Banyak Penjual Ternak di Kulonprogo Belum Memiliki SKKH

Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja memeriksa struktur gigi pada hewan kambing di lapak yang dikelola oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), Jogja, Rabu (31/7). - Harian Jogja/ Gigih M. Hanafi
07 Agustus 2019 04:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Pemkab Kulonprogo sudah menggencarkan pemeriksaan pada hewan kurban sejak akhir Juli lalu. Meskipun belum semua titik terperiksa, namun hasil sementara, masih banyak penjual hewan kurban yang belum mempunyai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonpogo, Drajat Purbadi mengatakan, sebelum pelaksanaan Iduladha, pihaknya gencar melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di titik-titik penjualan. 

Pemeriksaan hewan kurban sudah dilakukan sebanyak sembilan kali di sembilan kecamatan. "Jumlahnya sudah 30 titik. Kurang tiga kecamatan lagi di 15 titik," ujar Drajat pada Selasa (6/8/2019).

Hasil dari pemeriksaan fisik sementara, mayoritas hewan kurban yang diperiksa dinyatakan sehat. Namun, ia mengatakan, masih banyak penjual hewan kurban yang belum memiliki SKKH. "Sampai saat ini ada 17 penjual yang belum memiliki SKKH," ujar Drajat.

Pada penjual yang belum memiliki SKKH pihaknya melakukan pengecekan kesehatan hewan kurban dengan teliti. Pihaknya hanya menyarankan pada penjual yang belum memiliki SKKH agar ke depannya, penjual di Kulonprogo meminta SKKH pada penyuplai dari luar daerah.

Sementara, dari hasil pemeriksaannya, ditemukan tiga ekor hewan kurban yang menderita diare. Menurutnya ketiga hewan kurban tersebut menderita diare karena pergantian pangan. "Diare biasanya karena adaptasi dengan pola pakan baru. Tapi 3 sampai 7 hari juga bisa sembuh," ucap Drajat.

Selain pemeriksaan sebelum pelaksanaan Iduladha, pihaknya juga akan melakukan pemantauan saat penyembelihan hewan kurban nanti. Kader yang akan memantau penyembelihan, sudah diberikan pelatihan. Sampai saat ini pelatihan sudah dilakukan dua kali.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Rumah Pemotongan Hewan (UPT RPH) Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Joko Purwoko mengatakan faktor kebersihan harus diperhatikan saat penyembelihan hewan kurban untuk mencegah munculnya penyakit-penyakit pada daging yang akan dikonsumsi.

"Titik kritis yang harus diperhatikan mulai dari penampungan hewan, proses penyembelihan, sampai diprosesnya daging dan pemisahan jerohan," ujar Joko.

Ia mengimbau agar masyarakat memperhatikan kebersihan di tempat penyembelihan. Berbagai sarana harus dipersiapkan seperti sanitasi dari limbah kurban, air bersih yang cukup, pencucian jerohan, juga tempat bagi lubang darah dan rumen.

"Sampai pakaian yang digunakan oleh panitia pemotongan hewan pun diupayakan harus bersih," ungkap Joko.

Menjelang Iduladha permintaan dan harga hewan kurban meningkat. Salah satu penjual sapi di Pasar Hewan Pengasih, Hadiwiyono mengaku harga sapi yang ia jual sebelumnya berkisar Rp18 juta. "Naik Rp2 jutaan. Bisa jadi Rp20 juta satu ekor sapinya," ungkap Hadi.

Sementara, ia memperkirakan, sampai Iduladha nanti, sapi yang ia jual akan laku sampai 30 ekor. Stok sapi ia datangkan dari peternak lokal dan juga luar Kulonprogo, seperti dari Kebumen dan Gunungkidul.