Pakan Alternatif Harus Dikembangkan di Setiap Desa

Ilustrasi sapi - JIBI
06 April 2020 03:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Gunungkidul dikenal sebagai gudang ternak di DIY. Sayangnya, pakan untuk konsumsi ternak masih sangat bergantung pada pakan alami seperti dedaunan, batang pohon jagung (tebon) hingga jerami. Oleh karena itu, setiap desa diharapkan bisa membuat pakan alternatif untuk mendukung pengembangan produksi ternak.

Kepala Bidang Penelitian Pengembangan dan Pengendalian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul, Rismiyadi, mengatakan luas wilayah Bumi Handayani sangat mendukung dalam upaya pengembangan peternakan. Dengan lahan yang luas ketersediaan pakan bisa terpenuhi.

Namun selama ini masyarakat masih sangat tergantung pada pakan alami untuk konsumsi ternak. Pola tersebut harus diubah karena pakan yang diberikan tidak optimal untuk budi daya peternakan. “Memang bagus tetapi harus ada inovasi sehingga ternak yang dipelihara dapat tumbuh dengan baik,” katanya kepada wartawan, Minggu (5/4/2020).

Untuk memaksimalkan potensi, bahan baku pakan harus melalui sentuhan inovasi sehingga pakan yang diberikan tidak hanya sebatas dedaunan segar, jerami ataupun jenis tanaman lainnya. Menurut dia, upaya optimalisasi budi daya peternakan bisa dilakukan dengan pemanfaatan pakan alternatif melalui proses fermentasi.

Untuk bahan baku tetap menggunakan dedaunan maupun sisa hasil panen pertanian seperti jerami, tebon hingga tanaman kacang tanah. “Dengan fermentasi selain pakan bisa lebih awet dan bisa digunakan kapan saja, selain itu kandungan gizi yang dimiliki lebih tinggi sehingga cocok untuk pakan ternak,” katanya.

Pemkab, menurut Rismiyadi, sejak akhir 2018 mengeluarkan Surat Edaran Bupati No.524/5814 tentang Pengembangan Pakan Alternatif Mandiri untuk Mendukung Budi Daya Peternakan. Satu tahun kemudian tepatnya akhir 2019 upaya pengembangan pakan alternatif diperkuat melalui Surat Edaran Bupati No.520/6986 tentang Stasiun Pakan Isi Ulang Silase Mendukung Ketahanan Pakan Ternak di Gunungkidul. “Harapannya di setiap desa bisa membuat kelompok untuk memproduksi pakan ternak alternatif secara mandiri. Ini yang terus kami sosialisasikan ke masyarakat,” katanya.

Upaya pengembangan pakan ternak alternatif sudah dikembangkan di Dusun Buyutan, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari. Di desa ini melalui Kelompok Ternak Darwis Ayo Angon mengembangkan pakan ramah lingkungan berbahan baku dari dedauan, biji kopra, kulit kopi dan biji sawit untuk konsentrat pakan ternak. “Kami mendapat pendampingan dari UGM,” kata Ketua Kelompok Ternak Darwis Ayo Angon, Doni Fitrianta, beberapa waktu lalu.