Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). /ANTARA FOTO-Andreas Fitri Atmoko
Harianjogja.com, SLEMAN-Gunung Merapi memiliki siklus aktivitas erupsi yang masih akan terus terjadi. Masyarakat sekitar beserta pemerintah diharapkan mampu dengan arif menyikapi fenomena ini, untuk dapat hidup berdampingan dengan Gunung Merapi.
Ahli Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, mengatakan Gunung Merapi dan masyarakat memiliki hak yang sama untuk hidup berdampingan, sehingga harus saling menjaga. Hal ini ia sampaikan dalam Jagongan Online Menyapa Merapi, Sabtu (27/2/2021).
Menurutnya, dalam upaya mitigasi, harus memperhatikan kearifan lokal. “Diklat penanggulangan bencana harus dilakukan terus menerus bukan hanya melindungi masyarakat, tapi membuat desa Tangguh bencana. Saya harap bukan projek dari atas ke bawah. Ketangguhan bencana sangat bergantung kearifan lokal. Tidak sama rumusnya di setiap daerah,” katanya.
Aktivitas masyarakat juga perlu memperhatikan kepentingan lingkungan, jangan sampai menimbulkan kerusakan. Ia mencontohkan dalam aktivitas tambang galian C. menurutnya, aktivitas penambangan boleh saja, namun dengan tetap menjaga daya dukung lingkungan.
“Jangan sampai masyarakat yang gagal berinovasi, yang diperkosa sumber daya alam. Kita harus hati-hari, nambang boleh tapi ada batasnya. Jangan potong mataa air bawah permukaan, lingkungan rusak dan sebagainya, semua rusak hanya untuk keuntungan sesaat,” ungkapnya.
Kemudian untuk aktivitas wisata juga harus tetap memperhatikan kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Merapi dengan tidak memaksakan kepentingan wisata dan berbagi ruang dengan Gunung Merapi. Pengawasan pembangunan di KRB Gunung Merapi sudah diatur dalam UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang.
Warga Penyintas Padukuhan Turgo, Purwobinangun, Indra Baskoro Adi, mengatakan pada 2008 masyarakat sekitar Gunung Merapi telah didampingi untuk melakukan upaya mitigasi seperti kapan waktu untuk evakuasi, dimana titik kumpul, dan scenario dalam setiap status Gunung Merapi.
Masyarakat di Sekitar Gunung Merapi yang meliputi empat kabupaten yakni Sleman, Klaten, Boyolali, dan Magelang, telah membentuk Paguyuban Siaga Merapi (Pasak Merapi). “karena ancaman Merapi tidak hanya satu sektor, bisa barat, barat daya, barat laut, dan sebagainya. Itu yang buat kami harus bersama,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Kementerian PU mendapat anggaran 2027 Rp114,59 triliun. Konektivitas jalan dan jembatan menjadi sektor dengan alokasi terbesar.
Jumlah lansia di Kota Jogja mencapai sekitar 16% pada Juli 2026. DPRD mendorong lansia tetap aktif, sehat, dan rutin bersosialisasi.
Sepekan dikelola KAI Commuter, KA Bandara YIA melayani hingga 8.000 penumpang per hari saat akhir pekan dengan 50 perjalanan.
Volume sampah Sleman mencapai 15.429 ton hingga pertengahan September 2026. DLH mewaspadai risiko kebakaran saat musim kemarau.
Onsen Resort Kaliurang menghadirkan konsep akomodasi yang memadukan suasana pegunungan dengan nuansa Jepang di kawasan lereng Gunung Merapi, Sleman