BBTKLPP Yogyakarta Mulai Tangani Sampel Covid-19, Ini Kapasitas Pemeriksaannya

Sejumlah petugas saat melakukan pemeriksaan sampel di Laboratorium Virologi, BBTKLPP Yogyakarta, Rabu (18/3/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
18 Maret 2020 12:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta mulai melakukan pemeriksaan terhadap sampel Covid-19 sejak Rabu (18/3/2020). Jumlah sampel yang bisa diperiksa tidak ada batasan, namun balai ini hanya diberi kewenangan untuk memeriksa pasien dalam pengawasan (PDP) serta kontak tracing atau orang dalam pengawasan (ODP).

Kepala BBTKLPP Yogyakarta Irene menjelaskan sejak diterbitkannya Keputusan Menteri Kesehatan 18/2020 yang secara resmi menunjuk BBTKLPP Yogyakarta sebagai salah satu jejaring laboratorium yang bisa melakukan pemeriksaan Covid-19. Sejak awal pihaknya sudah siap dengan SDM maupun fasilitas hingga alat dan hanya butuh primer dan reagen saja.

"Saat ini kami sudah diberikan primer dan reagen untuk melakukan pemeriksaan terhadap Covid-19, mulai saat ini kami sudah bisa melakukan pemeriksaan," katanya saat ditemui di Kantor BBTKLPP Yogyakarta Jalan Imogiri Timur Km. 8, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, Rabu (18/3/2020).

Ia menjelaskan pemeriksaan laboratorium untuk Covid-19 ada dua tahapan, antara lain menggunakan real time PCR dan genom sekuensi. Real time PCR dilakukan lebih awal untuk menentukan apakah hasil sampel menunjukkan positif corona atau negatif. Sehingga cukup sampai di level daerah sudah bisa diketahui hasilnya positif atau negatif. Adapun genom sekuensi dilakukan di Litbangkes Kemenkes.

Meski demikian BBTKLPP Yogyakarta belum diberi kewenangan untuk melakukan pemeriksaan permintaan masyarakat secara langsung. Menurutnya, sampai saat ini pihaknya hanya diberikan kewenangan untuk memeriksa khusus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 dan kontak tracing jika ada yang positif atau dikenal dengan orang dalam pengawasan (ODP).

"Sampai sekarang masih di situ, sampai kontak tracing jika ada yang positif. Mudah-mudahan ke depan kami bisa melakukan pemeriksaan untuk masyarakat yang menginginkan pemeriksaan mandiri. Untuk saat ini fokus pada PDP dan kontak tracing," katanya.

Ia memastikan kapasitas pemeriksaan per hari tidak bisa dibatasi, artinya ada dua kali proses mulai dari ekstraksi terhadap sampel serta melakukan pemeriksaan. Sehingga tidak ada pembatasan jumlah sampel harian yang harus diperiksa. Karena pemeriksaan sampel bisa dilakukan secara kolektif dengan jumlah maksimal 22 sampel untuk ekstraksi dan 29 sampel untuk pembacaan hasil.

"Sebetulnya tidak diperiksa satu-satu, tetapi sekali pemeriksaan bisa running langsung sekali bisa 22 pemeriksaan untuk ekstraksi dan 29 untuk membaca. Sepanjang primer dan reagen tersedia kami tidak batasi," ujarny.

Ia menambahkan untuk ekstraksi butuh waktu sekitar dua jam, kemudian untuk membaca hasil juga butuh waktu sekitar dua jam. Tetapi proses mesin bisa berjalan sendiri dan hasilnya bisa keluar sendiri setelah dimasukkan. "[Durasi waktu sampel masuk sampai dapat hasilnya] Minimal lima sampai enam jam, tetapi kami menjanjikan 24 jam hasilnya sudah keluar," katanya.

Setelah hasilnya keluar semua sampel akan dikirim ke Litbangkes guna dilanjutkan pemeriksaan genom sekuensi. Selain itu menyampaikan kepada dokter yang merawat PDP. "Tetapi terkait diumumkannya kepada publik menjadi kewenangan juru bicara oleh Pemerintah Pusat," ujarnya.