Belum Pernah Dibangun, Jalan di Poncosari Digarap Melalui Program Padat Karya

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih meninjau lokasi program padat karya di Poncosari, Srandakan. Para warga yang tergabung dalam program padat karya mulai menggarap jalan di Sambeng III, Poncosari, Srandakan. - Istimewa/Kelompok Padat Karya Sambeng III
19 Agustus 2021 05:37 WIB Media Digital Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Jalan perkampungan yang masih berupa tanah di Poncosari, Srandakan, akhirnya dibangun. Melalui program padat karya anggaran BKK DIY, infrastruktur dapat dibangun dan warga terdampak pandemi bisa diberdayakan.

Ketua Kelompok Padat Karya Sambeng III, Poncosari, Srandakan, Badarudin, menceritakan mulanya lokasi jalan yang dibangun sebagian hanya berupa tanah. Sedangkan sisanya dibangun melalui konstruksi konblok yang sudah rusak. "Kalau lokasinya itu kan ada sebagian tanah yang bekum dicor. Terus ada sebagian tanah yang sudah dikonblok tapi sudah rusak," terangnya pada Rabu (18/8).

Rusaknya jalan akses berpergian warga membuat mobilitas warga cukup terganggu. Terlebih bila musim hujan, jalan tanah licin sementara konblok yang rusak menimbulkan banyak genangan.

"Ya kalau sebelum dicorblok itu kan jalannya jadi banyak lubang-lubang yang terlalu dalam. Jadi pas musim hujan banyak genangan air, terus licin. Kalau dikonblok itu seperti terbagi menjadi beberapa genangan air. Susah jalannya," tambahnya.

Beberapa warga bahkan terpeleset karena jalan yang belum memadai. Beruntung tak ada warga yang mengalami cidera serius. "Mungkin kalau terpeleset ya kecelakaan tidak terlalu parah, cuma luka ringan," tandasnya.

Padahal menurut Badarudin, jalan yang dibangun terhitung cukup vital. Jalan tersebut menghubungkan antar padukuhan. "Itu termasuk jalan utama ada yang ke sekolah kan dekat SD/MI itu sama TK. Terus akses ke sawah juga. Jadi termasuk jalan utama sering dilewati," jelasnya.

Melalui padat karya anggaran BKK DIY, jalan yang belum memadai pun dibangun. Melalui padat karya jalan seluas empat meter kini dicor dengan lebar sekitar 3,2 meter. Sementara sisanya dibangun warga secara swadaya.

"Ini sudah mencakup sekitar 95 persen dari keseluruhan jalan. Panjangnya sekitar 360 meter. Pertama-tama jalan diratakan pakai koral untuk meratakan tanah. Terus yang dalam-dalam kita uruk. Terus yang conblock kita ratakan terus kita pasang bekesting ketinggian sekitar 10 senti," ujarnya.

Pembangunan jalan dari program padat karya anggaran BKK DIY pun disambut baik oleh masyarakat. "Tanggapan masyarakat ya senang. Soalnya jalannya bagus terus masyarakat di masa pandemi juga banyak yang tidak bekerja jadi merasa senang bisa dapat upah," ungkapnya.

Banyak warga yang bekerja di sektor perhotelan hingga toko kini menganggur. Badarudin memberdayakan mereka melalui program padat karya anggaran BKK DIY. "Banyak [warga di PHK], terutama yang kerja di hotel, ada yang di toko, sopir ojol itu banyak. Pokoknya yang kerja di toko, pabrik,  hotel itu banyak. Lainnya itu yang petani sama yang kerja serabutan," tambahnya.

"Program ini bagus. Selain bisa membantu ekonomi warga bisa membuat infrastruktur bagus. Jadi kan masyarakat bisa kerja dan jalannya bagus, senang sekali. Harapannya program seperti ini bisa dilanjutkan daripada BLT cuma-cuma mending seperti ini kan bisa menggiatkan ekonomi warga juga," tandasnya.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih berharap seluruh wilayah di Kabupaten Bantul memiliki infrastruktur fisik yang bagus. Tak terkecuali jalan-jalan desa memiliki infrastruktur yang reprsentatif dan bagus. Hal itu dapat diwujudkan melalui program padat karya.

"Tentu ini membutuhkan anggaran pembiayaan yang luar biasa besar. Karena itulah sinergi diperlukan baik APBD Bantul, APBD DIY, bahkan APBN dan juga APBDes supaya bisa mempercepat pembangunan infrastruktur," tambahnya.

Sementara itu Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul, Aris Suharyanta, memaparkan bila program padat karya bisa mewujudkan berbagai tujuan di antaranya menekan angka pengangguran, setengah penganggur, dan masyarakat miskin. Di sisi lain, padat karya juga akan meningkatkan aksesibilitas masyarakat menuju pusat pelayanan sosial dasar mulai dari kesehatan, pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian.

Dari 60 titik pelaksanaan padat karya di 2021, ada sebanyak 3.120 tenaga kerja diserap dalam program padat karya. Secara rinci Aris menerangkan dari 60 titik, pembangunan infrastruktur pada padat karya tahun ini meliputi corblock di 45 titik, pembuatan talut di 11 titik, corblock bersama talut dua titik, pembuatan drainase satu titik dan pembangunan drainase tertutup satu titik.

Sekretaris Disnakertrans Bantul, Istirul Widilastuti, menambahkan bila anggaran padat karya sebesar Rp160 juta akan digunakan dalam berbagai peruntukan. Pertama untuk anggaran dialokasikan untuk upah perangsang kerja total Rp68 juta. Selanjutnya untuk pembelian bahan-bahan material sekitar Rp72 juta. Sisanya Rp20 juta diperuntukkan untuk kegiatan lain pendukung program padat karya.

"Upah tenaga kerja Rp70.000 per hari, tukang Rp80.000 per hari, dan ketua kelompok Rp90.000 per hari. Disnakertrans yang diurusi persoalan tenaga kerja, oleh karenanya nanti yang akan kembali sebagai upah tenaga kerja menempati posisi yang teratas," terangnya.

Selain menggunakan anggaran BKK DIY, padat karya juga bakal digulirkan melalui anggaran APBD yang juga mencakup lebih banyak titik. "Dari anggaran APBD, kegiatan padat karya berlangsung di 103 titik dengan serapan tenaga kerja mencapai 2.678 orang," tandasnya. (ADV)