Di Masa Pandemi, Masker Jadi Peluang Bisnis Fesyen

Masker hasil karya desainer Lia Mustafa yang dipamerkan dalam fashion show, 29 Agustus hingga 4 September lalu. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
14 September 2020 19:07 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sudah menjadi aksesori wajib di masa pandemi Covid-19, masker tak sekadar pelindung tubuh dari virus, tetapi lebih pada gaya hidup. Ini jelas jadi peluang baru bagi bisnis fesyen yang semula kembang kempis akibat pandemi.

Bagi Avianita Rahmawati, 25, yang sehari-hari bekerja sebagai staf bagian keuangan sebuah hotel yang terletak di Sleman, desain masker menjadi pertimbangannya untuk membeli masker. "Tapi yang paling utama aku lihat dulu lapisan kainnya, aku biasanya beli yang tiga lapis biar aman. Baru aku mempertimbangkan desain dan tali maskernya harus hijab friendly," kata Avi kepada Harian Jogja, Senin (7/9/2020).

Avi memiliki beberapa koleksi masker aneka desain dan warna. Mayoritas adalah masker warna polos yang minim desain tapi memiliki tiga lapisan kain. Avi lebih merasa aman menggunakan masker tebal tanpa peduli dengan desain.

BACA JUGA: Sultan Jogja Izinkan Kampus DIY Gelar Kuliah Tatap Muka, Ini Syaratnya

Sebaliknya, bagi Andita Ayu Pratiwi, 25, desain menjadi pertimbangan pertama dalam memilih masker. Menurut dia penting untuk menyelaraskan desain masker dengan gaya pakaiannya saat bekerja sebagai pegawai start up lokal.

"Tapi sebenarnya aku juga agak sangsi sama masker fashionable yang pori-pori kainnya besar. Kalau aku suka desainnya tapi pori-porinya besar gitu aku lapisi lagi pakai tisu," kata Dita.

Bak Oase

Sebulan awal sejak pandemi merebak di DIY bisnis fesyen khusus ecoprint milik desainer Modesta Nursanti sepi pelanggan. Semua orang mengunci diri di rumah dan lebih memilih mencari pakaian santai ketimbang pakaian dengan rancangan formal seperti yang dibuatnya.

Santi biasa mengerjakan pesanan busana ecoprint dengan kisaran harga di atas Rp200.000. Setiap bulan rerata ada puluhan pesanan. Santi merasa harus berinovasi di tengah pandemi.

Santi kemudian memperhatikan berita yang beredar, masker sekali pakai kehabisan stok dan tenaga medis sulit mendapatkannya. Tren masker kain pun mulai naik daun. Semua pelaku bisnis baik dari industri tekstil, fesyen, makanan dan minuman semua memproduksi masker kain.

BACA JUGA: Mahasiswa UIN Jogja Positif Corona Sempat ke Kampus, Fakultas Lockdown 3 Hari

Tak mau ketinggalan, Santi lantas membuat beberapa masker kain dari bahan katun dan dibagikan gratis ke tetangga sekitar kediamannya di Jalan KS Tubun, Pathuk, Ngampilan, Jogja. Setelah itu dia mengunggah contoh masker kain rancangannya di media sosial.

Pesanan masker kain pun langsung membanjir. "Dari yang awal bulan cuma bikin lima biji, seminggu untuk tetangga terdekat saja, kemudian jadi ada banyak pesanan. Bulan kedua terima pesanan partai besar bikin 100 masker kain," kata Santi.

Mayoritas pesanan partai besar berasal dari instansi pemerintahan atau kantor yang kembali menerapkan work from office (WFO). Selain pesanan partai besar yang terus berdatangan, pada bulan-bulan berikutnya, penjualan daring masker kain meningkat pesat. Dalam sebulan, Santi bisa menjual 50 masker.

Desain Khusus

Para pemesan masker kain mayoritas selalu meminta desain khusus. Misalnya masker kain dengan kain ecoprint, kain batik motif kontemporer, kain shibori, hingga kain penuh payet. Harga masker kain buatan Santi pun bervariasi mulai dari Rp7.000 untuk masker anak-anak hingga yang paling mahal Rp35.000 untuk masker payet.

"Dengan range harga segitu banyak yang pesan. Jadi ya lumayan banget menolong pemasukan di tengah pandemi," kata Santi.

Desain masker kain biasanya disesuaikan dengan seragam kerja mereka. Menurutnya masker sudah jadi kebutuhan fesyen dan gaya sehari-hari. Oleh karena itu, selain membuat desain masker sendiri, Santi juga melayani permintaan desain khusus dari pelanggan. Layanan request design ini lah yang membuat pesanan terus mengalir.

