Pemda DIY Akan Mengerem Tes Swab

Ilustrasi - Antara/Galih Pradipta
28 Desember 2020 08:47 WIB Tim Harian Jogja Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY secara bertahap akan mengerem tes swab polymerase chain reaction (PCR). Sementara, deteksi Covid-19 kemungkinan akan lebih mudah menyusul terbitnya izin edar GeNose bikinan UGM.

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih mengatakan DIY akan mengacu pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Revisi V yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Panduan itu menyebut tidak semua kontak erat kasus positif Covid-19 dites swab, tetapi hanya kontak erat yang bergejala.

Berty mengaku DIY belum mengadopsi pedoman tersebut secara keseluruhan, terutama pada poin swab untuk kontak erat ini sehingga kontak erat masih dites swab meski tidak bergejala. “Secara bertahap, kontak erat tak bergejala tidak dites swab,” ujar dia.

Dengan demikian, selanjutnya seluruh kontak erat wajib isolasi mandiri.

Pemerintah Kabupaten Bantul juga sedang menyusun pedoman yang mengatur bahwa orang yang kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala tidak harus menjalani tes swab.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinas Kesehatan Bantul, Sapta Adisuka Mulyatno, mengaku akan mengikuti Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Revisi V mengingat jumlah warga Bantul yang terkonfirmasi positif khususnya orang tanpa gejala terus meningkat, sedangkan ketersediaan rumah sakit khusus Covid-19 dan selter terbatas.

Selama ini, pemeriksaan spesimen hanya terpusat di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP). Balai yang melayani uji spesimen dari DIY dan Jawa Tengah tersebut juga terbatas. Mobil laboratorium PCR juga tidak bisa melayani dalam jumlah banyak.

Sejak diresmikan awal November lalu sampai menjelang akhir Desember ini mobil PCR baru melayani sekitar seratusan orang.

Menurut dia kontak erat yang tidak bergejala cukup melakukan isolasi di rumah dan diawasi gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 tingkat desa. Sapta juga meminta warga tidak boleh menolak jika ada yang isolasi di rumah.

Dinas Kesehatan Sleman juga meminta kontak erat pasien positif Covid-19 tidak bergejala melakukan isolasi mandiri karena tidak akan dites swab.

“Isolasi mandiri terus kami upayakan agar sesuai ketentuan, memang tidak mudah tapi harus terus diupayakan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Sleman, pasien positif Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri sebanyak 1.013 orang per Sabtu (26/12).

Meskipun menjalani isolasi di rumah, para pasien tersebut tetap dimonitor oleh puskesmas. “Kalau ada gejala demam atau gejala lain, pasien tersebut akan dirujuk ke rumah sakit,” ujar Joko.

Revisi V yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan memuat sejumlah poin. Semua kasus konfirmasi positif harus ditelusuri kontak erat. Kontak erat yang diambil swab PCR hanya yang bergejala. Pasien konfirmasi asimtomatik, gejala ringan, dan gejala sedang tidak wajib menjalani pemeriksaan follow up RT-PCR.

Mereka dinyatakan selesai isolasi apabila sudah menjalani isolasi mandiri selama 10 hari sejak pengambilan spesimen untuk pasien asimtomatik, dan ditambah tiga hari untuk pasien konfirmasi dengan gejala ringan, dan sedang.

Izin Edar GeNose

Di sisi lain, deteksi Covid-19 kemungkinan akan lebih mudah dan murah. Setelah melalui serangkaian proses, alat pendeteksi Covid-19 besutan akademisi UGM, GeNose, akhirnya mengantongi izin edar dan siap dipasarkan.

Ketua Tim Pengembang GeNose, Kuwat Triyana, mengatakan izin edar GeNose dari Kemenkes turun pada Kamis (24/12) dengan nomor KEMENKES RI AKD 20401022883.

“Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan luar biasa dari banyak pihak, GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar untuk mulai dapat pengakuan oleh regulator, yakni Kementerian Kesehatan, dalam membantu penanganan Covid-19 melalui screening cepat,” kata Kuwat, Sabtu.

Setelah izin edar diperoleh, tim akan melakukan menyerahkan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh BIN dan Kemenristek/BRIN untuk didistribusikan.

“Dengan 100 unit batch pertama yang akan dilepas, kami berharap dapat melakukan 120 tes per alat atau atau total 12.000 orang sehari. Angka 120 tes per alat itu dari estimasi bahwa setiap tes membutuhkan waktu tiga menit termasuk pengambilan napas sehingga satu jam dapat mengetes 20 orang dan bila efektif alat bekerja selama enam jam,” urainya.

Harapan ini dapat diwujudkan jika distribusi GeNose C19 tepat sasaran. Ia mencontohkan sejumlah tempat untuk pendistribusian seperti bandara, stasiun kereta, dan tempat keramaian lainnya termasuk di rumah sakit.

Distribusi juga bisa dilakukan pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dapat mendekati suspek Covid-19. Namun pada tahap ini, kata dia, tidak memungkinkan pengadaan GeNose C19 untuk keperluan pribadi. Dia berharap GeNose C19 akan meningkatkan jumlah tes Covid-19 menjadi 1,2 juta orang per hari.

Kuwat mengatakan biaya tes dengan GeNose C19 cukup terjangkau, yakni sekitar Rp15.000-Rp25.000. Hasil tes juga sangat cepat sekitar dua menit serta tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lain. Selain itu, pengambilan sampel tes berupa embusan napas juga dirasakan lebih nyaman dibandingkan metode usap atau swab.