kreatif di DIY menjadi daya gerak ekonomi masyarakat. Menurut dia DIY merupakan daerah kecil yang tidak memiliki sumber daya alam seperti tempat lainnya. Maka kemandirian, kreatifitas dan inovasi di bidang industri kreatif dan pariwisata menjadi dibutuhkan.

Untuk industri kreatif, Yoeke melihat lumayan maju. Terlihat dari tingginya ekspor kerajinan yang mencapai lebih dari 50%. Industri pariwisata juga sudah menggeliat. Hanya masih perlu ditingkatkan, "Perekonomian masif jika industri kreatifitas dan pariwisatanya berkalaborasi," kata Yoeke.

Kepala Dinas Perpustakaan Daerah (DPAD) DIY, Monika Nur Lastiyani mengatakan sengaja menggelar bedah buku tersebut soal pariwisata karena pihaknya melihat Desa Seloharjo merupakan salah satu desa yang banyak potensi wisatanya.

Ia berharap dari bedah buku tersebut, masyarakat selain gemar membaca buku, juga tersulut untuk mengembangkan pariwisata sesuai dengan peluang yang ada dan diperkaya dengan panduan dalam buku tersebut. Selain melalui buku, kata Monika, DPAD DIY juga sengaja menghadirkan para narasumber ahli dan konsen dalam bidang pariwisata.

Dengan keikutsertaan masyarakat dalam mengelola wisata maka bisa menambah pendapatan. "Sekecil apapaun kami dari DPAD DIY ingin berberan mebantu masyarakat mengurangi kemiskinan," kata Monika.
Dia mengaku bedah buka terkait dengan potensi yang ada di masyarakat yang sudah digelar selama ini sudah ada dampaknya. "Kami senang sekali masyarakat dapat manfaatnya," ujar dia.

Diskusi dan bedah buku tersebut juga menghadirkan pengelola wisata Tebing Breksi Sleman, Mujiman; Nur Indah Kurniawati dari Graha Ilmu; dan Kepala Desa Seloharjo, Marhadi Bahrun. "Kami sedang fokus mengembangkan empat obyek wisata di Seloharjo," kata Badrun.