Bikin Pesanan Palsu ke Toko Roti, 4 Orang Ditangkap Polisi Bulaksumur

Ilustrasi. - Freepik
24 Mei 2021 21:27 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Empat pria asal Jakarta ditangkap Polsek Bulaksumur atas aksinya membuat pesanan palsu dengan menipu sebuah toko roti. Keempatnya ditangkap di salah satu hotel di kawasan Malioboro, berikut barang curiannya yakni 58 kaleng mentega senilai Rp8 juta.

Kanit Reskrim Polsek Bulaksumur, Iptu Purwanto, menjelaskan kejadian bermula ketika keempat pelaku datang ke Jogja dari Surabaya, menggunakan dua motor pada Selasa (18/5/2021). Di Jogja, keempat orang ini menginap di sebuah hotel dan kemudian jalan-jalan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Saat berjalan-jalan itu lah keempatnya melihat sebuah toko roti yang memasang nomor telfon. Salah satu dari keempatnya, B, menghubungi nomor tersebut dan memesan 58 kaleng mentega. “Pesanan diminta dikirimkan ke Toko Rempah Asia, di karangwuni, Caturtunggal,” ujarnya, Senin (24/5/2021).

Baca juga: Turun Dari Bukit Mangunan, Pegowes Jatuh & Meninggal Dunia

B mengaku sebagai Arifin, pemilik Toko Rempah Asia tersebut. Pada waktu yang ditentukan, dua dari empat pelaku telah menunggu korban yang mengantarkan pesanan di depan Toko Rempah Asia. Kedua pelaku mengelabui korban dan berhasil pergi dengan membawa barang pesanannya.

Korban baru menyadari telah tertipu saat masuk ke Toko Rempah Asia dan menanyakan pesanan tadi. Setelah dikonfirmasi, ternyata dari Toko Rempah Asia tidak memesan 58 kaleng mentega itu, serta tidak ada karyawannya yang bernama Arifin.

Setelah sempat mencari pelaku namun tidak ketemu, korban pun melapor ke Polsek Bulaksumur. Polisi mencari keberadaan pelaku melalui ciri motor yang digunakan. setelah dilakukan penyisiran, pelaku diketahui berada di hotel di kawasan Malioboro, yang kemudian diamankan beserta barang hasil penipuannya.

“Awalnya kami dapatkan motor pelaku, setelah itu kami tangkap pelaku saat menginap di dalam hotel. Dari pemeriksaan, rencananya mentega itu akan dikirim ke Jakarta dulu, setelah itu baru akan dijual. Motifnya karena masalah ekonomi,” ungkap Purwanto.