Warga Desa di Bantul Kembangkan Pasar Kuliner Tanpa Kantong Plastik

Pengunjung jajan di Pasar Jolontoro, Desa Karangkulon, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, Minggu (22/9/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
23 September 2019 06:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Warga Karangkulon,  Desa Wukirsari,  Kecamatan Imogiri,  Bantul,  mengubah kawasan bendungan sungai menjadi pusat jajanan atau pasar kuliner yang unik dan menarik. Pasar yang diberi nama Jolontoro tersebut menerapkan sistem transaksi dengan koin yang terbuat dari potongan bambu dan semua ungkus produk makanan terbuat dari bahan nonplastik.

Kantong plastik atau kresek akan digantikan dengan kantong yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah disediakan di sekitar pasar. Tempat minuman juga tidak ada yang terbuat dari botol plastik, semua menggunakan gelas kaca yang bisa digunakan kembali, gelas batok atau tempurung kelapa, dan sedotan terbuat dari bambu.

“Konsepnya memang untuk mengurangi penggunaan yang berbahan plastik,” kata Sunhaji, penggagas Pasar Jolontoro, disela-sela pembukaan Pasar Jolontoro oleh Bupati Bantul Suharsono, Minggu (22/9/2019).

Selain Bupati Bantu, pejabat yang hadir dalam pembukaan pasar tersebut di antaranya adalah Camat Imogiri Sri Kayatun dan anggota DPRD Bantul Yasmuri.

Sunhaji mengatakan ide menggelar Pasar Jolontoro sebenarnya sudah sejak tiga tahun lalu, namun baru terealisasi sekarang karena harus menunggu kesiapan dari masyarakat. Pasar tersebut diakuinya murni atas inisiatif dari masyarakat tanpa melibatkan pemerintah.

Total ada 48 pedagang dan semuanya warga sekitar Dusun Karangkulon. Produk yang dijual hampir semua adalah kuliner khas warga setempat, di antaranya getuk, bakmi, tiwul, gudeg manggar, gudeg kembang pisang.  Selain itu juga ada sayuran dan buah-buahan juga hasil dari panen warga setempat.

Pasar itu memanfaatkan lahan pinggir sungai di bendungan Jolontoro yang dipenuhi rumpun bambung. Beberapa rumpun bambu yang tadinya gelap disulap sedemikian rupa menjadi nyaman untuk pengunjung berteduh. Sayangnya pasar tersebut hanya buka setiap 35 sekali atau selapanan dalam penanggalan jawa tepatnya Minggu Kliwon. “Sementara setiap selapan sekali, tapi tidak menutup kemungkinan nanti bisa tiap minggu,” ujar Sunhaji.

Camat Imogiri Sri Kayatun mengatakan kehadiran Pasar Jolontoro melengkapi pasar Sor Jati du Dusun Cengkehan, Giriloyo, Imogiri yang sudah lebih dulu hadir dengan konsep hampir sama, yakni bernuansa tradisional sekaligus mengkampanyekan pengurangan sampah plastik. Selain itu lokasinya yang berada di pinggir sungai juga dapat menjaga kebersihan sungai agar bebas dari sampah.

“Ini bisa melengkapi karena Pasar Sor Jati buka tiap Minggu Legi dan pasar Jolontoro ini buka tiap Minggu Kliwon,” kata Sri Kayatun.

Bupati Bantul Suharsono mendukung penuh adanya Pasar Jolontoro. Menurut dia, pasar tersebut dapat menjadi salah satu destinasi wisata yang unik dan menarik bernuansa tradisional. Konsep tersebut diakuinya selaras dengan visi misi Bantul Makaryo Mbangun Deso. Ia meminta pengelola untuk mempertahankan pasar tersebut dan minta pendampingan dinas terkait jika terkendala dalam permodalan.

Kampanye pengurangan kantong pelastik tengah digencarkan oleh sejumlah Pemkab Bantul dan sejumlah komunitas peduli lingkungan. Bahkan Dinas Lingkungan Hidup Bantul segera menerapkan kebijakan larangan penyediaan plastik di toko-toko dan swalayan. Kebijakan tersebut saat ini masih digodok.

Kebijakan pembatasan kantong plastik sebagai upaya pengurangan sampah plastik. DLH Bantul mencatat potensi sampah di Bantul yang dihasilkan dari rumah tangga sebanyak 450 ton per hari. Jumlah tersebut merupakan potensi dengan asumsi setiap warga menghasilkan 0,6 kilogram dalam sehari dikalikan jumlah penduduk Bantul. Sementara sampah yang dibuang DLH Bantul ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan dalam sehari mencapai 80 ton. Sebagian sampah tersebut adalah sampah plastik.