Proyek Padat Karya Senilai Rp10 Miliar di Bantul Dua Kali Gagal Dilelang

Ilustrasi proyek pemerintah - JIBI
30 Agustus 2019 18:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Lelang proyek pengadaan bahan material untuk pekerjaan program padat karya senilai lebih dari Rp10 miliar sudah dua kali gagal lelang. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul mewanti-wanti agar lelang ketiga kalinya tidak gagal karena waktu pengerjaan semakim mepet dam dikhawatirkan justeru nantinya pekerjaan tidak selesai.

Anggota DPRD Bantul, Sigit Nursyam Priyanto mengatakan program padat karya merupakan program fisik usulan masyarakar langsung. Program perbaikan dan pembangunan jalan seperti jalan cor blok, talut, dan irigasi sangat dibutuhkan.

"Kalau sampai gagal kasihan masyarakat. Padat karya itu sangat dibutuhkan masyarakat," kata Sigit, saat dihubungi Jumat (30/8/2019). Senada, Anggota DPRD lainnya, Paidi juga meminta Pemerintah Kabupaten Bantul mengkaji ulang proses lelang yang menyebabkan program padat karya dua kali gagal lelang.

Paidi mengatakan pada 12 Agustus lalu saat masih menjabat sebagai ketua Komisi D pihknya sempat memanggil Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dianakertrans) Bantul sebagai penanggung jawab program padat karya. Dalam rapat tersebut gagal lelang program padat karya lebih disebabkan karena faktor teknis, salah satunya spesifikasi perusahaan yang mengajukan penawaran tidak sesuai.

Saat lelang kedua ada 28 perusahaam yang mengajukan penawaran dan dua di antaranya lolos seleksi. Namum dalam seleksi ulang dua perusahaan tersebut tidak mampu menuhi persyaratan, salah satunya selain harus menyediakan bahan material bangunan, pemenang lelang juga harus menyediakan sopir, tukang bongkar muat, dan 20 truk.

Politikus Partai Golkar ini tidak ingin lebih jauh menyoroti soal persyaratan teknis. Namun ia berharap dua kali gagal lelang harua menjadi pembelajaran untuk perbaikan agar tidak terulang di lelang berikutnya. "Sekarang sudah akhir Agustus tinggal empat bulan lagi karena waktu bosa tidak cukup untuk pengerjaan fisik. Pemkab harus memgambil langlah-langkah," kata Paidi.

Menurut dia ada 193 titik program padat karya yang tiap titiknya kisaran Rp100 juta. Namun pengadaan bahan materialnya menjadi satu kesatuan. Paidi mengatakan jika lelang kembali gagal, maka jalan keluar bisa melalui penunjukan langsung dengan pemecahan proyek. Namun penunjukan langsung, kata dia, rawan penyelewengan sehingga regulasinya perlu dikaji ulang agar tidak terjerumua pada persoalan hukum.

Kepala Disnakertrans Bantul, Sulistiyanto mengatakan instansinya hanya pemilik program sementara persoalan lelang menjadi kewenangan layanan pengadan barang dan jasa. Ia membenarkan ada 193 paket proyek padat karya. Proyek tersebut pengadaan materialnya menjadi satu yang saat ini masih proses lelang.

"Kalau kami tidak tahu dikatakan gagal lelang atau tidak karena masih proses. Kegiatan bosa jalan kalau sudah ada pemenangnya, sekarang kan belum," kata Suliatiyanto.

Sementara itu Kepala Bagian Layanan Pengadaan Barang, Sekretariat Daerah Bantul, Budi Sarjono mengatakan proyek padat karya dua kali gagal karena ada persyaratan yang belum terpebuhi. Ia tidak menyebut detail syaray teknis. "Sekarang sudah masuk proses lelang ketiga," kata Budi.

Dari pantauan di laman LPSE Bantul, proyek lelang pengadaan material untuk program padat karya anggarannya sekitar Rp10,3 miliar. Proyek tersebut saat ini sudah masuk lelang dan masuk tahapan evaluasi administrasi, kualifikasi teknis dan harga. Ada 33 perusahaan yang memasukkan dokumen dalam penawaran proyek tersebut.