48 Kecamatan di DIY Bebas Covid-19

Ilustrasi - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 48 dari 78 kecamatan yang ada di DIY masih bebas temuan kasus Covid-19. Kulonprogo menjadi kabupaten paling sedikit jumlah temuan kasus, termasuk jumlah kasus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). Adapun Sleman menjadi kabupaten dengan temuan kasus positif terbanyak dan jumlah ODP dan PDP tertinggi di DIY.

Mengacu data yang dikeluarkan Pemda DIY melalui web corona.jogjaprov.go.id, di Kulonprogo, dari 12 Kecamatan, hanya Wates yang mencatatkan kasus positif Covid-19 sebanyak dua kasus, satu kasus sudah sembuh. Penambahan kasus Covid-19 terakhir pada 9 April 2020 lalu dan tidak bertambah lagi dalam kurun hampir dua pekan. Selebihnya, di kecamatan lain, tidak ada temuan kasus positif. Jumlah PDP dan ODP di kabupaten ini paling rendah, dengan 33 PDP dan 429 ODP. Panjatan, Kokap dan Galur, menjadi kecamatan tanpa ada PDP. Namun terdapat satu pasien PDP meninggal dunia di Bumi Menoreh, yakni di Girimulyo.

Adapun Sleman menjadi kecamatan paling banyak ditemukan kasus Covid-19. Separuh lebih dari total kasus Covid-19 di DIY ada di Sleman. Dari 17 kecamatan, ada enam kecamatan belum ditemukan kasus Covid-19. Ada 36 kasus positif dengan 16 di antaranya sembuh, dan empat meninggal dunia. Jumlah pasien dalam pengawasan di Sleman juga terpucuk di DIY mencapai 241 kasus dan ODP di kabupaten ini juga tertinggi dengan 1.224 kasus. Jumlah PDP meninggal di Sleman juga tertinggi, mencapai enam kasus.

Yang menarik di Sleman adalah dua kecamatan yang menjadi pintu gerbang masuk dan keluar antardaerah. Tempel dan Prambanan mencatat sedikit temuan ODP dan PDP dan nihil pasien positif Covid-19. Prambanan baru mencatat 31 kasus ODP dan tujuh PDP, sementara Tempel mencatat 32 ODP dan tujuh PDP.

Kondisi serupa ditemukan di Temon, Kulonprogo, yang sama-sama wilayah perbatasan dengan Jawa Tengah yang ditemukan 57 ODP dan empat PDP.

Di Gunungkidul, Kecamatan Saptosari adalah kecamatan paling rendah jumlah ODP. Kecamatan itu bertahan dengan jumlah 1 ODP dan 1 PDP sejak 22 Maret hingga 12 April lalu. Namun pada 18 April jumlah PDP dan ODP masing-masing dua, dan pada 19 April menjadi 3 PDP dan dua ODP dengan satu PDP meninggal dunia.

Adapun di Kota Jogja, kecamatan Pakualaman, Kraton, dan Kotagede memiliki jumlah PDP paling sedikit. Sedangkan Gedongtengen tak pernah mencatatkan adanya PDP namun mencatat satu kasus positif Covid-19 yang sudah sembuh.

Kecamatan yang merupakan wilayah perkotaan atau dekat dengan pusat kota dinilai lebih rawan terhadap penyebaran virus Corona.  ODP dan PDP tertinggi di Bantul misalnya ditemukan di Kecamatan Banguntapan sebanyak 152 ODP dan 29 PDP per Selasa (21/4). Demikian pula Kecamatan Sewon yang berbatasan langsung dengan Kota Jogja ditemukan ODP sebanyak 84 orang dan 15 PDP. Kasihan yang juga merupakan wilayah penyangga perkotaan ditemukan 40 ODP dan PDP sebanyak 19 orang. Kecamatan Kasihan bahkan menjadi wilayah paling banyak ditemukan pasien positif Covid se-Bantul yakni delapan orang.

Kondisi serupa juga ditemukan di Sleman. Kecamatan Depok yang merupakan wilayah dengan mobilitas tinggi menempati urutan teratas jumlah ODP yakni 244 orang dengan 42 PDP. Demikian pula Kecamatan Mlati dengan jumlah ODP 110 orang. Di Kulonprogo, Kecamatan Wates yang merupakan pusat kota ditemukan paling banyak ODP yakni 83 orang, disusul Temon sebanyak 57 orang. Kecamatan Temon kini mulai berubah menjadi pusat keramaian baru menyusul adanya Yogyakarta International Airport (YIA).

"Yang positif itu kan yang punya mobilitas tinggi. Makanya edukasinya kan stay at home atau kurangi mobilitas," kata Ova Dekan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Ova Emilia, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, di daerah yang terpencil dan mobilitas warganya kurang, akan lebih kecil kemungkinan warga terkena virus Corona. "Jadi memang tempat yang banyak lalu lalang dan jadi tempat persinggahan [tinggi penyebaran virus]."

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan beberapa kecamatan di Kota Jogja tidak ada kasus Corona, seperti Kraton, dan Pakualaman. Bukan hal yang mudah untuk menjaga kondisi tersebut karena wilayah Jogja sempit dengan mobilitas penduduk tinggi.

 "Luasnya cuma 46 kilometer persegi tapi kecamatannya 14 dan kelurahannya 45," katanya.

Ia mengimbau masyarakat untuk tetap di rumah, rajin cuci tangan, pakai masker dan tidak membuat kerumunan.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengatakan salah satu faktor tidak adanya kasus positif Covid-19 di sejumlah kecamatan di Sleman buah dari kedisiplinan warga menerapkan imbauan pemerintah. Mereka tetap memerharikan physical distancing, menggunakan masker dan tidak berkerumun.