Di Jogja, Sejumlah Anak Muda Menanam Sayur & Hasilnya untuk Solidaritas Sesama

Kebunku Jogja memanen sayur, Minggu (19/7/2020) lalu. - Ist
23 Juli 2020 14:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Sejumlah anak muda di Jogja membuat lahan pertaniannya sendiri dengan konsep urban farming. Ide itu menjadi solusi di tengah gencarnya pembangunan yang semakin mempersempit lahan. Berikut kisahnya.

Matahari mulai langsir ke barat ketika Dodok bangun dari tidur siangnya di kursi dangau di depan kebun. Setelah duduk-duduk sebentar dan menyeruput kopi, ia menyambungkan selang air ke ledeng dan mulai menyirami deretan tanaman berbagai jenis yang terhampar di lahan seluas 300 meter persegi itu.

Dua orang lain mengobrol di gubuk yang sama, Ucok dan Yatno. Ketiganya adalah bagian dari komunitas Kebunku Jogja, sekumpulan anak muda yang menginisiasi pertanian perkotaan yang telah dimulai sejak pertengahan Mei lalu.

Sembari mengambil sejumput tembakau, melintingnya dengan tekun dan membakarnya, Yatno menceritakan awal pula terbentuknya Kebunku Jogja dari aktivitas Dapur Solidaritas Pangan Jogja, dapur kolektif yang bertujuan menanggulangi masalah pangan selama pandemic covid-19 khususnya kepada buruh informal.

BACA JUGA : Pandemi Corona Jadi Tantangan Sektor Penyedia Pangan 

“Muncul ide urban farming ini diawali dari dapur. Dulu teman-teman aktif di Dapur Solidaritas Pangan Jogja. Logistik dapur itu kan dari donasi yang sifatnya tidak pasti. Semakin ke sini semakin menipis, donator semakin sedikit. Akhirnya di Dapur 8, Balirejo, mulai mencoba mencari alternatif, lalu munculah ide urban farming ini,” ujarnya, Rabu (22/7/2020).

Dari situ mereka mulai mencari lahan kosong yang cocok untuk ditanami. Lahan seluas 300 meter ini terletak di Sorowajan, Bantuntapan, Bantul. Lahan ini masih menjadi bagian dari Sekretariat Gusdurian Jogja, dan berada di belakang persis sekretariat. Mereka mulai menggarap lahan kosong ini setelah mendapat persetujuan dari Alisa Wahid sebagai pemilik lahan.

Sebelumnya, lahan tersebut terbengkalai dan ditumbuhi ilalang. Pada 10 Mei, ia dan beberapa temannya dibantu warga membuka lahan tersebut. Setelah lahan diolah, pada 15 Mei penanaman pertama dimulai. Beberapa jenis tanaman diantaranya cabai, sawi, tomat, singkong, kangkung, bayam, terong, papaya, ketela, kacang Panjang dan pohon pisang.

Untuk membuat lahan pertanian dan menanaminya dengan bibit berbagai sayuran, modal dikumpulkan dari sumbangan individu, serta komunitas serupa, yakni Sekolah Gajahwong yang juga memiliki urban farming, dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja.

Tanaman bisa dipanen jangka panjang dan jangka pendek. Beberapa tanaman yang termasuk jangka pendek seperti kangkong, sawi dan bayam. Tanaman ini sejak ditanam sudah bisa dipanen pada hari ke 21. “Tiga pekan sudah bisa siap dipanen, tapi memanennya tergantung temen-temen, di minggu ke empat juga masih bisa,” katanya.

BACA JUGA : Ini Kondisi Stok Pangan di Jogja saat Pandemi

Hingga saat ini, tanaman jangka pendek tersebut sudah tujuh kali dipanen.

Tanaman jangka panjang seperti terong, tomat dan kacang panjang, memerlukan waktu 2,5-3 bulan untuk dipanen. Sementara ketela rambat dan singkong bisa lebih lama lagi, masing-masing butuh waktu empat bulan dan tujuh bulan untuk siap dipanen.

