Betahun-tahun Tak terawat, Joglo Labuhan dan Pesanggrahan Paku Alam Akan Direvitalisasi

Joglo Labuhan di kawasan Pantai Glagah jadi tempat rehat wisatawan, Kamis (6/2/2020). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
07 Februari 2020 04:17 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulonprogo akan merevitalisasi pesanggrahan Paku Alam (PA) dan Joglo Labuhan di kawasan Pantai Glagah tahun ini. Sementara ini, jawatan ini masih berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Paku Alam X.

Kepala Kundha Kabudayan, Untung Waluya menuturkan hal ini didasari dengan upacara adat Hajad Dalem Labuhan Pura Pakualaman yang diselenggarakan setiap tahun, namun bangunan yang ada belum layak untuk mendukung upacara adat itu menjadi agenda wisata tahunan yang menarik wisatawan.

"Kami cermati tiap tahun Joglo ini dipakai untuk Labuhan, tapi belum penuhi syarat kepatutan. Belum ada perawatan serius," kata Untung saat ditemui sebelum meninjau Joglo Labuhan bersama utusan PA X, Kamis (6/2/2020).

Untung mencermati belum seriusnya perawatan Joglo Labuhan itu lantaran belum jelasnya wewenang atas bangunan itu antara Kundha Kabudayan dengan Dinas Pariwisata Kulonprogo. "Kami masih pastikan lagi kewenangan ada di bawah Dinpar atau Disbud," katanya.

Sementara itu, pihaknya sudah menganggarkan dana keistimewaan untuk revitalisasi Joglo Labuhan dan pesanggrahan PA yang berlokasi di Kapanewon Temon itu. Meski begitu, ia masih enggan merinci besaran dananya.

Rencananya revitalisasi itu meliputi pembangunan pagar, gerbang, serta perbaikan tempat ibadah dan bangunan lain. "Kami buat pagar dan gerbang, supaya orang luar jangan jag-jagan di Joglo yang tiap tahun jadi tempat upacara adat," tegasnya. Ia berharap maksud baik tersebut dapat memperoleh izin dari PA X.

Juru rawat Joglo Labuhan, Untoro, mengatakan sudah bertahun-tahun bangunan tersebut tak pernah ada perawatan. "Joglo dipugar beberapa tahun lalu, tapi setelah itu tidak ada perawatan rutin. Begitu juga musala itu, idealnya dicat tiap tahun, tapi ini sudah 10 tahun lebih tidak dicat," kata dia.

Meski kondisi bangunan tak terawat, namun bangunan masih rutin digunakan warga sekitar yang mayoritas pelaku wisata dan penginapan untuk mengadakan acara, maupun wisatawan untuk beristirahat setelah wisata. Terlebih, saat upacara adat Labuhan, titik ini menjadi sentral sehingga fisiknya seharusnya dirawat rutin.

"Harapannya ada dana perawatan, jangan hanya dibangun lalu ditinggal, sebab masih dipakai sampai sekarang," kata dia.