Sapi Stres Sampai Menangis, Pengungsi Merapi Pilih Tidur di Kandang

Tenda yang didirikan oleh warga Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan, Sleman di dekat lapangan balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (20/11/2020)-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
20 November 2020 18:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sejumlah warga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, rela untuk menginap di sekitar kandang komunal yang berada tidak jauh dari barak pengungsian balai Desa Glagaharjo. Warga menginap untuk memantau aktivitas ternak sapi mereka pasca dievakuasi ke kandang komunal.

Salah satu warga Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Ratno, 47, mengatakan jika upayanya untuk menginap di sekitar kandang komunal bagi hewan ternak yang diungsikan ke lapangan balai desa Glagaharjo termasuk salah satunya adalah hewan ternak miliknya agar sapi kesayangannya tersebut tidak stres.

BACA JUGA: Magma Makin Dekat ke Permukaan, Aktivitas Merapi Makin Tinggi

"Saya temani sapi milik karena biar tidak stres. Baru-baru di sini (kandang komunal lapangan balai desa Glagaharjo) sapi stres hingga mengeluarkan air mata," ujar Ratno saat diwawancarai pada Jumat (20/11/2020).

Ratno dan sebelas warga Kalitengah Lor lainnya memang mendirikan tenda di sekitar kandang komunal lapangan balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Tenda warga sendiri berada di sebelah utara kandang komunal. Tujuannya, adalah sebagai tempat berteduh sekaligus tempat untuk bermalam sembari memantau aktivitas sapi.

"Saya tidak selalu menginap, baru dua hari yang lalu, tapi warga yang lainnya ada yang menginap juga sekitar. Saya kebetulan tidak selalu menginap karena masih punya anak di rumah," sambung Ratno.

Ratno dan warga lainnya rela untuk tidur hanya beralaskan tikar di malam hari untuk memantau agar sapi mereka tidak stres. Terlebih, warga juga bisa langsung mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada sapi mereka.

Pengalaman pahit Ratno saat erupsi 2010 membuat ia lebih waspada kali ini. Pasalnya, dua sapi perah miliknya harus meregang nyawa disapu awan panas Gunung Merapi. Kali ini, dia hanya memiliki satu sapi potong yang harus ia rawat baik-baik.

Sementara itu, warga lainnya yakni Puji Utomo, 75, warga Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, mengatakan jika ia menjaga dua sapi miliknya bukan tanpa alasan. Puji merasa lebih nyaman jika ia berada di dekat hewan ternaknya.

"Saya menjaga dua sapi milik saya, satu sapi milik anak saya. Sejak Senin saya tinggal bersama sapi saya di sini (kandang komunal lapangan balai desa Glagaharjo). Saya juga lebih tenang di sini bersama hewan ternak milik saya," sambung Ratno.

Ratno juga tidak menampik jika ia pernah tidur di kandang yang belum diisi oleh sapi. Dikarenakan, tenda darurat yang dibangun oleh Puji dan teman-temannya belum bisa melindunginya ketik hujan deras menerjang.

"Kalau hujan deras ya kami masuk ke kandang yang belum terisi sapi. Kalau di kandang itu kan lebih kokoh, kalau hujan menerjang dengan deras kan kandang bisa melindungi kami," terangnya.