Atasi DBD, Metode Wolbachia Makin Diakui Dunia

WMP Lab. - Ist
10 Juni 2021 14:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Hasil dari randomised controlled trial World Mosquito Program (WMP) yang dipublikasikan pada jurnal kesehatan dunia yang sangat bereputasi, the New England Journal of Medicine (NEJM), menunjukkan pengurangan kasus dengue sebesar 77% di wilayah penyebaran nyamuk di Kota Jogja. Pasien dengue yang dirawat di rumah sakit juga berkurang hingga 86%. Wolbachia mempunyai efikasi yang setara terhadap empat varian virus dengue yang ada.

Uji efikasi AWED - “Applying Wolbachia to Eliminate Dengue” atau "Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue", dilakukan World Mosquito Program (WMP). Proyek penelitian inimerupakan kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada dan Monash University dengan didanai oleh Yayasan Tahija. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian Wolbachiapada populasi nyamuk Aedes aegypti lokal dapat mengurangi kasus dengue terkonfirmasi secara virologis,pada warga berusia 3-45 tahun yang tinggal di Kota Yogyakarta, Indonesia.

Lebih dari tiga tahun setelah penyebaran nyamuk ber-Wolbachia di tahun 2017, persentase Wolbachia tetap terpantau tinggi pada populasi nyamuk lokal. Metode Wolbachia telah diimplementasikan di seluruh Kota Jogja dan mulai diimplementasikan di kabupaten sekitarnya yaitu Sleman dan Bantul, agar dapat melindungi 2,5 juta penduduk dari penyakit DBD.

Hasil uji efikasi AWED konsisten dengan hasil penelitian Wolbachia sebelumnya, yang menunjukkan pengurangan kejadian dengue dalam jangka panjang setelah Wolbachia terdapat di populasi nyamuk lokal.

DBD adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dan cepat menyebar di dunia. Lebih dari 50 juta kasus terjadi secara global setiap tahun. Indonesia merupakan salah satu negara endemis dengue, dengan hampir 8 juta kasus DBD terjadi setiap tahunnya.

Baca juga: GUGUR GUNUNG EKONOMI DIY: Berinovasi dengan Memanfaatkan SDA untuk Bangkit

Penelitian tersebut menunjukkan metode Wolbachia juga efektif mencegah penyebaran Zika, chikungunya, demam kuning, dan penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamukAedes aegypti.

Dinas Kesehatan Kota Jogja mencatat ada lebih dari 4.500 pasien dengue yang dirawat di rumah sakit,lima tahun sebelum penelitian AWED dilakukan. Angka tersebut sebenarnya tidak menggambarkan beban dengue yang sesungguhnya bagi sistem kesehatan dan masyarakat. Studi ekonomi memperkirakan terdapat rata-rata 14.000 kasus dengue termasuk 2.000 yang dirawat di rumah sakit di Kota Jogja tiap tahunnya sebelum implementasi Wolbachia.

“Ini adalah kesuksesan besar bagi masyarakat Jogja. Di sisi lain, Indonesia memiliki lebih dari tujuh juta kasus dengue setiap tahunnya. Kesuksesan inimemungkinkan kami untuk memperluas manfaat Wolbachia ke kota-kota lainnya di Indonesia. Kami berpikir, teknologi ini menjadi peluang bagi masyarakat Indonesia agar bisa terbebasdari ancaman DBD," ujar Peneliti Utama WMP Jogja, Prof. Adi Utarini dari Universitas Gadjah Mada dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Kamis (10/6/2021). 

Co-Principal Investigator penelitan, Prof. Cameron Simmons dari Monash University mengatakan hasil penelitian ini menunjukkan dampak signifikan metode Wolbachia dalam mengurangi kasus dengue di populasi perkotaan. "Ini terobosan menggembirakan dari Wolbachia - sebuah teknologi baru yang aman, tangguh, dan manjur untuk pengendalian dengue, yang dibutuhkan masyarakat global," tutur dia. 

Hasil Ditunggu-tunggu

Sementara itu Direktur World Mosquito Program, Scott O’Neill mengatakan keberhasilan ini adalah hasil yang ditunggu-tunggu. Menurutnya, metode Wolbachia terbukti aman, berkesinambungan, dan mengurangi kasus dengue. "Ini memberikan kami kepercayaan diri yang besar untuk dapat memperluas manfaat Wolbachia ke seluruh dunia di populasi urban yang luas," kata dia. 

“Ini adalah percobaan pertama dari sebuah intervensi melawan nyamuk dengue untuk menunjukkan dampak kasus penyakit. Hasilnya konsisten dengan temuan-temuan kami dari non-randomised studies sebelumnya di Jogja dan North Queensland, serta prediksipemodelan epidemiologi dari pengurangan substansial dalam beban penyakit dengue setelah penyebaran Wolbachia," timpal Direktur Impact Assessment WMP, Katie Anders. 

 Ahli statistik independen uji AWED, Prof. Nicholas Jewell, Professor Biostatistik dan Epidemiologi di the London School of Hygiene & Tropical Medicine (yang juga Professor pascasarjana di the University of California, Berkeley), mengatakan bahwa hasilnya menarik. "Yang sangat menarik adalah bahwa desain percobaan yang digunakan di sini menyediakan template yang dapat diikuti oleh kandidat intervensi kesehatan lainnya," tutur dia. 

Potensi Wolbachia dalam menurunkan kasus dengue diseluruh dunia telah diakui oleh Vector Control Advisory Group Badan Kesehatan Dunia (WHO), yang menyatakan, "Wolbachia menunjukkan nilai kesehatan masyarakat terhadap dengue" dalam laporan dari Pertemuan ke-14 mereka pada Desember 2020.*