Ini yang Akan Dilakukan terhadap Underpass Kulur yang Kini Jadi Kolam Renang

Underpass Kulur di Temon, Kulonprogo, tergenang air, Minggu (19/1/2020). - Harian Jogja - Lajeng Padmaratri
20 Januari 2020 21:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY akan melakukan kajian dengan melibatkan lintas sektor untuk mendapatkan rekomendasi terkait persoalan underpass Kulur, Temon, Kulonprogo yang selalu tergenang saat musim hujan. Rekomendasi itu diharapkan menjadi solusi agar underpass bisa dilalui baik saat musim kemarau maupun hujan.

Kabid Bina Marga Dinas PUP ESDM DIY Bambang Sugaib menjelaskan underpass Kulur yang selalu banjir saat musim hujan sudah didiskusikan di Pemda DIY. Underpass tersebut berada di daerah cekungan sehingga air dari luar meluap masuk ke dalam sehingga menjadi genangan. Terkait dengan air berlebih tersebut, sehingga diperlukan kajian kawasan di sekitar Kulur. Dari hasil kajian itu akan muncul rekomendasi penanganan, misalnya perlunya dibangun drainase, saluran air hujan atau memanfaatkan air yang berlebih pada musim hujan tersebut.

“Sedang diusulkan untuk kajian kawasan Kulur ini, itu diharapkan 2020 mulai dan selesai akhir tahun ini dan bisa merekomendasikan apa yang harus dilakukan,” katanya Senin (20/1/2020).

Karena menyangkut kawasan, kata dia, kajian itu akan melibatkan banyak sektor, seperti instansi yang berwenang berkaitan dengan sungai, jalan, lingkungan, drainase dan Pemkab Kulonprogo serta para pakar. Melibatkan banyak pihak diharapkan mendapat solusi terbaik sebagai rekomendasi untuk menangani underpass Kulur.

Penyebabnya genangan di underpass tersebut karena air dari berbagai arah berkumpul di kawasan tersebut. Dari sisi perencanaan pembangunan sebelumnya sudah mempertimbangkan banyak hal termasuk antisipasi banjir, namun karena berada di kawasan cekungan, air justru banyak mengarah ke underpass. Selama ini Pemda DIY sudah melakukan sejumlah upaya untuk meminimalisasi genangan dengan memasang pompa , namun kapasitas pompa tidak sebanding dengan luapan air dari berbagai penjuru di kawasan tersebut.

“Saat volume air hujan tinggi, kapasitas pompa sangat terbatas sehingga kewalahan. Jalan ini menghubungkan kawasan perbukitan Menoreh, dan sejumlah kecamatan di Kulonprogo,” ucapnya.

Dalam kajian tersebut, harapannya bisa merekomendasikan termasuk pemanfaatan air agar tidak terbuang sia-sia termasuk untuk irigasi, air baku. Setelah kajian selesai di 2020, ke depan akan ada koordinasi lebih lanjut untuk menentukan pihak yang akan melaksanakan pembenahan kawasan itu. Pihaknya belum dapat memastikan apakah semua rekomendasi hasil kajian bisa dilaksanakan semua atau tidak. 

“Jadi menunggu hasil kajian, karena ini lintas sektor, kalau hanya di selesaikan satu sektor saja nanti selesai masalah di titik sini, muncul lagi persoalan lain,” ujarnya. 

Underpass Kulur yang terletak di dekat Pasar Cikli, Desa Kulur, Kapanewon (Kecamatan) Temon, Kulonprogo, kembali digenangi air musim hujan. Terowongan ini tak bisa dilewati dan sekarang dipakai warga untuk berenang.

Sejak delapan tahun terakhir, Underpass Kulur selalu digenangi air kala musim hujan tiba. Air bahkan bisa mencapai kedalaman tiga meter sehingga bisa digunakan untuk berenang.