Masih Pandemi Covid-19, Sekolah Tatap Muka Harus Prioritaskan Kesehatan dan Keselamatan

Kegiatan Forum Group Discussion Masuk Sekolah Aman dengan Menerapkan 3M yang digelar Harian Jogja, Jumat (4/12/2020). - Ist/tangkapan layar
04 Desember 2020 15:57 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pandemi Covid-19 meluluhlantakkan segala bidang kehidupan termasuk pendidikan. Dalam penyelenggaraan pendidikan untuk siswa, hal yang diutamakan adalah kesehatan dan keselamatan peserta didik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat.

Prof Daniswara, Pengamat Pendidikan, Ketua Dewan Pendidikan DIY mengatakan pada Januari 2021, Kemendikbud akan mengizinkan sekolah tatap muka selama memenuhi persyaratan. “Yang boleh menyelenggarakan hanya daerah yang zona hijau dan zona kuning. Jogja sekarang merah. Jadi, jelas Jogja berat kalau adakan tatap muka karena resikonya sangat besar,” katanya, Forum Group Discussion Masuk Sekolah Aman dengan Menerapkan 3M yang digelar Harian Jogja, Jumat (4/12/2020).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini, ia mengatakan pandemi masih buta kapan akan selesai dan kapan situasi kembali normal. Namun, ia berpesan agar masyarakat tidak merisaukan hal ini apalagi paranoid terhadap Covid-19. Ia menyarankan agar masyarakat hidup berdampingan dengan Covid-19 (living in harmony with Covid-19).

Baca juga: Kasus Terus Meningkat, Pimpinan DPR Minta Pemerintah Evaluasi Total Penanganan Covid-19

“Seperti dulu dengan Gunung Merapi, tidak tahu kapan akan meletus, tapi karena bisa memantau pergerakan magma, orang sekitar Merapi bahkan orang di Pulau Jawa harus hidup harmony dengan Merapi,” tuturnya.

Ia berharap penyelenggara pendidikan hati-hati jika ingin mengadakan pendidikan tatap muka. Apalagi, pola hubungan guru dan murid di Indonesia sangat akrab sehingga berpotensi terjadi penularan virus, terutama dari OTG. Meski ada masker, menurutnya anak-anak sering lengah. Melepas sebentar saja sudah riskan.

Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana menambahkan saat ini pendidikan tatap muka sudah menjadi harapan sebagian besar dari siswa. Namun, pihaknya sangat hati-hati, masih harus mengevaluasi apalagi saat ini kondisi rumah sakit hampir pada penuh, ditambah agenda mau pilkada.

Baca juga: Protokol Kesehatan di Tempat Wisata Harus Diperketat

DPRD DIY telah melakukan penelitian tentang pendidikan anak selama pandemic, yakni pada Juli sampai September 2020. Mereka mensurvei 925 responden terdiri orang tua, guru, pengurus yayasan, pengurus kampus, pengurus kampung, siswa SD, SMP dan SMA. “Kami memotret problem-problem pendidikan di masa pandemi.  Hasilnya terjadi permasalahan anak di masa pandemic,” jelasnya.

Di antaranya, ada hambatan belajar berupa akademis, anak-anak sulit memahami materi. Ini terjadi pada siswa SD SMP dan SMA. Apalagi, orang tua juga kurang mampu mendampingi anak belajar. Muncul pula hambatan kuota dan device yang bukan hanya dialami siswa tetapi juga guru.

Saat belajar di rumah, siwa juga bisa mengalami gangguan belajar, karena adanya anggota keluarga lain yang beraktivitas di rumah. Ada iswa yang mengeluhkan tidak ada penjelasan materi dari guru, tapi langsung beri tugas, siswa tidak diberi materi dari guru tetapi dari Youtube atau Google. Apalagi ada orang tua yang gagap teknologi dan sulit mendampingi anak belajar.

“Kami merekomendasikan jika akan mengadakan tatap muka hendaknya tapi terbatas, dengan menerapkan protokol kesehatan, pelajaran tertentu saja, masuknya tidak penuh dan dijarangkan untuk kurangi tekanan belajar pada anak. Perlu kembangkan percontohan sekolah aman dan zero Covid-19 jadi model untuk diterapkan untuk yang lain, bertahap dan didampingi ketat oleh dokter,” katanya.

Kepala Bidang Dikmen Disdikpora DIY, Isti Triasih merekomendasikan setiap sekolah membentuk Satgas Covid-19 agar menyiapkan daftar checklist untuk kesiapan pembelajaran tatap muka. “Karena ada pandemi, perlu ada relaksasi dana BOS agar bisa dugunakan untuk penyediaan sarana prasarana masa Covid-19. Perlu juga kurikulum perlu yang berbeda. Jogja sudah punya Jogja Belajar untuk membantu orang tua agar bisa membantu anak belajar di rumah,” katanya.