Gandhes Luwes Wujudkan Jogja Istimewa dan Nyaman Huni

Rangkaian agenda Jogja Cross Culture yang disiarkan secara online menampilkan beragam kesenian dan talk show menarik dengan tema Tumapak ing Jaman Anyar. - Istimewa/ Dok Diskominfosan
08 Oktober 2020 11:47 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - HUT Kota Jogja ke-264 tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semarak berbagai kegiatan perayaan ulang tahun Kota Jogja dilakukan secara daring, salah satunya agenda Jogja Cross Culture.

Disiarkan daring melalui media sosial Pemkot Jogja, Jogja Cross Culture tahun ini mengemban tema Tumapak ing Jaman Anyar. Tema yang dinilai relevan dengan situasi pandemi yang tengah melanda saat ini. Acara ini menampilkan beragam pertunjukan memulai dari seni musik, ragam tarian, flow art, fashion show, hingga acrobatic.

Tidak hanya itu, kegiatan yang dilakukan 7-8 Oktober 2020 ini juga melibatkan sejumlah seniman kondang, dari maestro tari Didi Nini Thowok, Elisha Orcarus Allasso, Anter Asmorotedjo, Pulang Jati Rangga dan lainnya.

Agenda yang tak kalah menarik adalah talk show yang menghadirkan Sekretaris Daerah Kota Jogja, Aman Yuriadijaya, dan KPH Notonegoro. Salah satu topik hangat hangat yang dibahas adalah soal program Gandhes Luwes milik Pemkot Jogja. Aman menjelaskan Gandhes Luwes ingin mewujudkan Kota Jogja yang nyaman huni dengan berpijak pada nilai keistimewaan.

"Artinya bahwa pada saat kita nyaman huni maka di situ ada fenomena-fenomena yang menguatkan karakter seni, karakter budaya, karakter sosial, dan karakter tata ruang sebagai salah satu gejalanya," terangnya pada Rabu (8/10/2020).

Aman menambahkan Kota Jogja pada ulang tahunnya ke-264 berada pada sebuah fase baru. Maka kemudian ia menyebutkan fase baru itu dengan Tumapak ing Jaman Anyar. "Kalimat ini pendek namun mengandung makna yang sangat luar biasa karena kita ingin meneguhkan dan membangun satu peradaban baru, jadi membaca budaya sebagai sebuah peradaban yang artinya bahwa kemudian peradaban ini menyentuh sendi masyarakat," tuturnya.

Khusus Kota Jogja, Aman membaca konteks fase baru ini dengan mengembangkan apa program Gandhes Luwes. Diterangkan Aman, bahwa Gandhes Luwes merupakan pengenjawantahan dari apa yang diwarnai sebuah semangat. "Ngarso dalem ngendika bahwa Segoro Amarta adalah soal semangat, tetapi fenomenanya, gejalanya adalah didorong dengan apa yang dinamakan program Gandhes Luwes," ujarnya.

Dikutip Aman dari pidato yang disampaikan Sultan Hamengkubuwono X bahwa Segoro Amarta merupakan semangat agawe majune Kota Jogja ini ada empat pilar. "Empat pilar tadi, pilar disiplin, pilar kepedulian, pilar kemandirian, dan tidak kalah penting adalah pilar kebersamaan," tandasnya.

Di sisi lain Aman juga menambahkan bahwa program Gandhes Luwes merupakan satu semangat sebagai proses modal sosial yang sangat luar biasa untuk diejawantahkan dengan program Gandhes Luwes. Khusus program Gandhes Luwes Aman menyebutkan bahwa ukurannya adalah penguatan. "Apa yang dikuatkan, yang dikuatkan adalah hal hal yang berkaitan dengan seni, dengan budaya, dengan aspek sosial dan tidak kalah pentingnya adalah aspek tata ruang," ungkapnya.

"Karana bagaimana pun Kota Jogja ini mengembang porsi yang sangat besar dalam konteks tata ruang dalam konteks keistimewaan, karena Kota Jogja OMK ada enam satuan ruang strategis, yang menjadi kekuatan keistimewaan Daerah Istimewa Jogjakarta, ini yang kita ingin kita bangun atmosfernya supaya lebih terlihat, visual dan ini menjadi kekuatan luar biasa bagi Kota Jogja dan DIY pada umumnya," tukas Aman.

Aman berharap momen ini dapat menjadi deklarasi Kota Jogja menapaki zaman baru. "Jaman anyar sudah hadir, maka sudah tumapak di situ, maka ayo kita berjalan dengan mengembangkan peradaban baru dengan titik nyapada ulang tahun kota jogja ke-264, atmosfer budayanya menjadi suatu yang sangat kentara," pungkasnya.

Sementara itu KPH Notonegoro, mengaku tema yang diambil Kota Jogja begitu berani. "Jadi saat saya membaca Tumapak ing Jaman Anyar, reaksi saya wah ini kendel, ini berani, karena berani mendeklarasikan ayo kita sudah memasuki suatu zaman yang baru, tinggal nanti bagaiamana warga kota jogja ini bener bener melaksanakannya," ujarnya.

Menurut KPH Notonegoro, membuat deklarasi di zaman baru merupakan hal yang sah-sah saja. "Boleh boleh saja, cuma bagaimana mengejawantahkannya, barunya di mana itu mungkin salah satu aspeknya sudah dijelaskan dengan program Gandhes Luwes, masalah kemandirian, Ngarso Dalem juga menyampaikan kepedulian, kemandirian Segoro Amarta itu tadi," ungkapnya.

"Ini saya rasa bagus sekali dari sisi keberanian mendeklarasikan ini yang kedua tinggal bagaimana memaknainya bagaimana memgimplentasikannya," tambah KPH Notonegoro.

Menurutnya, kalau Gandhes Luwes ingin berfokus pada kesenian dan kebudayaan, KPH Notonegoro menilai hal itu sangat penting. "Kenapa penting, Pangeran Mangkubumi saat mendirikan Kota Jogja juga membawa seni dan budaya, beliau seorang penari, beliau juga menciptakan tari-tarian, berarti kesenian itu adalah bagian bagian yang sangat penting do kehidupan keseharian masyarakat Jogja," ucapnya.

"Karena kesenian itu menjadi ciri atau dengan kesenian itu bisa menjadi jati diri kita sebagai masyarakat Jogja, kesenian harus menjadi simbol jati diri, jadi kalau kita menampilkan sebuah tarian, harusnya yang kita tampilkan bukan sekedar pola lantai dan koreografi, tetapi filsafat apa atau pesan pesan apa yang disampaikan dari tarian tersebut," tutup KPH Notonegoro.