Berkat Mikrohidro, Satu Dusun di Kulonprogo Bebas dari Ancaman Byarpet

PLTMH Kedungrong, Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kamis (15/8/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
15 Agustus 2019 15:57 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) punya potensi besar dikembangkan di Kulonprogo. Saat ini sudah ada tiga PLTMH di kabupaten ini dan masih ada lokasi potensial lainnya untuk membangun energi terbarukan. Dusun yang memakai mikrohiodro sudah terbebas dari kecemasan karena ancaman byarpet.

Tiga PLTMH di Kulonprogo berada di sepanjang Daerah Irigasi Kalibawang. Pertama di Dusun Jurang, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang; kedua di Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigalu; , dan ketiga di Dusun Semawung, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang.

Ahli dari Komunitas Mikrohidro Terpadu Indonesia (KMTI) yang juga dosen Program Studi Energi Institut Teknologi Yogyakarta Masrur Alatas sepanjang daerah irigasi Kalibawang berpotensi dijadikan PLTMH. “Ada tujuh titik potensial, yang sudah dimanfaatkan baru tiga,” ujarnya pada Kamis (15/8/2019).

Mikrohidro merupakan pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai penggeraknya seperti, saluran irigasi, sungai atau air terjun. Mikrohidro menjadi energi yang potensial untuk dikembangkan mengingat semakin menipisnya cadangan energi yang bersumber dari fosil. Dengan debit air yang cukup, PLTMH bisa dipakai sebagai energi terbarukan yang juga ramah lingkungan.

“Selain menghasilkan listrik, juga ramah lingkungan. Tidak ada keluar asap seperti di batu bara. Kalau batu bara lama-lama udara jadi kotor, ini [mikrohidro] bersih, terus jadi listrik. Ini yang diharapkan dunia tidak hanya Indonesia atau Kulonprogo,” ucap Masrur.

Menurut dia, energi fosil atau batu bara pemakaiannya terbatas jangka waktu. “Batubara diperkirakan tinggal 98 tahun lagi, dua generasi lagi akan habis. Terus kita harus cari apa lagi yang menghasilkan listrik? Salah satunya ya dari mikrohidro,” ucap Masrur.

Guna mengembangkan mikrohidro, menurutnya harus ada peran dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, sampai dari masyarakat. Di DIY banyak mikrohidro yang sudah dibangun, tetapi karena pengelolaanya tidak begitu baik, usia penggunaannya hanya sebentar. “Maka, untuk bisa bertahan lama, perlu adanya penguatan komunitas mikrohidro,” kata Masrur.

Di Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, warga sudah memanfaatkan PLTMH dari 2012. Bahkan, kini masyarakat tidak hanya bergantung pada pasokan listrik PLN. Masyarakat pun bisa menghemat listriknya dengan mengandalkan aliran listrik dari PLTMH.

Warga memanfaatkan derasnya air sudetan dari Sungai Progo untuk menggerakkan turbin.

“Sekarang dari mikrohidro sudah bisa dipakai untuk sekitar 30 rumah. Energi listriknya sekitar 30 kilowatt,” ungkap Warga Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Rejo Handoyo yang juga menjadi teknisi PLTMH Kedungrong.

Meskipun sumber listrik dari PLN masih tetap dipakai, PLTMH membuat warga kini mempunyai dua aliran listrik. Apabila aliran listrik dari PLN mati, maka bisa mengandalkan PLTMH.

“Bisa dihemat juga jadinya. Kalau saya, buat di rumah pompa air, kadang juga televisi, itu pakai PLTMH,” kata Rejo. Beberapa alat elektronik memang belum bisa mengandalkan listrik dari PLTMH karena alat yang belum stabil.

Rejo mengatakan, debit air dari Sungai Progo tersebut cukup besar untuk diandalkan sebagai PLTMH. “Kalau musim kemarau seperti sekarang ini paling bisa sampai 4.500 liter per detik, sedangkan kalau musim hujan bisa sampai 8.000,” tutur Rejo.

Etty Susilowati, Direktur Utama Jasa Tirta Energi, BUMN yang bergerak di bidang pengembangan energi terbarukan, mengatakan potensi cakupan energi yang bisa menghasilkan listrik di Kulonprogo bisa dikembangkan. Bahkan, menurutnya energi dari PLTMH apabila dimaksimalkan semuanya bisa mencapai 700 kilowatt.

Selain dengan debit air yang besar, potensi itu perlu didukung oleh kemampuan masyarakat dalam mengelolanya. “Kalau pengelolaannya baik akan berlangsung lama. PLTM di tempat lain hanya berumur satu dua tahun. Tidak ada kesadaran masyarakat. Tidak ada peran serta seperti untuk kelestarian hutan, karena itu akan memengaruhi debit air ke PLTMH. Di Kulonprogo ini salah satunya di Dusun Kedungrong, sangat sadar betul akan PLTMH,” tutur Etty.