Warga RW 10 Keparakan Produksi Alat Cek Suhu dan Hand Sanitizer Otomatis

Penampakan AHM yang merupakan produksi warga Rukun Warga (RW) 10 Kelurahan Keparakan, Mergangsan, Jogja. - Ist.
28 Juli 2021 08:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, MERGANGSAN – Di tengah beragam suasana pandemi Covid-19, selalu ada cerita tentang perjuangan masyarakat menghadapi situasinya. Ini adalah kisah dari warga Rukun Warga (RW) 10 Kelurahan Keparakan, Mergangsan, Jogja.

Sejak setahun lalu, beberapa warga mengembangkan pembuatan Automatic Hand Sanitizer and Thermo Scan (AHM). Alat ini bisa mengeluarkan cairan hand sanitizer dan mengukur suhu tubuh secara otomatis. Dengan tidak adanya kontak fisik dengan alat, maka penyebaran virus bisa lebih sering dihindari.

BACA JUGA : Cegah Covid-19, Dosen Teknik Kimia UAD Latih Warga

Menurut Ketua RW 10, Kelurahan Keparakan, Lilik Mardianto, produksi ini berasal dari keresahan sekaligus bentuk kontribusi warga dalam menghadapi pandemi Covid-19. Semua pihak perlu melakukan sesuatu dengan kemampuan masing-masing agar bisa menghadapi pandemi Covid-19.

“Dibuat oleh warga RW 10, tepatnya di Rukun Tetangga 47, itu benar-benar murni produk lokal kami,” kata Lilik saat dihubungi secara daring, Selasa (27/7).

“Memanfaatkan warga juga, ada yang menyiapkan kotaknya, ada yang menyiapkan bagian elektronik, perakitan, dan lainnya.”

Adapun jumlah orang yang memproduksi AHM sebanyak enam orang. Jumlah ini masih memungkinkan bertambah, terlebih permintaan juga datang dengan cukup deras. Alat yang sudah jadi langsung terdistribusi. Bahkan saat ini mereka telah menandatangani kontrak dengan pihak swasta. Satu bulan ada target membuat 10 produk AHM.

BACA JUGA : Dosen Teknik Kimia FTI UAD Latih Warga Bikin Hand

Sayangnya target ini masih belum bisa mereka selesaikan. Selain jumlah Sumber Daya Manusia yang masih kurang, alat-alat yang digunakan juga kebanyakan manual. Sebenarnya beberapa waktu lalu akan ada launching yang rencananya dihadiri Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi. Setelah launching ini, penggunaan AHM produksi warga Keparakan akan digunakan di beberapa fasilitas Pemerintah Kota Jogja.

“Mau di-launching Wakil Wali Kota, namun di sekitar banyak yang terkena Covid-19, jadi ditunda dulu,” kata Lilik.

“Berharap [setelah launching] bisa dilirik dan di-support oleh pemerintah. Alat-alat kurang mendukung, apabila alat mendukung proses pengerjaan bisa lebih cepat, soalnya semua manual.”

Selain menjadi salah satu solusi dan inovasi di masa pandemi, produksi AHM ini juga sebagai pembuka lapangan pekerjaan. Sebagian pekerja yang kini bergabung sebelumnya bekerja secara serabutan. Dengan harga jual berkisar Rp500.000 – Rp800.000, produksi AHM ini masih satu-satunya di Kota Jogja. Belum terdeteksi tempat produksi berskala Usaha Kecil Menengah selain di Keparakan.

“Pikiran di masa pandemi harus berinovasi dan muncullah yang dinamakan alat pengukur suhu dan hand sanitizer ini. Pengembangan kurang lebih satu tahun,” kata Lilik.

BACA JUGA : UMY Gelar Pelatihan Membuat Hand Sanitizer Berbahan

“[Dengan adanya usaha ini] kami berharap bisa menyejahterakan masyarakat, khususnya di RW 10. Ini juga sedikit banyak menjadi kebanggaan karena produk asli buatan RW 10.”