BACA JUGA: Syekh Ali Jaber Tak Terima Pelaku Penusukan Dianggap Gila

Kondisi itu juga dialami oleh Yustina Indria, pemilik bisnis tas kain untuk laptop yang bernama Happy Polar Craft. Sejak pandemi, dia mengaku pemasukannya dari bisnis tersebut adalah nol rupiah. Padahal biasanya per bulan dia bisa meraup untung jutaan rupiah dari penjualan tas laptop aneka motif itu.

Pada bulan kedua pandemi merebak di DIY, dia berinovasi membuat masker kain dan menjualnya di media sosial. Ternyata responnya sangat positif, setidaknya ada lima masker terjual dalam seminggu. Masker dijual dengan harga Rp20.000.

Ternyata persaingan di pasar masker kain menurutnya cukup ketat. Ipuk melakukan inovasi sesuai tren yang ada. "Saya menyamakan motif masker dengan topi cycling [bersepeda] buatan saya. Topi dan masker dijadikan paket seharga Rp105.000 bisa dibeli terpisah. Setiap rilis di Instagram, beberapa menit langsung sold out," kata Ipuk.

BACA JUGA: Memprihatinkan, Jumlah Anak Penderita Alergi Makanan Terus Bertambah

Ipuk mengatakan setidaknya dalam sepekan dia bisa mengerjakan 50 pesanan masker kain dan topi bersepeda dengan motif yang selaras. Menurutnya bisnis tekstil dan fesyen saat pandemi ini memang tertolong karena inovasi masker kain.

"Selain motif beragam yang jadi daya tarik pelanggan saya, saya juga selalu pakai bahan berkualitas, katun yang halus, jadi yang repeat order juga banyak," kata Ipuk.

Begitu pula dengan desainer Lia Mustafa yang awalnya juga menggerakkan para desainer lokal untuk membuat masker kain harian. Masker itu dibagikan secara gratis dalam program bantuan. Dari situlah datang permintaan yang tinggi.

BACA JUGA: Mbappe Ingin Pergi dari PSG, Liverpool Tujuan Favorit

Akan tetapi Lia melihat sudah banyak yang membuat masker kain dengan aneka desain. Maka dia memutuskan membuat masker kain harian dengan desain dan bahan berkualitas tinggi. Produksinya pun terbatas hanya untuk beberapa klien yang memang gemar memadu padankan masker dengan fesyen.

"Masker yang saya buat lebih ke masker fesyen. Dengan berbagai macam jenis kain. Produksi sedikit dan harganya saya pasang tinggi karena khusus untuk yang mementingkan fesyen," kata Lia.

Puncaknya, Lia menggelar fashion show bertajuk Masker dan Alam pada 29 Agustus hingga 4 September lalu. Masker yang ditampilkan adalah masker dengan berbagai ornamen seni khusus untuk kepentingan aksesori fesyen.

Standardisasi Masker

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada Riris Andono Ahmad mengatakan sejak awal pandemi Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menganjurkan penggunaan masker kain bagi masyarakat umum. Tetapi masker kain rumahan yang dibuat harus sesuai standar.

"Menurut standar WHO, kainnya bisa apa saja yang mudah didapat, tapi dianjurkan kain katun atau bahan kaos. Dan memang dianjurkan dibuat dengan tiga layer [lapis] kain. Itu dianggap bisa memberi proteksi," kata Doni, sapaan akrab Riris Andono Ahmad.

Semakin melonggarnya pembatasan sosial menuntut masyarakat untuk semakin memperketat pelaksanaan protokol kesehatan. Salah satunya adalah dengan disiplin menggunakan masker.

Momentum tersebut dibarengi dengan makin maraknya penjualan masker kain dengan aneka desain menarik. Penjualan masker kain bisa dikatakan pendongkrak bisnis kecil yang terpuruk saat pandemi.

BACA JUGA: Trio Anyar Everton Disanjung Setelah Kalahkan Tottenham

Akan tetapi di antara masker-masker fashionable tersebut, tak sedikit yang masih belum sesuai standar yang dianjurkan WHO. Terkait hal tersebut, Doni mengatakan masyarakat sebaiknya cermat dalam memilih masker kain yang akan dibeli.

"Tinggal pilih mau menurunkan risiko penularan atau tetap punya risiko relatif sama? Mau mendapatkan rasa aman atau rasa aman semu? Boleh beli masker karena menarik, tapi jangan lupa pertimbangkan apakah masker itu efektif melindungi?" kata Doni.

Doni mengatakan bagi masyarakat yang sudah terlanjur memberi masker fashionable namun belum sesuai standar, mereka bisa menambah lapisan tisu sebagai lapisan ketiga. Doni mengatakan cara ini juga dianjurkan oleh WHO.

"Yang penting masker itu melindungi tetapi tetap bisa buat bernafas dengan nyaman. Bisa dilapisi tisu, akan tetapi masih riskan karena mudah basah. Lebih baik pilih yang beberapa layer," kata Doni.