Terdampak PPKM, Pedagang di Pantai Trisik Tak Punya Pendapatan

Salah satu pedagang makanan maupun minuman ringan di Pantai Trisik yakni Dewo Rugiyem, 58, warga Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulonprogo, saat berjualan di objek wisata Pantai Trisik pada Minggu (5/9/2021). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
06 September 2021 08:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Pelaku wisata yang berada di pantai Trisik mengeluhkan soal minimnya pendapatan selama penerapan PPKM level empat di wilayah kabupaten Kulonprogo. Jumlah kunjungan wisatawan yang minim jadi momok bagi pelaku wisata karena tidak bisa mendulang pundi-pundi rupiah.

Salah satu pedagang makanan maupun minuman ringan di Pantai Trisik yakni Dewo Rugiyem, 58, warga Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulonprogo, mengatakan kunjungan wisatawan yang sepi akhirnya berimbas kepada tingkat penjualan barang dagangannya.

"Penjualan turun drastis. Bahkan, selama pandemi Covid-19 tahun lalu saya tidak berjualan. Baru berjualan selama tiga Minggu terakhir ini. Memutuskan untuk tutup ya karena tidak ada wisatawan yang berkunjung," kata Dewo pada Minggu (5/9/2021).

Saat Dewo memutuskan untuk membuka lapaknya, justru pemerintah pusat menerapkan PPKM di sejumlah wilayah di pulau Jawa, termasuk kabupaten Kulonprogo. Alhasil, pendapatan Dewo makin tak menentu.

Baca juga: Dosen UAD Bekali Warga Semanu Tentang Pengetahuan Diabetes

"Kalau hari hari biasa itu sekarang tidak ada wisatawan yang berkunjung. Tapi, kalau weekend ya biasanya ada satu dua pengunjung. Ya saya akhirnya hanya buka ketika banyak wisatawan yang datang. Jadi, tidak menentu penghasilannya," terang Dewo.

Dewo yang menjual makanan ringan seperti aneka snack, gorengan, dan minuman soda mengatakan demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari, anaknya ikut membantu perekonomian keluarga. Upaya tersebut dilakukan Dewo agar dapurnya bisa tetap mengepul.

"Jadi, tidak harus menggadaikan barang-barang pribadi saya. Selama PPKM level empat pendapatan saya per hari berkisar Rp500.000. Tapi itu tidak menentu ya. Tergantung kunjungan wisatawan. Saya berjualan mulai pukul 05.00 pagi sampai dengan 15.00 WIB," ujar wanita paruh baya yang sudah membuka lapaknya di pantai Trisik sejak tahun 1994 ini.

Kunjungan wisatawan selama penerapan PPKM level empat yang hampir nihil di sejumlah objek wisata memang menjadi bom waktu pagi pelaku wisata. Tidak hanya di pantai Trisik, sejumlah pelaku wisata di destinasi wisata lainnya juga mengeluhkan soal tidak adanya pendapatan.

Baca juga: Mahasiswa UGM Bikin Permen Anti Diabetes dari Kulit Salak

Sejumlah pelaku wisata di kawasan pantai Glagah, Kapanewon Temon, Kulonprogo terpaksa harus gigit jari selama penerapan PPKM level empat di wilayah Bumi Binangun. Pendapatan mereka nihil sehingga kebutuhan sehari-hari terbengkalai. Solusinya, pelaku wisata sebagian menggadaikan barang pribadinya seperti motor dan perhiasan.

Pemilik Warung Makan Cemara Indah di Pantai Glagah, Sri Warningsih mengatakan selama penerapan PPKM dirinya tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, yakni berdagang di kawasan wisata unggulan di wilayah kabupaten Kulonprogo ini.

"Para pelaku wisata tidak bisa beraktivitas sehingga kehilangan penghasilan. Padahal kebutuhan kami jalan terus. Tidak hanya makan sehari-hari, tapi juga bayar cicilan dan beli kuota untuk anak-anak belajar daring. Kondisi tersebut membuat kami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Sri.

Sri dan sejumlah pelaku wisata di kawasan pantai Glagah lainnya sudah berusaha mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Seperti berjualan online dan menjadi buruh tani. Namun, upaya tersebut masih jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Pendapatan yang diperoleh hanya berkisar 10-20 persen dari kondisi normal. Kami terpaksa harus menjual atau menggadaikan barang berharga yang dimiliki seperti motor dan perhiasan. Tidak sedikit pelaku wisata yang menjual atau menggadaikan perhiasan. Apa yang kita punya, ya itu yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Sri.

Sementara itu, Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo sebenarnya telah menyiapkan program bagi pelaku wisata yang terdampak pandemi Covid-19. Sebagai salah satu upaya membantu pengelola wisata menghadapi dampak dari pandemi Covid-19, Dinas Pariwisata meluncurkan program sambanggo yang merupakan singkatan dari sambang Kulonprogo.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo Joko Mursito mengatakan sektor pariwisata di kabupaten Kulonprogo cukup terpukul dengan adanya pandemi Covid-19. Terlebih, pemerintah pusat memutuskan untuk memberlakukan PPKM yang masih berlaku hingga saat ini di wilayah kabupaten Kulonprogo.