Di Tempat Ini, Pelaku Klithih di Bawah Umur Dibina

29 Januari 2020 03:27 WIB Newswire Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Belakangan ini, masyarakat Jogja dibuat resah karena aksi klithih yang sering terjadi. Para pelaku klithih yang masih di bawah umur dibina di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas II Yogyakarta yang berada di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.

Dilansir dari Detikcom,  di LPKA terdapat 16 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang sebagian besar terjerat kasus klithih.

Ada tiga paviliun di LPKA tersebut, tampak beberapa dari penghuni menempati paviliun bagian tengah. Mereka tengah bercengkerama dengan para petugas LPKA dan beberapa di antaranya tengah berada di kamar tahanan masing-masing.

"Sampai hari ini isinya [jumlah penghuni di LPKA Yogyakarta] ada 16 anak. Sedangkan kapasitasnya 90 [WBP]," kata Kepala LPKA Klas II Yogyakarta, Teguh Suroso, Selasa (28/1/2020).

Teguh menjelaskan, 16 orang itu terdiri dari 14 WBP dan ada dua orang tahanan yang masih dalam proses hukum. Sedangkan untuk kasus yang menjerat 16 orang itu bervariasi.

"Untuk yang kasus pembunuhan satu orang, penganiayaan satu orang, pengeroyokan dua orang, perlindungan anak tujuh orang, narkotika tiga orang dan lain-lain dua orang," katanya.

"Perlindungan anak itu yang enam klitih dan yang satu asusila di bawah umur," lanjut Teguh.

Penghuni LPKA berasal dari Kota Yogyakarta delapan orang, empat orang dari Kabupaten Sleman, dua orang penghuni dari Kabupaten Gunungkidul dan masing-masing satu penghuni asal Bantul dan Sukoharjo.

Teguh menuturkan bahwa penanganan kasus dengan tersangka anak berbeda. Sesuai undang-undang, jika ancaman pidana di bawah tujuh tahun dapat dilakukan diversi, yaitu penyelesaian permasalahan di luar sidang pengadilan.

"Kemarin dapat tambahan dua [penghuni] dari Jogja karena pasal 170, pengeroyokan," katanya.

Diversi, kata Teguh, dapat berupa penitipan anak ke BRSR Sleman dan pengembalian anak kepada orang tua, sehingga mereka tidak masuk ke ranah pidana. Namun, untuk kasus klitih yang berujung dengan hilangnya nyawa pasti akan masuk ke LPKA Yogyakarta.

"Tapi kalau klithih terus sampai korban meninggal biasanya ke sini [LPKA Yogyakarta]. Seperti yang kasus di Karangkajen itu setelah vonis di sini, kami dapat enam dan pidananya antara 4-7 tahun," ucapnya.

"Sudah hampir dua bulan lebih mereka di sini dan semua masih SMA," imbuh Teguh.

Teguh mengungkapkan sebagian besar pelaku klithih yang menghuni LPKA tidak memiliki motif khusus saat beraksi. Hal itu terungkap saat mereka curhat kepada para petugas LPKA.

"Masyarakat umum mungkin tidak tahu persis mengapa mereka melakukan hal tersebut [klithih]. Ternyata banyak sekali faktornya, yang menonjol faktor kurang pengawasan dari orang tua," ucap Teguh.

"Setelah kita ajak ngobrol, jawabannya [para pelaku klithih saat ditanya motif] 'tidak tahu pak, seneng-seneng sama teman', seperti itu. Jadi iseng dan tidak ada motif mereka itu saat melakukannya," lanjutnya.

Kendati demikian, Teguh menilai WBP yang terjerat kasus klitih ini juga memiliki rasa bersalah usai melakukan aksinya. Bahkan, rasa bersalah itu diungkapkan kepada orang tuanya dengan perilaku khusus.

"Mereka menyesal? Tidak usah mengaku, dia (pelaku klitih) yang kasus di Mirota, dia setelah bacok pulang dan mijiti orang tuanya karena merasa salah kok, terus besoknya baru ditangkap polisi," ucapnya.

Teguh menyebut tidak semua pelaku dalam kondisi mabuk saat beraksi. Menurutnya, pelaku yang dalam pengaruh minuman keras biasanya masuk golongan klitih nonkelompok.

Karena itu, selama menghuni LPKA, pihaknya selalu memberi bimbingan kepada 16 WBP. Pembinaan itu meliputi pembinaan kepribadian, pembinaan kemandirian, dan pembinaan sosial.

"Selain itu, kami selalu minta agar mereka tidak lagi masuk dalam lingkungan yang mengajak klithih. Alhamdulillah hingga saat ini tidak ada lagi yang residivis masuk ke sini," ucap Teguh.

Sumber : Detik.com