KABAR KAMPUS: Rektor UGM Sebut Ada Kesenjangan Pendidikan di Jawa dan Luar Jawa

Universitas Gadjah Mada (UGM). - Ist/dok ugm.ac.id
13 Desember 2020 12:17 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono menyatakan masih ada kesenjangan pendidikan antara Jawa dan luar Jawa. Karenanya, ia mendorong upaya berbagai pihak untuk memajukan pendidikan ini agar cepat setara antara yang di Jawa dan luar Jawa.

Hal itu diungkapkan Prof. Panut saat membuka webinar bertema Peran Universitas Gadjah Mada dalam Pembangunan Nasional, Jumat (11/12/2020).
“Di sinilah peran pemerintah yang mesti harus dilakukan agar perguruan tinggi di Jawa, termasuk UGM, menebarkan ilmunya dan memberikan bimbingan dan kerja sama dengan perguruan tinggi luar Jawa," katanya, dikutip dari ugm.ac.id.

Baca juga: Mesir Akan Produksi Vaksin Covid-19 Sinovac

Pendidikan di Indonesia, lanjutnya, diharapkan bisa maju dan lebih banyak berperan lagi agar kemajuan Indonesia merata dan bangsa Indonesia mampu menjadi negara yang berdaya saing tinggi. Untuk mewujudkannya, UGM tidak dapat berbuat sendiri dan harus bersinergi dengan banyak pihak.

“Karena itu, jika UGM memiliki sedikit kelebihan maka marilah tularkan pada pihak lain, dan tidak ada persoalan negeri ini yang hanya bisa diselesaikan oleh sekelompok orang, apalagi hanya oleh UGM sendiri tentu tidak mungkin. Jadi, sinergi kerja sama, saling memberi dan saling mengajak menjadi kunci untuk bangsa kita agar maju," tuturnya.

UGM, katanya, membuka diri untuk mahasiswa-mahasiswa luar Jawa yang berkeinginan merasakan atmosfer pendidikan di UGM dalam beberapa semester. Selain itu, bersama dengan perguruan tinggi luar di daerah untuk melakukan penelitian terkait beberapa potensi unggulan yang dimiliki di daerah.

Webinar bertema Peran Universitas Gadjah Mada dalam Pembangunan Nasional digelar Dewan Guru Besar UGM dalam rangka Dies ke-71 UGM. Seminar online ini menghadirkan 7 pembicara, yaitu Prof. Adri Patton (Rektor Universitas Borneo, Tarakan), Prof. Philipus Betaubun (Rektor Musamus Merauke), Ibrahim (Rektor Universitas Bangka Belitung), Prof. Agus Sartono (Deputi Menteri Bidang Pendidikan dan Agama, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kemenko PMK), Prof. Nizam (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), Akhsan Djalaluddin (Rektor Universitas Sulawesi Barat) dan Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono.

Baca juga: Kemenparekraf Lakukan Evaluasi Dana Hibah Pariwisata 2020

Agus Sartono menyatakan dalam rentang waktu 2030- 2035 Indonesia akan memiliki bonus demografi. Meski begitu di saat bersamaan Indonesia juga dihadapkan pada banyak tantangan menjelang Indonesia emas nanti.

Di antaranya jumlah penduduk akan meningkat, dan mengandung konsekuensi pada pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan papan. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus harus dirancang dari sekarang agar tidak terjadi ketergantungan terhadap impor.

“Ini luar biasa tantangannya, kontribusi perguruan tinggi disini sangat nyata, bagaimana merancang terkait dengan hal-hal peningkatan jumlah penduduk ini. Belum lagi soal-soal yang menyangkut meningkatnya usia harapan hidup yang mencapai 72 tahun dan problem urbanisasi di daerah pinggiran kota nantinya," ucapnya.

Dirjen Dikti, Prof. Nizam, sependapat dengan hal tersebut. Menurutnya, banyak negara berdasar pengalaman selama ini gagal memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki, seperti Amerika Latin, Afrika Utara dan lain-lain.

“Jadi, ini menjadikan pekerjaan rumah bagi kita bersama. Juga ubanisasi dengan kompleksitas masalah kemasyarakatannya, serta beralihnya masyarakat agraris ke kota. Selain perdagangan internasional yang semakin terbuka," katanya.

Oleh karena itu, Nizam berharap UGM senantiasa mengembangkan diri sebagai universitas kerakyatan dengan mengarus utamakan membangun Indonesia dari pinggiran. Membangun Indonesia sebagai benua maritim dan membangun desa dengan tridarma.

“Tentu saja sangat diharapkan UGM melakukan pengabdian masyarakat dengan orientasi kemashlahatan masyarakat, melakukan pengembangan desa dan kawasan binaan bersama perguruan tinggi di daerah," paparnya.

Ketua DGB, Prof. Drs. Koentjoro menambahkan terkait pembangunan nasional telah terjadi banyak perubahan akibat pandemi Covid-19 dan masalah-masalah yang lain. Oleh karena itu, hanya dengan sinergitas antar perguruan tinggi bisa maju bersama.

“UGM sebagai universitas pembina seharusnya mampu bersama universitas-universitas yang lain untuk membimbing, membina sehingga perguruan-perguruan tinggi di daerah tertinggal dan universitas yang lain bisa berjalan dengan baik, dan maju bersama," ungkapnya.