Petani Sleman Diminta Antisipasi Ancaman La Nina

Ilustrasi - Freepik
26 Oktober 2021 07:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Petani diminta mempersiapkan diri menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang diprediksi meningkat mulai masa peralihan (pancaroba) hingga puncak musim hujan. BMKG menyebut musim hujan kali ini bakal dipengaruhi oleh fenomena La Nina.

Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono mengatakan jajarannya menginformasikan kepada petani agar melakukan upaya antisipasi sedini mungkin agar tidak gagal panen menyusul adanya fenomena La Nina.

BACA JUGA: Pengunjung Pantai Glagah Melonjak

Petani ikan diimbau segera memanen ikan di kolam sebelum curah hujan tinggi. Mereka diimbau mengecek dan membenahi saluran air, tanggul, dan masalah teknis lainnya. "Tanggul kolam harus diperkuat agar tidak jebol saat debit air meningkat," kata Suparmono, Senin (25/10/2021).

Dia juga meminta sektor pertanian segera bebenah, seperti memperbaiki saluran irigasi agar tidak ada genangan air di lahan pertanian yang berlebihan. " Kami dalam waktu dekat akan mengumpulkan teman-teman [kelompok tani] untuk menghadapi La Nina ini," katanya.

Sebelumnya, Stasiun Klimatologi (Staklim) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi DIY memasuki awal musim penghujan pada pekan ketiga Oktober. Oleh karena itu, masyarakat diimbau mewaspada terjadinya cuaca ekstrem.

BMKG menyebut musim hujan kali ini juga dapat dipengaruhi oleh fenomena La Nina lemah yang terjadi sejak Oktober 2021 hingga Maret 2022. Potensi bencana hidrometeorologi akan meningkat sejak masa peralihan atau pancaroba hingga puncak musim hujan.

"Beberapa wilayah memasuki awal musim hujan lebih awal dari prediksi. Hal ini perlu dicermati oleh petani sehingga tidak terjadi keterlambatan masa tanam dan kemudian untuk masa panen bisa sesuai yang diharapkan. Kondisi ini berbeda dari 2019 di mana rata-rata wilayah di DIY baru memasuki musim hujan pada Desember," kata Kepala Staklim BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas.

BACA JUGA: DIY Usulkan Libur Natal dan Tahun Baru Diundur

Cuaca ekstrem yang meliputi hujan deras disertai angin kencang dan petir bisa terjadi baik pada masa pancaroba, awal musim hujan dan puncak musim hujan. Pada masa puncak musim penghujan, cuaca ekstrem akan lebih sering terjadi.

Sampai akhir tahun dan awal tahun depan ada kemungkinan terjadi La Nina dengan kategori lemah. Fenomena ini berdampak pada penambahan intensitas hujan. “Kalau La Nina terjadi di puncak musim hujan, Januari atau Februari, berarti intensitas hujan akan terjadi lebih dari biasanya,” katanya.