Proyek Samudra Raksa Rampung tapi Belum Jelas Kapan Difungsikan

Ilustrasi. - Freepik
11 Desember 2020 15:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-Proyek pembangunan Gerbang Samudra Raksa di perbatasan Kulonprogo-Magelang, Kalurahan Banjaroya, Kapanewon Kalibawang, telah rampung. Namun bangunan senilai Rp23 miliar tersebut belum jelas kapan akan difungsikan. 

Kepala Satker Pelaksanaan Prasarana Permukiman Balai PPW DIY, Arif Wahyu mengatakan secara umum konstruksi fisik gerbang Samudra Raksa atau juga biasa disebut Gerbang Klangon sudah selesai 100 persen. Pihaknya telah merampungkan proyek itu selama 270 hari atau sekitar 9 bulan terhitung sejak awal 2020.

Akan tetapi lanjut Arif, pihaknya belum bisa memastikan kapan bangunan yang masuk kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) Borobudur dan digadang-gadang bakal menjadi ikon baru pariwisata DIY itu dapat difungsikan. Saat ini pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat terkait jadwal peresmian sekaligus pihak mana yang ditunjuk sebagai pengelola tempat itu. Pihaknya sendiri hanya bertugas sebagai pelaksana pembangunan bukan pengelola. 

Baca juga: Hewan Ternak dari Merapi Akan Diberi Barcode

"Kita masih koordinasikan dulu dengan pemerintah pusat terkait jadwal peresmian sekaligus pengelolanya, apakah dari pusat atau pemkab setempat. Nah Karena lokasinya masuk wilayah Kulonprogo, ada kemungkinan akan dikelola pemerintah sini," ujar Arif saat ditemui awak media seusai audiensi dengan Bupati Kulonprogo, di Komplek Pemkab Kulonprogo, Jumat (11/12/2020). 

Arif mengatakan jika proses itu sudah rampung dan telah ditetapkan siapa yang mengelola Gerbang Samudra Raksa, selanjutnya akan dilakukan serah terima kepada pihak pengelola tersebut. Bila nanti yang ditunjuk adalah Pemkab Kulonprogo, maka mereka memiliki kewenangan untuk mengatur penggunaan fasilitas tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Pemkab juga dapat menentukan UMKM apa saja yang bisa beroperasi di sana. 

"Karena di sana kan ada los kuliner dan UMKM, nah nanti yang menentukan itu kalau ini jadi dikelola pemkab setempat maka kewenangan di mereka. Secara prinsip sekarang kita hanya tinggal tunggu waktu aja," jelasnya

Bupati Kulonprogo, Sutedjo mengatakan telah bertemu dengan pihak pelaksana pembangunan Gerbang Samudera Raksa, termasuk BPPW DIY. Dalam pertemuan itu, ada sejumlah poin yang disampaikan, yakni tentang telah selesainya proyek tersebut, proses selanjutnya yang akan ditempuh serta perihal pengelolaan tempat. 

Baca juga: Kisah Unik, Damkar Magelang Bantu Warga Lepas Cincin yang Nyangkut di Jari

Dia menjelaskan, Pemkab Kulonprogo kemungkinan akan ditunjuk sebagai pengelola Gerbang Samudera Raksa lantaran lokasi bangunan itu berada di wilayah kabupaten ini. 

Di satu sisi, hal itu menjadi peluang bagus bagi masyarakat Kulonprogo karena dengan begitu UMKM asli Bumi Menoreh bisa masuk di sana. Namun di sisi lain lanjut Sutedjo, pengelolaan yang dilimpahkan ke Pemkab ini bisa menjadi persoalan, karena pemkab dituntut untuk bisa menyediakan dana operasional sementara di APBD Kulonprogo 2021 hal itu belum dimasukkan. 

"Pemda harus membiayai operasional, seperti biaya perawatan, penyediaan air bersih, dan sebagainya, nah sementara di [APBD] 2021 belum dianggarkan," ucapnya. 

Oleh karena itu, pemkab tidak mau berspekulasi, dan memilih untuk menunggu keputusan dari pemerintah pusat. "Nanti ada pembahasan lebih lanjut, kami menunggu saja," ujar Sutedjo.
 
Rest Area

Untuk diketahui pembangunan Gerbang Samudra Raksa merupakan salah satu program Pemerintah Pusat untuk pengembangan infrastruktur KSPN Candi Borobudur. Tempat ini akan difungsikan sebagai rest area bagi wisatawan ataupun masyarakat umum baik dari dan ke Yogyakarta International Airport (YIA) Kapanewon Temon, menuju Candi Borobudur.

Tempat ini akan dilengkapi dengan relief dari batu berbentuk Gerbang Klangon dengan tema Samudra Raksa, yang merupakan salah satu kapal kayu bercadik khas Nusantara dengan mempresentasikan kebudayaan bahari purbakala. Di tempat ini juga akan dibangun areal pedestrian, drainase, pusat kuliner, kios oleh-oleh dan fasilitas penunjang wisata lainnya. (Jalu Rahman Dewantara).