Subardi Kawal Peternak Lokal Tembus Industri Nasional

Subardi saat meninjau peternak lokal. - Ist
01 Juli 2020 06:17 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Perlindungan dan pemberdayaan pelaku usaha di bidang perikanan selama ini kerap terabaikan. Banyak diantara mereka yang berjuang dengan kreativitas dan kerja keras untuk tetap bertahan di tengah pandemi Covid 19.

Salah satunya adalah kelompok budidaya ikan di dusun Jetis Mororejo, Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman. Usaha yang digeluti sekitar 30 pemuda harus menyusun strategi baru dengan cara diversifikasi pangan. Kebutuhan pangan yang sebelumnya dibeli dari pabrik, kini dicampur dengan daun-daunan dan sisa limbah rumah tangga.

BACA JUGASubardi Desak Integrasi Wisata DIY Digarap Maksimal

Kegigihan dan semangat pantang menyerah mengundang reaksi dari Anggota Komisi VI DPR F-Nasdem, Subardi. Ia meninjau langsung lokasi budidaya ikan air tawar sekaligus menyerap aspirasi dalam rangka Kunjungan Dapil.

Politikus yang akrab disapa Mbah Bardi ini akan mengawal program-program Kementerian agar berpihak pada pelaku usaha kecil. Kementerian yang dimaksud adalah mitra kerja Komisi VI, seperti Kemenkop UKM, Kemendag, dan Kementerian BUMN.

"Saya hadir untuk memastikan observasi lapangan seperti ini cepat dieksekusi oleh Kementerian. Bisa dengan bantuan infrastruktur kolam dan perairan, bisa pelatihan dan pembekalan, bisa juga terkait pemasaran. Khusus pemasaran, saya akan usulkan agar produk mereka tembus ke industri makanan. Ini butuh peran kementerian sebagai perantara membuka akses lintas usaha," ujar Subardi yang didampingi Widi Sutikno, Anggota DPRD Provinsi DIY F-Nasdem, (27/6).

BACA JUGA : Subardi Gencarkan Digitalisasi Koperasi dan UKM di DIY

Subardi beralasan, akses menuju industri makanan akan meningkatkan daya saing dan mutu produksinya. "Harapan saya masyarakat Jetis mampu membuat olahan hasil budidaya, seperti abon ikan dan dapat dijual di toko ritel modern. Ini penting agar tercipta kemandirian ekonomi," tegasnya.

Kelompok budidaya ikan berdiri sejak 2017. Para peternak menggunakan tanah kas desa seluas 2 hektare untuk budidaya ikan jenis Nila dan Lele. Hasil panen dijual kepada agen-agen lokal. Namun di masa pandemi pendapatan mereka merosot karena permintaan menurun. Untuk menambah pemasukan, satu kolam ikan dibuka untuk pemancingan.

"Ini pelajaran berharga dari para pemuda. Satu sisi mereka bertahan agar tetap produktif, di sisi lain mereka membantu kampanye pemenuhan gizi dengan gemar konsumsi ikan," katanya.