Hasil panen dari kebun ini selama ini selalu digunakan untuk menyokong logistik sejumlah dapur di Solidaritas Pangan Jogja. Hasil panen didistribusikan bergantian dari satu dapur ke dapur lain yang jumlahnya 11.

Seiring menggeliatnya kembali aktivitas masyarakat dan menipisnya donasi, beberapa dapur umum sudah berhenti beroperasi, menyisakan dapur komunitas seperti di Sembungan, Bong Suwung, dan Piyungan. Donasi Solidaritas Pangan Jogja juga sudah ditutup pada 20 Juli lalu.

Pada panen ketujuh yang lalu, hasil panen tidak didistribusikan ke dapur umum, tetapi ke komunitas marjinal, salah satunya Komunitas Waria Yogyakarta (Kebaya) di daerah Bong Suwung. “kami support ke keluarga waria di sana,” ungkapnya.

Selain itu, beberapa relasi juga membeli sayur hsail panen kebun ini. Komunitas Kebunku tidak mematok harga tertentu. Mereka mempersilakan tamu memetik sendiri dan membebaskan mereka untuk membayar berapa pun.

Hasil penjualan akan dikembalikan ke kebun, untuk kebutuhan operasional seperti membeli pupuk, bibit, dan operasional lainnya. Kebunku juga telah merencanakan untuk beternak ayam dan lele. Kandang ayam sudah ada di pojok, sementara bekas kolam tinggal dikeduk.

BACA JUGA : Begini Cara Warga Godean Mendorong Ketahanan Pangan 

Yatno mengakui anak muda yang terlibat dalam kegiatan Kebunku Jogja sebelumnya tidak begitu akrab dengan dunia pertanian. Maka mereka pun belajar dengan learning by doing, dengan dibantu oleh beberapa komunitas seperti Sekolah Gajahwong dan Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulonprogo (PPLP KP).

PPLP KP beberapa kali mendukung kebutuhan logistik dapur umum dengan mengirimkan sayuran setiap pekan. Hubungan baik dengan PPLP KP telah terbangun sejak 2008 lalu ketika banyak anggota Kebunku Jogja mengadvokasi para petani di pesisir selatan Kulonprogo melawan penggusuran oleh pendirian tambang pasir besi.

Pada awal penanaman di Kebunku, hasil panen tidak maksimal karena masalah hama. Setelah berkonsultasi dengan Sekolah Gajahwong, Kebunku mulai mempelajari tanaman penghalau hama seperti bunga kenikir, kemangi dan bunga matahari. “Juga belajar kalau bayam itu benihnya tidak boleh terlalu dekat karena akan lama tumbuhnya,” ujar Yatno.

Kebunku Jogja tidak menerapkan struktur organisasi yang mengikat. Setiap hari, kata dia, ada sekitar tiga sampai empat orang yang datang dan menyirami kebun tanpa penjadwalan. “Teman-teman memiliki kesibukan masing-masing, tetapi setiap hari pasti ada yang datang. Kalau ada yang menyirami, yang lain biasanya ikut membantu,” kata dia.

BACA JUGA : Stok Pangan di Kota Jogja Dipastikan Aman

Kendati tidak terikat secara struktural, menurutnya anggota komunitas memiliki ikatan kultural yang kuat. Orang yang datang ke kebun tidak selalu ikut menyirami, tapi bisa saja sekadar menongkrong, sembari minum kopi, dan menikmati pemandangan.

Saat ini hasil kebun belum terorganisasi dengan baik. Ke depan, menurut Yatno, Kebunku berencana menjual panen ke pasar. Sebagian hasilnya disisihkan untuk logistik solidaritas.

“Pangan adalah kebutuhan manusia paling purba. Semenjak ada, manusia butuh makan. Salah satu sumber makanan adalah sayuran. Walaupun ini bukan gerakan besar, tetapi paling tidak bisa menghidupkan kedaulatan pangan atas diri kita sendiri,” ungkapnya.