Nelayan Pantai Congot Gagal Panen Ikan Bawal Laut

Sejumlah nelayan tengah menaikkan perahu ke daratan pesisir Pantai Congot, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Kamis (31/10/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
01 November 2019 04:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Beberapa bulan terakhir, nelayan di Pantai Congot, Kecamatan Temon, sedang menghadapi musim ikan bawal laut. Sayangnya, nelayan belum bisa sepenuhnya menikmati hasil tangkapan komoditas tersebut karena terkendala faktor alam.

Faktor alam yang dimaksud yakni tingginya gelombang laut. Salah satu nelayan, Fathoni, 46, mengungkapkan sejak beberapa hari terakhir ketinggian gelombang berkisar 4 hingga 5 meter. Dengan ketinggian itu, Fathoni tidak mau ambil risiko. Kalaupun melaut dia memilih untuk tidak terlalu lama.

"Saya melaut mulai pagi, tapi sebelum siang diusahakan bisa sampai daratan, karena kalau siang gelombang lautnya itu cukup tinggi, daripada kenapa-kenapa mending saya mendarat lebih awal aja," ungkapnya saat ditemui di pesisir Pantai Congot, Kecamatan Temon, Kamis (31/10/2019) pagi.

Tingginya gelombang laut pantai selatan juga membuat sebagian perahu nelayan dipinggirkan. Dari sekitar 10 unit perahu, hanya setengahnya yang dioperasikan.

Sementara, Anwar, 35, rekan Fathoni sesama nelayan mengutarakan hal berbeda. Menurutnya untuk saat ini ketinggian gelombang laut cenderung normal. Tak terlalu tinggi juga tidak rendah. Namun demikian hasil tangkapan bawal laut entah kenapa sedikit, padahal sedang musim ikan tersebut. "Saya juga heran beberapa hari terakhir tangkapannya sangat sedikit, hari ini saja hanya dapat dua ekor," ujarnya.

Dia menduga penyebab tidak optimalnya hasil tangkapan bawal laut karena belum turunnya hujan. Di musim-musim sebelumnya, apalagi ketika hujan mengguyur, tangkapan cukup memuaskan.

Anwar hanya berharap, cuaca bisa segera berubah. Dari kemarau ke penghujan. Agar tangkapan bawal laut dapat melimpah. Harapan ini bukan tanpa sebab. Untuk saat ini harga 1 kg bawal laut mencapai Rp350.000. "Bahkan ada yang sampai tembus Rp400.000, tapi ya itu susah didapat kalau hasil tangkapan kami masih kurang begini," ujarnya.

Terkait bawal laut, belum lama ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo mengadakan pelatihan membuat jaring khusus untuk menangkap komoditas tersebut. Pelatihan yang digelar di UPT TPI Karangwuni, Kecamatan Wates pada  Agustus itu diikuti sebanyak 15 nelayan.

"Ada beberapa nelayan berpengalaman yang diikutkan, untuk membantu dalam kegiatan ini ketika merumuskan kontruksi alat tangkap yang akan dibuat saat perancangan jaring, dan membantu nelayan baru dalam pembuatan jaring ini," kata Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil DKP Kulonprogo, Sugiharto.

Ia mengatakan konstruksi jaring di tiap-tiap wilayah berbeda-beda sesuai medan yang akan digunakan untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut. Jaring yang dibuat dalam kegiatan ini adalah jaring insang ukuran 5,5 inch untuk penangkapan bawal laut. Setiap peserta sudah disiapkan alat dan bahan untuk pembuatan jaring insang tersebut.

"Kami berharap kegiatan ini bisa meningkatkan keterampilan nelayan untuk menunjang peningkatan produksi perikanan tangkap," harapnya.