Wisuda Siswanya, Ini Dia yang Ditekankan oleh SD Intis

Penampilan pelajar SD Intis School dalam drama berjudul Kolak Kiko yang mereka pentaskan saat Farewell Party '19, Minggu (26/5/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
26 Mei 2019 17:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 43 pelajar SD Internasional Islamic (Intis) School diwisuda, di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu (26/5/2019). Para lulusan diharapkan bisa tetap memegang nilai-nilai Islam dalam mengarungi pendidikan barunya kelak.

Kepala SD Intis, Moh Muadin, mengatakan yang lebih penting dari prestasi akademik adalah anak-anak tetap berpegang teguh dalam agama. "Yang lebih utama adalah akhlaknya, salat, puasa bisa dilaksanakan secara maksimal," kata dia.

Selepasdari SD Intis, para siswa akan memasuki dunia pendidikan baru dengan jenis sekolah yang berbeda-beda dan latar belakang murid yang beragam pula. Untuk itu dia berharap agar mereka tetap bisa menjaga apa yang menjadi nilai dasar SD Intis, yakni agama.

Selain seremoni wisuda, dalam acara tersebut panitia juga melibatkan seluruh pelajar SD Intis untuk mementaskan drama yang berjudul Kolak Kiko. Drama ini menceritakan asal usul kolak, salah satu makanan khas Indonesia dengan rasa manis yang banyak dijumpai di bulan Ramadan.

Dalam pentas itu, dikisahkan kolak berasal dari kata khalik, yang merujuk pada Sang Pencipta Langit dan Bumi. Filosofi kolak tertuang dalam bahan pembuat kolak seperti ubi dan pisang sebagai penggambaran bahwa manusia harus mengubur kesalahan dengan bertobat dan berusaha untuk jadi yang lebih baik.

Drama tentang kolak ini diperankan oleh seluruh murid SD intis. Adin, sapaan akrab Muh. Miadin, mengaku ingin menjadikan wisuda tersebut sebagai ajang kreativitas para murid untuk berani tampil di panggung.

Selain pertunjukan, SD Intis juga mengalokasikan 10% dana yang terkumpul untuk donasi korban perang di Suriah. Adin menjelaskan donasi seperti itu sudah rutin dilakukan sekolah bekerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT). "Tidak hanya Suriah, sebelumnya Palestina juga pernah, termasuk untuk bantuan dalam negeri," kata dia.

Dalam mendidik murid-muridnya, SD Intis kata dia, memiliki dua poin penekanan, yakni Alquran dan bilingual. Dalam poin Alquran, para murid dididik untuk bisa membaca, hafal serta menerapkan kandungan Al-Quran. Sementara dalam poin bilingual, para murid diajarkan untuk bisa menguasai bahasa Indonesia dan Inggris.

Koordinator Wilayah (Korwil) PAUD dan SD Jogja Timur, Dinas Pendidikan Kota Jogja, Sugeng Santosa, mengatakan SD merupakan sarana pembangunan karakter fase awal. Dia berharap 15 tahun lagi pelajar SD Intis bisa mewarnai pembangunan dan kemajuan bangsa.

Dia menuturkan ada lima fase dalam pendidikan karakter, yakni religiusitas, nasionalisme, gotong royong, integritas dan mandiri. "Jadi sudah tepat kalau SD Intis menekankan pendidikannya pada nilai-nilai agama," ucap dia.