SEKATEN 2019: Catatan Sejarah Sultan Pertama Dipamerkan

Ilustrasi PMPS Sekaten. - Harian Jogja/Desi Suryanto
17 Oktober 2019 18:47 WIB Arief Junianto Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bersamaan dengan pelaksanaan Hajad Dalem Sekaten tahun ini, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menggelar pameran budaya yang bertujuan menguatkan akar tradisi. Pameran itu rencananya digelar di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran dan Kagungan Dalem kompleks Siti Hinggil Kraton pada 1-9 November mendatang.

Wakil Penghageng II KHP Nityo Budaya GKR Bendara mengatakan dalam pameran akan ditampilkan sejumlah koleksi yang berkaitan dengan pendiri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono I. Secara khusus, pameran akan menampilkan berbagai catatan sejarah dan karya Sultan pertama dari Kraton Yogyakarta tersebut.

Selain itu ada pula kegiatan pendukung yang digelar saat pameran. Di antaranya adalah tur kuratorial; pelatihan seni; lomba karawitan; pertunjukan dan perlombaan seni; serta diskusi film budaya. “Pameran akan dibuka untuk umum mulai pukul 09.00 WIB sampai 21.00 WIB. Adapun tiket masuk ke pameran dapat diperoleh di loket pembelian yang berada di sebelah barat Bangsal Pagelaran,” kata dia melalui rilis yang diterima Harianjogja,com, Kamis (17/10/2019).

Penghageng KHP Kridhomardowo Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat KPH Notonegoro mengatakan setiap tahun, tepatnya pada 6-12 Mulud berdasarkan kalender Jawa Sultan Agungan, Kraton menggelar Hajad Dalem Sekaten. Acara itu dibuka dengan prosesi Miyos Gangsa dan ditutup dengan Kondur Gangsa.

Pagi hari berikutnya yang merupakan tanggal lahir Nabi Muhammad SAW dalam perhitungan tahun Jawa, diperingati dengan Hajad Dalem Garebeg Mulud. Tahun ini, Miyos Gangsa, Kondur Gangsa dan Garebeg Mulud akan dilaksanakan pada 1, 9, dan 10 November.

Riwayat Nabi

Tradisi lain selama Sekaten adalah pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Serambi Masjid Gedhe yang akan dihadiri oleh Sri Sultan HB X. Sesaat sebelum dimulainya prosesi Kondur Gangsa, Sultan akan menuju ke halaman Masjid Gedhe untuk menyebar udhik-udhik yang terdiri dari beras, biji-bijian dan uang logam di tiga tempat diawali dari Pagongan Kidul, Pagongan Lor, dan di dalam Masjid Gedhe.

Peristiwa ini merupakan momen yang mempertemukan raja dengan rakyat secara langsung. Selain itu, pada saat mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW, Sri Sultan akan mengenakan simping atau rangkaian bunga di telinga sebagai simbol bahwa raja akan mendengarkan keluhan serta aspirasi rakyat,” kata suami GKR Hayu tersebut.

Luhurnya tradisi beserta makna yang terkandung dalam setiap rangkaian acara yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini akan lebih ditonjolkan melalui pengelolaan acara Sekaten tahun ini. “Ini diharapkan dapat lebih meneguhkan keistimewaan DIY dalam menjadi benteng budaya di tanah Jawa,” ucap dia.