Prokes Jadi Vaksin Jitu Tekan Transmisi

Ingat pesan ibu, cuci tangan dengan sabun. - Antara
27 November 2020 20:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Para ilmuwan hingga WHO hingga saat ini masih berusaha mencari racikan vaksin paling mumpuni untuk atasi pandemi Covid-19. Meski sejumlah perkembangan terus ditemukan, sejatinya protokol kesehatan pencegahan Covid-19 menjadi vaksin paling mungkin diterapkan hingga saat ini.

Dosen FKKMK UGM, Mohamad Saifudin
Hakim menyebut jika peningkatan kasus yang terjadi akhir-akhir ini dapat disebabkan kejenuhan masyarakat atas pandemi. WHO menyebut kondisi ini sebagai Pandemic Fatigue. "Kita melihat tren peningkatan kasus di Indonesia itu memang banyak sekali kita jumpai masyarakat yang menurut istilah Who itu Pandemic Fatigue. Kita semua sudah mulai mengalami titik jenuh dengan situasi pandemi yang berulang bulan terjadi di Indonesia ini," terangnya pada Jumat (27/11/2020).

Meski dinamika penyebaran kasus telah meningkat, Saifudin menjelaskan masih ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan angka kasus. Saifudin berpendapat jika saat ini banyak sekali pihak yang berbicara pada angka kesembuhan dengan penyediaan obat-obat. Padahal menekan angka transmisi virus justru menjadi kunci penanganan agar mencegah orang sehat agar tidak terinfeksi. "Kedua bagaimana cara kita menyembuhkan orang-orang yang terinfeksi sehingga merek harus sembuh," paparnya.

Saifudin berpandangan jika selama ini fokus penanganan pandemi hanya pada angka kesembuhan saja. Namun tidak melakukan tindakan mengendalikan tansmisi virus, sehingga akibatnya orang-orang yang sehat atau orang orang yang sebelumnya belum terinfeksi akan terpapar oleh virus dan menjadi sumber penularan baru. "Sehingga kita itu harus pada bagaimana kita mengendalikan penyebaran virus ini sehingga orang yang sehat dan belum terinfeksi itu dia harus terhindar dari paparan virus," ujarnya.

Upaya menghentikan transmisi virus bisa dilakukan dengan tetap fokus pada testing dan Tracing kontak. "Ini yang sesuatu hal saat ini itu sangat melelahkan. Jumlah tes PCR yang dilakukan per hari itu menurut hitungan harusnya 38 500 sampel, sedangkan kita rerata per pekan kita masih 27.000. Tracing untuk satu kasus standarnya 30 orang, raiso lacak kita masih rendah untuk satu kasus hanya tiga orang," ungkapnya.

"Kita harus menghentikan penyebaran virus, karena kalau tidak segera dihentikan Transmisi di manusianya tidak akan selesai. Sehingga tidak akan selesai juga pandemi. Indikatornya positif rated kurang dari 5 persen. Ini menjadi PR bersama kita, kalau kita tidak segera menghentikan penyebaran virus maka situasinya Covid akan jauh dari terkendali," tegasnya.

Cara menghentikan transmisi dapat dilakukan kan dengan pembatasan mobilitas. Selain itu protokol kesehatan pencegahan Covid-19 memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan masih jadi vaksin jitu untuk menghentikan transmisi. "Kepatuhan masyarakat selama pandemi juga berpengaruh terhadap peningkatan tren kasus," jelasnya.

Proses pembuatan vaksin hingga dapat didistribusikan ke publik bukan persoalan yang singkat. Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Zullies Ikawati menjelaskan jika secara umum untuk terapi pada Covid ini menggunakan anti virus karena disebabkan penyakit virus. Namun sampai saat ini belum ada anti virus yang spesifik yang direkomendasikan secara resmi. "Baru-baru ini sudah ada beberapa berita tentang remdesivir, tetapi WHO meminta tetap hati-hati dalam penggunaan. Tetapi saat ini belum ada yang direkomendasikan. Sehingga penggunaannya katakanlah belum terbukti efektif," jelasnya.

Antivirus yang digunakan saat ini mengacu pada terapi yang digunakan untuk penanganan sars dan mers atau jenis influenza lain semacam flu burung. Saat ini sangat banyak sekali uji obat yang dilakukan dengan berbagai belahan dunia sebagai strategi yang digunakan adalah drug reporpusing. "Drug reporpusing artinya menggunakan obat yang sudah ada untuk indikasi yang lain kemudian dipakai untuk Covid. Karena sama sekali from beginning kita buat obat baru, sintesis seperti itu, itu akan memakan waktu terlalu lama. Karena untuk satu penemuan obat yang benar-benar baru itu nanti bisa puluhan tahun. Sehingga yang digunakan adalah obat yang pernah dipakai walaupun bukan untuk Covid kemudian di cobalah untuk Covid," terangnya.

Sebetulnya obat dan vaksin hampir sama dalam prosedurnya, di mana untuk dinyatakan aman dan efektif harus menjalani suatu uji klinik. Zullies menerangkan jika obat atau vaksin akan aman atau efektif bila dilakukan uji klinik pada manusia. "Uji klinik memiliki aturan ketat dalam hal menjamin keselamatan manusia sebagai subjek uji. Jadi tidak mudah melakukan uji klinik, aturannya sangat rigid sekali," ujarnya.

Selain itu uji klinik juga harus mengacu pada aturan yang berlaku agar hasilnya bisa diterima negara lain. Diterangkan Zullies, hasil uji klinik akan dikirimkam dulu ke satu badan regulator seperti BPUM yang mengevaluasi kemaman dan kemanjurannya. "Kemudian dinyatakan aman dari data tersebut nanti mereka akan mendapatkan izin edar baru setelah distribusikam le publik. Kalau dia belum mendapatkan izin maka dia menjadi ilegal ketika didistribusikan ke pasaran," jelasnya.

Mengingat prosesnya yang panjang, vaksin kemungkinan tidak dalam waktu dekat dapat diimplementasikan. Namun warga sejak awal pandemi bisa terus menerapkan dan menegakkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 untuk membantu menekan transmisi penyebaran Covid-19 di mana pun tempatnya.