Pasar Tradisional di Gunungkidul Dilengkapi Tempat Cuci Tangan

Pengunjung mencuci tangan di fasilitas cuci tangan yang terpasang di pintu masuk Pasar Argosari, Wonosari, Rabu (29/4/2020). - Harian Jogja/David Kurniawan
29 April 2020 21:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Gunungkidul memastikan upaya pencegahan penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) di seluruh pasar tradisional terus dilakukan. Selain menyosialisasikan pemakaian masker, di area pasar juga dilengkapi fasilitas cuci tangan dengan sabun.

Kepala Disperindag Gunungkidul, Johan Eko Sudarto, mengatakan ada 38 pasar tradisional yang dikelola oleh Pemkab. Selama ini pasar menjadi salah satu lokasi yang rawan terjadinya penyebaran Corona. Oleh karena itu, langkah antisipasi terus dilakukan agar penyebarannya tidak semakin meluas. Khusus untuk pasar tradisional, Disperindag menerapkan beberapa program. Selain mengampanyekan gerakan hidup bersih sehat serta imbauan pemakaian masker baik untuk pedagang maupun pengunjung, Disperindag juga memberikan fasilitas cuci tangan. “Semua sudah dipasang dan bisa digunakan oleh pengunjung,” kata Johan, Rabu (29/4/2020).

Pemasangan fasilitas cuci tangan disesuaikan dengan kondisi pasar. Sebagai contoh, untuk pasar yang buka setiap hari maka di sejumlah pintu masuk dipasangi fasilitas cuci tangan, sedangkan untuk pasar yang buka pada pasaran tertentu hanya dipasang sesuai kebutuhan. “Kami upayakan penambahan fasilitas cuci tangan, salah satunya memanfaatkan bantuan dari Badan Ekonomi Kreatif sebanyak 30 unit,” katanya.

Johan berharap kepada pedagang maupun pembeli mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Corona. Pasalnya, partisipasi aktif ini akan berdampak luas terhadap upaya pencegahan yang digerakkan oleh pemerintah.

Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan keberadaan pasar sangat penting untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Menurut dia, salah satu solusi pencegahan dengan memanfaatkan pasar online. Hanya, pemanfaatan teknologi ini tak serta merta bisa digunakan oleh masyarakat karena belum semuanya melek teknologi. “Kalau yang berada di perkotaan mungkin tidak masalah, tetapi yang ada di desa belum tentu bisa memanfaatkan sual beli sistem online. Jadi, untuk pemenuhan kebutuhan tetap harus ke pasar,” katanya.

Untuk memastikan agar pasar tidak menjadi lokasi penyebaran Covid-19, Pemkab berkewajiban menyediakan sarana pencegahan sesuai dengan protokol kesehatan. “Sosialisasi penting, tetapi fasilitas seperti cuci tangan dengan sabun harus disediakan untuk akses pengunjung maupun pembeli. Selain itu, gerakan memakai masker juga harus terus digalakkan,” katanya.