Tabrakan Beruntun Depan Terminal Dhaksinarga, Satu Tewas
Kecelakaan beruntun melibatkan tiga sepeda motor dan satu mobil di depan Terminal Dhaksinarga Wonosari menewaskan seorang pemotor berusia 18 tahun.
Jumadi, seorang sopir truk tangki pengangkut air menyalurkan air bersih ke rumah warga di Dusun Karangtengah, Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari, Rabu (24/4/2019)./Harian Jogja- David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Intensitas hujan yang mulai menurun membuat warga di Kecamatan Purwosari kesulitan mendapatkan air bersih. Guna mengatasi masalah ini, warga mulai membeli air dari tangki air swasta dengan harga Rp150.000 per tangki.
Salah satu wilayah yang mulai kesulitan air bersih yakni Dusun Karangtengah, Desa Giricahyo. Sejak beberapa pekan lalu hujan sudah tidak turun sehingga stok air di bak penampungan mulai menipis. Air hujan di bak penampungan digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci hingga kebutuhan untuk memasak.
Salah seorang warga Dusun Karangtengah, Sukiyem, mengatakan air di bak penampungan milikinya sudah habis karena hujan tak lagi turun. Untuk mencukupi kebutuhan, dia membeli air dari truk tangki swasta yang beroperasi khususnya saat musim kemarau. “Saya harus beli air karena cadangan air di bak penampungan sudah habis,” kata Sukiyem kepada Harian Jogja, Rabu (24/4/2019).
Menurut dia, warga terbiasa membeli air karena minimnya sumber di wilayahnya. Untuk harga sangat tergantung dengan jarak dan medan yang dilalui. Apabila lokasi pembeli berada di pinggir jalan biasanya dipatok Rp130.000 per tangki. “Semakin jauh dan medan yang dilalui sulit maka harganya semakin mahal,” katanya.
Sukiyem menuturkan air yang dibeli digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dia harus berhemat karena satu tangki hanya cukup untuk kebutuhan selama 20 hari. “Harus dihemat agar tidak cepat habis. Jika boros, maka biaya yang dikeluarkan semakin besar,” tuturnya.
Hal tak jauh berbeda diungkap Sukardiyono, warga lain di Desa Giricahyo. Menurut dia hujan yang tak lagi turun membuat warga kehabisan stok air bersih. “Saat musim hujan kami menampung air di bak penampungan, tapi karena sudah lama tak turun hujan, maka stok kian menipis,” katanya.
Dia mengakui kondisi saat ini masih terhitung normal karena warga masih ada yang memiliki stok air di bak penampungan. Namun saat memasuki puncak kemarau, intensitas warga membeli air semakin meningkat. “Ini baru awal. Nanti saat kemarau warga yang membeli air semakin banyak,” katanya.
Salah seorang sopir truk tangki pengangkut air, Jumadi, mengakui sejak awal April dia mulai kebanjiran order mengirim air bersih. Menurutnya, hujan yang sudah jarang turun membuat cadangan air milik warga habis. “Sekarang sudah ramai warga yang membeli air. Saya tidak bisa melayani semua karena sehari maksimal hanya bisa mengirim lima kali,” katanya.
Jumadi menuturkan untuk harga tergantung dengan jarak dan medan yang dilalui. “Rata-rata saya jual Rp150.000 per tangki. Tapi kalau jaraknya jauh dan medan sulit, maka harganya bisa lebih mahal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kecelakaan beruntun melibatkan tiga sepeda motor dan satu mobil di depan Terminal Dhaksinarga Wonosari menewaskan seorang pemotor berusia 18 tahun.
Film dokumenter Jalan Pulih terkurasi di Djourno Fest 2026. Karya ini mengangkat perjuangan perempuan dengan disabilitas psikososial dan makna pemulihan.
Dewan Pendidikan DIY menyoroti dugaan ketidaksetaraan fasilitas belajar siswa non muslim di SMA Negeri dan meminta seluruh sekolah memenuhi hak belajar setara.
Destry Damayanti ditunjuk sebagai Gubernur sementara BI. LHKPN mencatat total harta kekayaannya mencapai lebih dari Rp100,236 miliar.
Bareskrim Polri menangkap AKP Pardiman dan lima anggota Polres Tangsel terkait dugaan narkoba. Polri menegaskan tidak ada impunitas.
Rupiah ditutup melemah ke Rp18.009 per dolar AS setelah Perry Warjiyo mundur. Pasar menyoroti sentimen geopolitik dan risiko fiskal.