Calon Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, Penggagas Batik Sleman

Ketua Dekranasda Sleman, Kustini Sri Purnomo sebagai pemrakarsa batik khas Sleman. - Istimewa/Dok. Pribadi Kustini Sri Purnomo
12 September 2020 06:07 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Jika pada 2012 lalu Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sleman tidak menyelenggarakan Lomba Desain Batik Sleman, mungkin hingga saat ini Bumi Sembada belum memiliki batik khasnya sendiri.

Ketua Dekranasda Sleman Kustini Sri Purnomo saat itu memiliki gagasan untuk membuat batik khas Sleman. Kendati tak mampu menciptakannya seorang diri, ia dan pengurus Dekranasda Sleman menggelar Lomba Desain Batik Sleman pada 2012.

Bagi Kustini, Kabupaten Sleman sungguh kaya dengan keragaman budaya, kesenian, serta alamnya. Untuk itu, lomba ini digelar untuk mewadahi para desainer batik dalam menggali motif-motif batik yang bersumber pada kekayaan alam dan budaya Kabupaten Sleman.

"Saat itu Sleman belum punya batik. Hanya ada baju khas yang bergambar logo Sleman Sembada. Itu bukan batik ya, anak muda kalau pakai baju ke kondangan pasti enggak mau. Akhirnya Dekranasda Sleman membuat Lomba Desain Batik Sleman," kata Kustini saat ditemui Harian Jogja beberapa waktu lalu.

Dari ratusan peserta yang mengirimkan desain batiknya, Dekranasda Sleman mengajak sejumlah juri yang berasal dari kalangan pakar batik untuk menyeleksi yang terbaik. Akhirnya diperoleh tujuh desain batik yang kemudian diserahkan ke Bupati Sleman, Sri Purnomo untuk dipilih pemenangnya.

"Rupanya Pak Bupati memilih dua desain yaitu desain parijotho dan desain salak. Keduanya khas Sleman, jadi kami gabungkan ke dalam satu desain batik menjadi batik khas Sleman bernama Sinom Parijotho Salak," terangnya.

Kustini menerangkan tanaman parijotho adalah tanaman khas Sleman lantaran tumbuh di lereng Gunung Merapi. Sementara, salak adalah buah yang banyak ditemui di wilayah Turi, Sleman.

Kedua elemen ini dipadukan dengan tangkai, daun, bunga parijotho, daun salak, dan buah salak. Tanaman parijotho digambar secara diagonal dan di sela-selanya diisi motif salak pondoh. Untuk latar belakangnya diisi cecek yakni titik-titik kecil yang tersebar merata pada desain batik.

Dekranasda bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman untuk memberi pembinaan kepada 24 kelompok pembatik. Mereka diberi pelatihan dan fasilitas supaya bisa memproduksi batik khas Sleman ini.

"Satu orang kalau beli batik satu saja sudah bisa memberdayakan beberapa karyawan, padahal biasanya satu orang itu tidak hanya punya satu baju batik," kata dia.

Saat ini, Batik Sinom Parijotho Salak menjadi motif wajib pada seragam jemaah haji dari Sleman. Selama empat tahun terakhir, sebanyak 2.000 unit baju jemaah dengan motif Sinom Parijotho Salak diproduksi setiap tahun.

Kustini berharap batik khas ini dapat membuat masyarakat Sleman bangga memakai produk karya para pengrajin batik Sleman. Ia juga berharap anak muda semakin gemar mengenakan batik untuk acara nonformal dengan adanya motif batik yang semakin beragam.

“Menggunakan Batik Sinom Parijotho Salak tidak hanya melestarikan batik, tetapi juga membantu peningkatan kesejahteraan pelaku UMKM di Sleman," tutur Kustini.