Kasus Pemakaman Tanpa Prokes, Ketua RT Sebut Ada Miskomunikasi

Foto ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik. - Ist/FOTO ANTARA
05 Juni 2021 20:47 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Ketua RT92 Padukuhan Lopati, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kuswanto, menyebut ada miskomunikasi dalam kejadian pemakaman tanpa protokol kesehatan di Lopati.

Kuswanto membantah adanya penolakan dari warga untuk memakamkan jenazah Covid-19 dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) pada 1 Juni 2021.

“Jadi bukan menolak. Hanya ada miskomunikasi saja," kata Kuswanto, Sabtu (5/6/2021). Cerita ketua RT itu, jenazah datang tengah malam dalam keadaan sudah di peti jenazah.

Warga mencoba menghubungi sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Satgas Covid-19 tingkat kalurahan namun tidak ada respons. Sampai subuh tidak ada petugas datang sehingga warga memakamkan sendiri jenazah itu.

Meski memakamkan sendiri, Kuswanto menyatakan jenazah ada di dalam peti jenazah dan saat disalatkan, jenazah berada di dalam ambulans.

Kuswanto menilai langkah menguburkan jenazah yang dilakukan oleh warga dilakukan karena tidak ada orang yang mengarahkan. Alhasil warga panik dam nekat menguburkan jenazah.

“Jika ada yang mengarahkan kami manut kok. Sampai di makam tidak ada petugas pemakaman, kami [warga] kira ada petugas dari ruma hsakit ternyata dari satgas [wilayah] sendiri,” tutur Kuswanto.

Mengenai sosok A yang diduga provokator, Kuswanto menyatakan A adalah warga RT93 bukan warga RT92 yang dipimpinnya. Penolakan pemakaman dengan protokol kesehatan sempat terjadi pada 18 Mei 2021 di RT lainnya di Lopati tetapi hasil uji usap jenazah saat itu negatif.

Panewu Srandakan, Anton Yulianto menyatakan masih memastikan pernyataan versi warga Lopati dan juga versi yang dia terima. Rencananya, dirinya berkoordinasi dengan Pemkab Bantul dan FPRB terkait dengan kepastian fakta yang ada.

“Untuk saat ini kami fokus ke pelayanan untuk uji usap PCR warga di Lopati,” ucapnya. Dalam pelaksanaanna, dari 25 warga yang terdaftar dan harus menjalani uji usap PCR pada Sabtu (5/6/2021), hanya ada enam warga yang menjalani uji usap PCR.