Miliki Ide Bisnis Inovatif, 5 Start Up Diberi Fasilitas Bahan Produksi

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi (kiri) menyerahkan penghargaan kepada start up lokal terbaik karena dinilai memiliki ide bisnis inovatif, Kamis (27/8/2020). - Ist/BBKB.
28 Agustus 2020 04:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak lima start up berbasis inovasi ditetapkan sebagai peserta terbaik dalam kompetisi ide bisnis Innovating Jogja 2020 yang digelar Kepala Balai Batik dan Kerajinan Yogyakarta (BBKB). Mereka mendapatkan berbagai fasilitas bahan produksi senilai puluhan juta rupiah.

Kelima peserta yang dinilai memiliki ide bisnis, rencana bisnis yang baik antara lain, pertama, Eyster Puspitasari dengan inovasi blue gold instant berupa paket zat warna indigo lengkap dengan reduktor dan alkalinya. Kedua, Alfira Oktavia dengan inovasi Teknik ecoprint pada kulit kayu lantung. Ketiga, Agung Setiawan, berupa inovasi wooden jewelry box dan wooden ring box dari limbah kayu industri furniture. Keempat, Anisa Septipanindya Sari dengan inovasi produk mahar dari bunga kering. Kelima, Dian Kartini dengan inovasi penerapan ragam hias nusantara pada produk rajut.

BACA JUGA : BI Tumbuhkan Startup Berinovasi Tinggi

“Kelima start up ini telah melalui berbagai seleksi ketat, dari awalnya 91 proposal yang masuk, kemudian diseleksi menjadi 30 peserta, kemudian kami seleksi lagi dipilih lima terbaik, dinilai oleh juri dari berbagai kalangan,” ungkap Kepala Balai Batik dan Kerajinan Yogyakarta (BBKB) Titik Purwati Widowati dalam rilisnya, Kamis (27/8/2020).

Kelimanya dinilai memiliki inovasi yang baik dan memungkinkan diterima oleh pasar dan layak dikembangkan. Beberapa di antaranya memanfaatkan barang bekas serta mengedepankan ramah lingkungan. Peserta terbaik diberikan fasilitas bahan produksi sebesar Rp20 juta.

“Jika ditotal nilai fasilitasi yang diberikan kepada tenant mencapai Rp73 juta,” kata Titik.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Aris Riyanta menilai Innovating Jogja ini bisa membangkitkan jiwa wirausaha karena peserta merupakan start up dengan basis inovasi. Bahkan ia melihat peserta yang lebih banyak dari kalangan pemuda kreatif itu merencanakan dan melaksanakan bisnisnya dengan rasa senang.  Selain itu melalui proses yang sangat ketat diawali dari proposal, sehingga bisa dilihat dari awal setiap start up melakukan perencanaan kemudian sampai produksi dan hasilnya bisa ke tangan konsumen.

BACA JUGA : The NextDev 2019 Cari Startup Terbaik Tanah Air

“Kami melihat ada peserta yang memanfaatkan limbah kayu jati diolah menjadi kotak perhiasan, yang dijual itu laku sekitar 10 dolar Amerika Serikat per bijinya, ini kan inovasi yang menarik karena berasal dari limbah. Bagi saya Innovating Jogja ini model ideal untuk mencetak start up, saya berharap frekuensinya bisa ditingkatkan,” katanya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi menegaskan model Innovating Jogja ini akan ditularkan kepada daerah lain di Indonesia dalam upaya pengembangan wirausaha, dalam hal ini start up berbasis inovasi. Pihaknya akan mendorong daerah lain untuk bisa mencontoh model yang dilakukan di Jogja.

“Karena daerah lain juga memiliki banyak potensi tidak hanya batiknya, tetapi berbagai produk kerajinan. Dengan model seperti ini akan semakin banyak yang berinovasi menghasilkan produk dengan memanfaatkan potensi lokal,” ucapnya.