Keraton Serahkan Uborampe Untuk Prosesi Labuhan Merapi

Camat Cangkringan, Mustadi (kanan) saat menyerahkan kepada juru kunci gunung merapi Mas Bekel Anom Suraksosihono atau Mas Asih (kiri) di Pendopo Kecamatan Cangkringan, Sabtu (6/4/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
06 April 2019 19:47 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyerahkan uborampe (perlengkapan) untuk prosesi Labuhan Merapi, pada Minggu (6/4/2019). Uborampe diserahkan oleh abdi dalem Keraton kepada Camat Cangkringan yang kemudian diserahkan kepada juru kunci gunung merapi Mas Bekel Anom Suraksosihono atau Mas Asih, di Pendopo Kecamatan Cangkringan, Sabtu (6/4/2019).

Ada 11 macam uborampe yang diserahkan terdiri dari Sinjang Cangkring (1 lembar), Sinjang Kawung Kemplang (1 lembar), Semekan Gadhung (1 lembar), Semekan Gadhungmlathi (1 lembar), Semekan Banguntulak (1 lembar), Kampuh Poleng Ciyut (1 lembar), Dhesthar Daramuluk (1 lembar), Paningset Hudaraga (1 lembar),Selaratus Lisah Konyoh (1 wadhah), Yatra Tindhih (1 amplop) dan Ses wangen (10 iji)

"Setelah menerima Labuhan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, disarekan [menginap] semalam di Petilasan Mbah Maridjan. Besok pagi baru dibawa ke atas, ke Sri Manganti di lereng Merapi," ujar Mas Asih, Sabtu (6/4/2019).

Di petilasan kediaman Mbah Maridjan juga digelar beberapa kegiatan. Di antaranya gelar budaya dan prosesi wilujengan serta pentas wayang kulit semalam suntuk. Hingga kemudian pada Minggu (7/4/2019) akan dilakukan prosesi Labuhan Merapi dan pembagian sedekah labuhan di Sri Manganti.

"Labuhan digelar sebagai wujud syukur dan memohon kepada Allah supaya selalu diberi kesehatan, keselamatan, dijauhi dari bala,” ucap Mas Asih.

Abdi dalam Keraton Yogyakarta, KRT Widyo Bayu Kusumo yang hadir menyerahkan uborampe mengatakan, secara umum prosesi labuhan tidak ada perubahan, tetap sama dengan tahun sebelumnya dengan berpedoman pada pakemnya.

Namun, labuhan yang dilaksanakan tahun ini adalah labuhan alit, berbeda dengan tahun lalu, yakni Labuhan Ageng yang digelar setiap delapan tahun sekali atau bertepatan dengan tahun Dal penanggalan Jawa.

"Selain itu juga sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dan leluruh, yang telah menjaga Gunung Merapi, sehingga terjalin komunikasi dan hormanisasi," kata KRT Widyo Bayu Kusumo.

Sekedar informasi, Labuhan Merapi dilaksanakan untuk memperingati tingalan jumenengandalem atau ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan HB X, selain di Gunung Merapi, labuhan juga dilaksanakan di Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu.