Ini Tanda-Tanda Akan Terjadi Banjir Bandang Meski Tidak Hujan

Warga berdatangan ke Sungai Sempor. di Turi, Sleman lokasi tenggelamnya siswa SMPN 1 Turi, Jumat (21/2/2020).-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
22 Februari 2020 06:07 WIB Nina Atmasari Sleman Share :

 Harianjogja.com, SLEMAN— Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau kepada seluruh warga masyarakat agar tetap terus mewaspada potensi kejadian cuaca ekstrem,  yaitu hujan lebat disertai kilat petir dan angin kencang, ataupun hujan dengan durasi yang panjang, karena  dapat berdampak terjadinya longsor, banjir dan banjir bandang.

Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Yogyakarta, Reni Kraningtyas menyebut cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh pertumbuhan awan-awan konvektif (awan cumulonimbus) secara intensif.

“Kejadian banjir bandang umumnya dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat atau hujan berdurasi panjang, yang terjadi di hulu sungai,” katanya, dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Jumat (21/2/2020).

Kejadian banjir bandang ini sering ditandai dengan terlihatnya awan hitam tebal ke arah hulu sungai, meskipun cuaca di daerah hilir sungai cerah/ tidak hujan.

Seperti yang sudah disampaikan beberapa kali sebelumnya, BMKG telah memprediksi bahwa Bulan Februari ini masih merupakan puncak musim hujan dan cuaca ekstrim masih akan terjadi sampai dengan bulan Maret 2020.

“Oleh karena itu, masyarakat dan semua pihak dihimbau agar dapat menyesuaikan aktivitasnya dg selalu memonitor info cuaca dan Peringatan Dini BMKG,  melalui berbagai kanal yang tersedia  Call center 274-2880151/52; twitter@StaklimJogja, Instagram staklim_jogja, Telegram 08224009760. (*)