Cheng Beng Sebagai Momen Menghormati Leluhur

Koko Cici Jogja, Ako Amoi, Hoo Hap Hwee melakukan tradisi Cheng Beng, Minggu (7/4). - Ist
13 April 2019 09:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Festival Qingming atau Cheng Beng yang merupakan ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai ajaran Khong Hu Cu terus coba dilestarikan, termasuk di DIY.

Matahari belum terlalu tinggi, Minggu (7/4) pagi itu, tetapi puluhan pemuda-pemudi keturunan Tionghoa dengan mengenakan baju putih nampak sibuk dengan berbagai peralatan kebersihan dan alat membersihkan semak belukar, sabit, cangkul dan peralatan lainnya.

Puluhan, bahkan ratusan batu nisan warga keturunan Tionghoa berjejer, ada yang berada di pinggir jalan yang semakin terasa sempit dengan penuhnya pemakaman ada yang berada sedikit di atas yang dapat dijangkau melewati jalan setapak dan tangga-tangga kecil yang disiapkan.

Beberapa nisan dengan ukuran yang besar khas warga Tionghoa dengan bongpay (papan nisan) bertuliskan nama mendiang dan informasi lain tentang mendiang. Beberapa nampak ada persembahan di meja makam.

Namun, kondisi tersebut tidak terjadi di seluruh makam. Tidak seluruhnya bersih, bukan persembahan untuk mendiang, tetapi semak belukar, bahkan pepohonan yang memenuhi sejumlah makam. Bahkan ada yang mulai rusak, yang seakan tidak ada sanak keluarga yang merawatnya lagi.

Hari itu memang tidak seperti hari-hari biasa di pemakaman Gunung Sempu, Kasihan, Bantul. Pemuda-pemudi keturunan Tionghoa mulai melihat satu persatu makam yang mulai terlihat tidak terawat, dengan semangat mereka mulai membersihkan makam yang tidak terawat.

Tidak hanya membersihkan makam biasa. Pemuda-pemudi keturunan Tionghoa itu, tengah meneruskan tradisi dari para pendahulunya yaitu Cheng Beng.

Tradisi Cheng Beng dimulai oleh pendiri Dinasti Ming yaitu Zhu Yuan Zhang. Ia yang berasal dari keluarga miskin memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan Sorban Merah, yang merupakan sebuah kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan (Mongol). Karena kecakapannya ia dengan mudah mendapat posisi penting, hingga akhirnya menjadi kaisar.

Setelah menjadi kaisar, ia kembali ke desa dan mendapati kedua orang tuanya sudah meninggal dan tidak tahu keberadaan makam mereka. Maka dari itu kaisar memerintahkan rakyatnya untuk berziarah dan menaruh tanda berupa kertas kuning di makam yang sudah dibersihkan. Kaisar pun melakukan ziarah ke makam dan berasumsi bahwa makam yang tidak dibersihkan dan tidak diberi tanda merupakan makam keluarga, sanak sodara dan leluhurnya. Hingga sekarang tradisi ini masih berjalan setiap tahun dan disebut Cheng Beng.

Itulah yang kemudian mendasari penggunaan kertas perak/kertas kuning sebagai penanda diatas kubur, yang kemudian dijadikan tradisi setiap tahunnya dalam memperingati Cheng Beng. Oleh karenanya setiap ziarah kubur biasanya warga keturunan Tionghoa membakar gincua dan kimcua.

“Kami melaksakan Cheng Beng ini dengan membersihkan makam yang tidak terawat dan mengirim doa. Cheng Beng ini kan intinya sebagai penghormatan pada leluhur. Harapannya generasi muda seperti kami dapat melestarikan,” ucap Humas Koko Cici Jogja 2019, Angellita Nathania, kepada Harian Jogja, Minggu (7/4).

Setidaknya 20-an makam yang tidak terawat pagi itu dibersihkan oleh mereka dengan peralatan yang ada, rerumputan mulai dicabuti. Setidaknya 25 orang menyelesaikan pembersihan makam itu selama tiga jam. Tidak lupa satu persatu mulai menaburkan bunga di pemakaman yang mulai tidak terawat. Doa terbaik dipanjatkan untuk mendoakan.

 Tak Paham

Pelaksana pemakaman di Gunung Sempu, Pariman mengatakan saat ini tidak banyak lagi yang memahami aturan-aturan tentang pemakaman. Pengalaman dari 1990-an, ia mulai belajar tentang fengsui dan hong sui, untuk menentukan ukuran setiap makam.

Tidak hanya saat masih hidup warga keturunan Tionghoa juga mempercayai perhitungan-perhitungan tertentu yang dipercaya dapat memberi berkah tersendiri. Hal tersebut biasa disebut fengsui yaitu ilmu topografi kuno dari Tiongkok yang memercayai bagaimana manusia dan surga (astronomi), serta bumi (geografi) dapat hidup dalam harmoni untuk membantu memperbaiki kehidupan dengan menerima Qi positif. Qi terdapat di alam sebagai energi yang tidak terlihat. Qi dialirkan oleh angin dan berhenti ketika bertemu dengan air.

Qi baik, disebut juga dengan istilah napas kosmik naga. Jenis Qi ini dipercaya sebagai pembawa rezeki dan nasib baik. Namun, ada pula Qi buruk yang disebut Sha Qi, yang dipercaya sebagai pembawa nasib buruk.

“Saat ini banyak yang tidak paham itu, padahal ada ukuran-ukuran, ada meterannya itu kan ada yang berwarna hitam ada yang merah. Harus di warna merah itu jatuhnya. Kurang dari 20 persen yang paham itu, tetapi saya mencoba mengingatkan,” ucapnya.

Jika ukuran tersebut tidak tetap dipercaya dapat memberi pengaruh yang buruk pada keluarga yang masih hidup. Contoh pada panjang 20 sentimeter, berbunyi fu-kui atau kaya raya, bukan yang sudah mati (dalam makam) akan menjadi kaya raya. Tetapi anak cucunya yang masih hidup akan terpengaruh jadi kaya raya, atau lebih kaya lagi, angka yang baik ini menunjukan angka merah. Lalu contoh lainnya yang menunjukkan hal yang buruk menunjukan warna hitam, contohnya pada angka 7 she chie atau Keturunan mati satu persatu sampai tidak punya keturunan.

Alasan lain banyak warga keturunan Tionghoa yang tidak memakamkan lantaran biaya yang dibutuhkan cukup tinggi, termasuk perawatannya. Akhirnya sejumlah makam tidak terawat, lantaran ditinggal keluarganya. Hingga memilih membakar jasad orang yang meninggal dan melarung di laut lepas.