78 Titik Blankspot Internet Tersebar di Gunungkidul, Ini Lokasinya
Sebanyak 78 titik blankspot internet ditemukan di Gunungkidul. Diskominfo menyiapkan perluasan jaringan telekomunikasi pada 2028.
Jumadi, seorang sopir truk tangki pengangkut air menyalurkan air bersih ke rumah warga di Dusun Karangtengah, Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari, Rabu (24/4/2019)./Harian Jogja- David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Intensitas hujan yang mulai menurun membuat warga di Kecamatan Purwosari kesulitan mendapatkan air bersih. Guna mengatasi masalah ini, warga mulai membeli air dari tangki air swasta dengan harga Rp150.000 per tangki.
Salah satu wilayah yang mulai kesulitan air bersih yakni Dusun Karangtengah, Desa Giricahyo. Sejak beberapa pekan lalu hujan sudah tidak turun sehingga stok air di bak penampungan mulai menipis. Air hujan di bak penampungan digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci hingga kebutuhan untuk memasak.
Salah seorang warga Dusun Karangtengah, Sukiyem, mengatakan air di bak penampungan milikinya sudah habis karena hujan tak lagi turun. Untuk mencukupi kebutuhan, dia membeli air dari truk tangki swasta yang beroperasi khususnya saat musim kemarau. “Saya harus beli air karena cadangan air di bak penampungan sudah habis,” kata Sukiyem kepada Harian Jogja, Rabu (24/4/2019).
Menurut dia, warga terbiasa membeli air karena minimnya sumber di wilayahnya. Untuk harga sangat tergantung dengan jarak dan medan yang dilalui. Apabila lokasi pembeli berada di pinggir jalan biasanya dipatok Rp130.000 per tangki. “Semakin jauh dan medan yang dilalui sulit maka harganya semakin mahal,” katanya.
Sukiyem menuturkan air yang dibeli digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dia harus berhemat karena satu tangki hanya cukup untuk kebutuhan selama 20 hari. “Harus dihemat agar tidak cepat habis. Jika boros, maka biaya yang dikeluarkan semakin besar,” tuturnya.
Hal tak jauh berbeda diungkap Sukardiyono, warga lain di Desa Giricahyo. Menurut dia hujan yang tak lagi turun membuat warga kehabisan stok air bersih. “Saat musim hujan kami menampung air di bak penampungan, tapi karena sudah lama tak turun hujan, maka stok kian menipis,” katanya.
Dia mengakui kondisi saat ini masih terhitung normal karena warga masih ada yang memiliki stok air di bak penampungan. Namun saat memasuki puncak kemarau, intensitas warga membeli air semakin meningkat. “Ini baru awal. Nanti saat kemarau warga yang membeli air semakin banyak,” katanya.
Salah seorang sopir truk tangki pengangkut air, Jumadi, mengakui sejak awal April dia mulai kebanjiran order mengirim air bersih. Menurutnya, hujan yang sudah jarang turun membuat cadangan air milik warga habis. “Sekarang sudah ramai warga yang membeli air. Saya tidak bisa melayani semua karena sehari maksimal hanya bisa mengirim lima kali,” katanya.
Jumadi menuturkan untuk harga tergantung dengan jarak dan medan yang dilalui. “Rata-rata saya jual Rp150.000 per tangki. Tapi kalau jaraknya jauh dan medan sulit, maka harganya bisa lebih mahal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 78 titik blankspot internet ditemukan di Gunungkidul. Diskominfo menyiapkan perluasan jaringan telekomunikasi pada 2028.
RAPBD DIY 2027 mengalokasikan 40,14% belanja untuk pendidikan. DPRD menyoroti penurunan bantuan keuangan hingga 33,65%.
Pengacara Irjen Ahrie Sonta memastikan kliennya kooperatif dalam kasus dugaan penyadapan Presiden yang turut menyeret eks Kapolri Listyo Sigit.
Demo di Prancis menuntut kenaikan upah dan menolak biaya hidup tinggi. Sebanyak 448 orang ditangkap dan 53 polisi terluka.
Rakernas SPS 2026 menghasilkan enam rekomendasi strategis, termasuk penetapan Lampung sebagai tuan rumah Kongres SPS pada Juni 2027.
BPS DIY mencatat pekerja informal mencapai 55,14% pada Agustus 2026, naik 1,17 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.