Ini Kisah Warga di Sleman Antre Sejak Pagi Namun hingga Sore Tak Bisa Mencoblos…

Suasana TPS di Pringwulung, Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (17/4/2019). - Ist/Dok. Aprilia.
17 April 2019 17:47 WIB Kusnul Isti Qomah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Jalannya pemilihan umum di sejumlah daerah di Sleman tidak bisa mulus lantaran banyak warga dan mahasiswa yang tidak bisa memanfaatkan hak pilihnya. Bahkan, hingga pukul 15.00 WIB ada warga yang terdaftar sebagai DPT tetapi belum mendapatkan surat suara.

Kekecewaan itu diungkapkan salah satu pemilih Aprilia di salah satu TPS di Pringwulung, Condongcatur, Sleman. Hingga pukul 15.00 WIB ia belum mendapatkan surat suara padahal sudah mengantre sejak pagi. "Katanya surat suaranya habis dan harus nunggu kiriman dari Berbah," kata dia, Rabu (17/4/2019).

Aprilia mengaku kecewa karena ada ketidakjelasan alur dan sistem dalam pemilihan kali ini. Ia mengaku sudah mendaftar ke dukuh setempat, Dabag, Pringwulung. Ia sudah menyerahkan fotokopi KTP dan KK, tetapi tidak mendapatkan formulir C6. Oleh kepada dukuh, ia diminta langsung datang ke TPS.

"Pagi-pagi aku datang ke dua TPS dan ditolak karena tidak bawa C6. Aku disuruh datang yang pukul 12.00 WIB. Saya sudah datang dari pukul 11.30 WIB dibilang menunggu kiriman surat suara dari Berbah," ujar dia.

Aprilia pun menelepon kepala dukuh dan mendapatkan informasi jika didaftarkan di Kelurahan Condongcatur. Namun, ia heran kenapa ia malah diarahkan ke TPS di Pringwulung.

Ia mengatakan, ada 50-an warga yang gagal menggunakan hak pilihnya dan memutuskan untuk pulang. Namun, ia dan belasan orang lainnya memutuskan bertahan dan menunggu kiriman surat suara. Kemudian setelah pukul 15.00 WIB ia, ibunya, dan satu orang warga lainnya baru mendapatkan surat suara.

"Kecewa berat dengan sistem kali ini. Bisa-bisanya warga DPT enggak dapat C6 dan malah disuruh antre di TPS seperti DPK. Ini kan juga secara enggak langsung memaksa orang golput," terang dia.

Kekecewaan juga diungkapkan Dewi, salah satu mahasiswa yang tinggal di daerah Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman. Mahasiswi asal Riau ini mengaku tidak bisa mengurus formulir A5 karena dinilai tidak seusai dengan kriteria yang bisa mengurus formulir tersebut.

Dewi kemudian memutuskan untuk menunggu hari Pemilu tiba untuk memanfaatkan e-KTP yang dimiliki. Ia pun menuju TPS terdekat dari tempat tinggalnya, tetapi diarahkan oleh petugas TPS ke Kelurahan Caturtunggal bersama puluhan mahasiswa dan warga yang memiliki persoalan serupa. Namun, setibanya di kelurahan, ia juga tidak mendapatkan solusi apapun. Ia mengaku kecewa tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

"Ada teman saya yang bisa menggunakan e-TKP saja, tetapi kenapa ini ada juga yang enggak bisa. Banyak kabar-kabar yang membingungkan. Ini sama saja kita dipaksa untuk golput," jelas dia.