Tak Ada Sukarelawan, Warga Pakai Jas Hujan Makamkan Pasien Covid-19 di Gunungkidul

Foto ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik. - Ist/FOTO ANTARA
23 Juni 2021 14:57 WIB Newswire Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Kondisi memprihatinkan dilami warga Gunugkidul saat memakamkan pasien Covid-19.

Warga Padukuhan Wonosobo Kalurahan Banjarejo Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul dibuat resah. Pasalnya, mereka terpaksa memakamkan jenazah Ny M warga setempat yang sebelumnya dinyatakan reaktif tes swab oleh rumah sakit yang merawatnya tanpa prosedur standar Covid-19.

Marjoko yang merupakan tetangga dan warga setempat menyebutkan saat pemakaman, tidak ada satu relawanpun yang hadir untuk mendampingi. Warga terpaksa memakamkan dengan protokol kesehatan semampu mereka.

Ia menyebutkan keresahan warga bermula ketika M, wanita berumur 50 tahunan asal Padukuhan Wonosobo Kalurahan Banjarejo ini, Senin (21/6/2021) sore dikabarkan meninggal dunia. Sebelum M meninggal pihak rumah sakit menyebut jika status M adalah reaktif tes swab.

BACA JUGA: Objek Wisata di Gunungkidul Diminta Ditutup Sabtu-Minggu

"Senin sore ambulans datang membawa jenazah dan langsung ke pemakaman,"ujarnya, Selasa (22/6/2021) malam.

Ambulans dari rumah sakit tersebut langsung menuju ke tempat pemakaman umum yang sedianya digunakan untuk memakamkan M. Saat membawa jenazah M, petugas ambulans mengenakan pakaian hanzmat lengkap.

Dengan pakaian APD lengkap, petugas pembawa ambulans langsung menurunkan jenazah dan menyerahkannya ke warga. Ambulans langsung pergi usai menyerahkan jenazah tersebut ke warga untuk dimakamkan.

Warga merasa heran karena tidak ada relawan covid-19 baik dari Kalurahan, kapanewon ataupun Kabupaten yang mendampingi. Bahkan saat pemakaman juga tidak ada relawan yang terjun langsung. Padahal apabila jenazah statusnya reaktif maka semestinya dimakamkan dengan prosedur covid-19.

Warga pun memutuskan untuk memakamkan jenazah itu sendiri meskipun belum mengetahui prosedur pemakaman covid-19. Warga akhirnya meminta bantuan posko di pantai untuk meminta jas hujan (mantol) sekali pakai dengan harapan bisa melindungi mereka dari paparan covid-19.

"Kami tetap berusaha prokes semampu kami. Pakai sarung tangan kemudian mantol sekali pakai. Alat itu setelah selesai langsung kami kubur bersama jenazah," tambahnya.

Marjoko menambahkan, saat mendengar kabar Ny M meninggal, banyak warga yang melayat di rumah duka. Hingga hari kedua usai pemakaman, belum ada pihak Satgas Kalurahan ataupun Kapanewon yang datang menanyakan perihal tersebut. Pihaknya berharap tidak terjadi paparan covid-19 ke warga lain terutama dirinya dan rekan-rekannya yang turut serta memakamkan jenazah M.

Menurut Marjoko, Ny M sebenarnya sudah sakit cukup lama. Hanya saja beberapa pekan yang lalu kakak kandungnya meninggal dunia. Setelah itu M langsung drop dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit Panti Rahayu di Kelor Kapanewon Karangmojo.

"Beliau dirawat di sana (RS Panti Rahayu) hari Senin pekan lalu,"tutur Marjoko.

Terpisah, Panewu Tanjungsari, Rakhmadian Wijayanto mengaku belum mengetahui jika ada warga yang memakamkan jenazah positif Covid-19 tanpa didampingi relawan. Pihaknya masih menelusuri kebenaran jika jenazah yang dimakamkan tersebut benar-benar positif Covid-19.

Sepanjang yang ia tahu ketika ada pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia, pihak rumah sakit langsung berkoordinasi dengan relawan. Minimal untuk pemakaman jenazah positif Covid-19 dilaksanakan oleh relawan tersebut. Namun untuk kasus di Wonosobo ini memang perlu dipertanyakan kebenarannya.

"Saya masih telusuri itu,"tandasnya.

Sumber : Suara.com