BPCB Tak Memungkinkan Ekskavasi di Makam Gaten

Ilustrasi pengunjung melihat koleksi artefak dari zaman megalitikum di Situs Sokoliman, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, belum lama ini. - Harian Jogja/David Kurniawan
21 Maret 2019 23:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY menyatakan, terkait penemuan berlapis-lapis batu berukir di Makam Gaten, Sumberejo, Tempel Sleman sesungguhnya bukan temuan baru. Karena sejak 2012 masyarakat sudah pernah melaporkan ke BPCB DIY tentang penemuan struktur di makam ini ketika menggali kuburan.

Muhammad Taufik selaku Kepala Unit Penyelamatan, Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB DIY, mengatakan tahun 2013 pihaknya sudah melakukan pengamanan batu tersebut ke penampungan yang ada di Seyegan. Ia mengakui temuan itu sangat menarik karena selama ini jarang ditemukan struktur yang diduga candi di wilayah Sleman bagian Barat.

Sebelumnya, pada (28/2/2019) lalu warga yang sedang menggali liang lahat berukuran 2,5 meter x sekitar 90 sentimeter. Di kedalaman itulah, para penggali melihat batu-batu persegi disusun seperti pelataran atau lantai.

Taufik mengaku belum bisa memastikan terkait kemungkinan di lokasi temuan itu dahulunya merupakan pusat kerajaan Mataram kuno yang terkubur. "Karena kalau kiami lihat temuannya tidak cukup signifikan untuk ke arah tersebut," katanya kepada Harian Jogja, Senin (18/3/2019).

Taufik menambahkan, pentingnya membandingkan dengan temuan-temuan yang ada di sekitar Prambanan justru jauh lebih kompleks dan lengkap. "Tapi belum ada yang berani menyimpulkan kalau pusat kerajaan Mataram kuno berpusat di wilayah kalasan ataupun prambanan," ungkapnya.

Kendati demikian, lanjut Taufik, potensi penemuan artefak di wilayah Sleman masih sangat terbuka lebar. "Apalagi, kita tahu bahwa wilayah-wilayah di sekitar Gunung Merapi pernah terkubur oleh lahar hujan yang sangat tinggi ketika Merapi meletus tahun 1006 Masehi. setelah letusan tersebut dilanjutkan dengan letusan-letusan berikutnya, inilah yang mengubur bangunan-bangunan candi yang berada di dekat sungai-sungai yang berhulu di Merapi dan Merbabu," paparnya.

Taufik mengimbau sebaiknya masyarakat yang menemukan artefak langsung dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya karena bisa jadi temuan itu bukan temuan baru tapi sudah lama dan sudah diingentatisasi oleh BPCB DIY. "Andai temuan itu temuan baru maka BPCB DIY mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan dan memberikan kompensasi bagi penemu," tuturnya.

Upaya ekskavasi juga kecil kemungkinan akan dilakukan karena itu di area pemakaman. "Nanti kaitannya dengan perijinan yang susah. Tetapi kalau masyarakat menemukan kami amankan," ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Aji Wulantara menyambut gembira atas penemuan-penemuan cagar budaya, termasuk di makam Gaten. "Semua itu mununjukkan bahwa di Sleman ternyata memiliki kekayaan purbakala yang masih tersembunyi," ungkapnya.

Hal itu akan menjadi kajian mendalam oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sleman untuk kemudian bila memenuhi persyaratan akan direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Aji mendorong jika adanya penemuan harus dilakukan penelitian untuk mendapatkan kepastian tentang keberadaan obyek.

"Kepada masyarakat saya berharap untuk bisa memberikan informasi tentang sesuatu yang ditemukan di lingkungannya, karena kita harus menghargai sejarah peradaban masa lalu sebagai refleksi dalam menapak kehidupan sekarang dan yang akan datang agar kita tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa," ucapnya.

Harianjogja.com, SLEMAN--Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY menyatakan, terkait penemuan berlapis-lapis batu berukir di Makam Gaten, Sumberejo, Tempel Sleman sesungguhnya bukan temuan baru. Karena sejak 2012 masyarakat sudah pernah melaporkan ke BPCB DIY tentang penemuan struktur di makam ini ketika menggali kuburan.

Muhammad Taufik selaku Kepala Unit Penyelamatan, Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB DIY, mengatakan tahun 2013 pihaknya sudah melakukan pengamanan batu tersebut ke penampungan yang ada di Seyegan. Ia mengakui temuan itu sangat menarik karena selama ini jarang ditemukan struktur yang diduga candi di wilayah Sleman bagian Barat.

Sebelumnya, pada (28/2/2019) lalu warga yang sedang menggali liang lahat berukuran 2,5 meter x sekitar 90 sentimeter. Di kedalaman itulah, para penggali melihat batu-batu persegi disusun seperti pelataran atau lantai.

Taufik mengaku belum bisa memastikan terkait kemungkinan di lokasi temuan itu dahulunya merupakan pusat kerajaan Mataram kuno yang terkubur. "Karena kalau kiami lihat temuannya tidak cukup signifikan untuk ke arah tersebut," katanya kepada Harian Jogja, Senin (18/3/2019).

Taufik menambahkan, pentingnya membandingkan dengan temuan-temuan yang ada di sekitar Prambanan justru jauh lebih kompleks dan lengkap. "Tapi belum ada yang berani menyimpulkan kalau pusat kerajaan Mataram kuno berpusat di wilayah kalasan ataupun prambanan," ungkapnya.

Kendati demikian, lanjut Taufik, potensi penemuan artefak di wilayah Sleman masih sangat terbuka lebar. "Apalagi, kita tahu bahwa wilayah-wilayah di sekitar Gunung Merapi pernah terkubur oleh lahar hujan yang sangat tinggi ketika Merapi meletus tahun 1006 Masehi. setelah letusan tersebut dilanjutkan dengan letusan-letusan berikutnya, inilah yang mengubur bangunan-bangunan candi yang berada di dekat sungai-sungai yang berhulu di Merapi dan Merbabu," paparnya.

Taufik mengimbau sebaiknya masyarakat yang menemukan artefak langsung dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya karena bisa jadi temuan itu bukan temuan baru tapi sudah lama dan sudah diingentatisasi oleh BPCB DIY. "Andai temuan itu temuan baru maka BPCB DIY mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan dan memberikan kompensasi bagi penemu," tuturnya.

Upaya ekskavasi juga kecil kemungkinan akan dilakukan karena itu di area pemakaman. "Nanti kaitannya dengan perijinan yang susah. Tetapi kalau masyarakat menemukan kami amankan," ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Aji Wulantara menyambut gembira atas penemuan-penemuan cagar budaya, termasuk di makam Gaten. "Semua itu mununjukkan bahwa di Sleman ternyata memiliki kekayaan purbakala yang masih tersembunyi," ungkapnya.

Hal itu akan menjadi kajian mendalam oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sleman untuk kemudian bila memenuhi persyaratan akan direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Aji mendorong jika adanya penemuan harus dilakukan penelitian untuk mendapatkan kepastian tentang keberadaan obyek.

"Kepada masyarakat saya berharap untuk bisa memberikan informasi tentang sesuatu yang ditemukan di lingkungannya, karena kita harus menghargai sejarah peradaban masa lalu sebagai refleksi dalam menapak kehidupan sekarang dan yang akan datang agar kita tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa," ucapnya.