Angka Penularan Covid-19 di Sleman Masih Tinggi, Ada 954 Kasus Aktif

Ilustrasi. - Freepik
13 Desember 2020 09:27 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Dinas Kesehatan Sleman mengkaji terkait kasus COVID-19 dari satu orang pasien positif di Sleman bisa ditularkan kepada lima orang. Angka penularan itu lebih tinggi ketimbang angka penularan hasil kajian medis, yang umumnya penularan bisa terjadi dari satu orang positif COVID-19 kepada dua hingga tiga orang lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, menyebutkan, terhitung hingga Jumat (11/12/2020), ada 3.514 kasus positif COVID-19 di Sleman. Sebanyak 83% pasien positif asimtomatik, 11,3% gejala ringan, 1,79% pasien gejala sedang, dan 3,81% gejala berat.

BACA JUGA : Seluruh Daerah di Jogja Saat Ini Berstatus Zona Merah Corona

"Persentase itu dari total keseluruhan kasus positif, yang terbesar sekitar 65% adalah dari kontak erat kasus positif. Dalam penanganan, kami punya pegangan bahwa setiap kasus positif harus dilakukan tracing, dan dari kontak erat itu harus menjalani tes usap," tegas Joko.

Ia juga menyatakan, pasien sembuh di Sleman mencapai 2.507 orang. Namun demikian, angka kesembuhan Sleman sebesar 71,34% itu masih lebih rendah ketimbang angka nasional, yang mencapai lebih dari 80%.

Sementara itu, angka kematian akibat COVID-19 di Sleman mencapai 1,48%. Jumlah itu masih lebih rendah daripada tingkat kematian nasional sebesar 3,4%. "Angka penularan COVID-19 di Sleman masih sangat tinggi, saat ini ada 954 kasus konfirmasi aktif," terang eks Direktur Utama RSUD Sleman tersebut.

Ia menambahkan sebagian besar kasus itu dijumpai lewat tracing kontak erat. Ia mengakui, pengawasan isolasi mandiri para pasien positif COVID-19 selama ini masih belum ketat.

BACA JUGA : Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 di Sleman Meningkat 

"Ya untuk reproduksi atau angka penularan itu, kami bisa memperkirakan terjadi akibat kemarin tidak disiplin isolasi mandiri. Isolasi mandiri belum kami awasi ketat. Maka kini harus kami perketat, tak ada pilihan lain," ujarnya kepada awak media, Sabtu (12/12/2020).

Ia mengungkapkan, saat ini tercatat ada 705 pasien positif COVID-19 sedang menjalani isolasi mandiri. Rerata, masyarakat yang minta izin isolasi mandiri itu karena merasa lebih nyaman di rumah, ada anggota keluarga yang mengawasi, dan meyakinkan ada fasilitas memadai.

Tidak adanya kepastian masyarakat disiplin isolasi mandiri menyebabkan sejak awal Bupati Sleman menekankan agar pasien positif COVID-19 agar diisolasi di fasilitas kesehatan.

BACA JUGA : Kasus Jauh Lebih Sedikit, Kematian Pasien Positif Covid-19

"Tapi masalahnya orang Jogja itu tingkat intelejensinya tinggi-tinggi, jadi mereka bisa mengakses informasi dan menemukan bahwa berdasarkan rekomendasi Kemenkes, untuk pasien asimtomatik bisa isolasi mandiri di rumah. Maka mereka meminta isolasi mandiri di rumah," terangnya.

Dinkes pun merekomendasikan, pengawasan pasien yang isolasi mandiri harus melibatkan tetangga dan Satgas COVID-19 tingkat padukuhan. Sementara itu, puskesmas memantau secara daring dan mengecek gejala demam, batuk-pilek, maupun ada-tidaknya gejala hilangnya indra perasa maupun penciuman. Bila selanjutnya ditemukan gejala itu, puskesmas akan meminta RS memeriksa pasien lebih lanjut.

Sumber : suara.com