Tawuran Pelajar, Disdikpora DIY: Perlu Sinergi Orang Tua, Sekolah dan Masyarakat

Para tersangka dan barang bukti senjata tajam yang diamankan polisi dari tawuran dua geng pelajar di Bantul - Harian Jogja - Ujang Hasanudin.
09 November 2021 13:47 WIB Jumali Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Langkah cepat dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, menyusul pecahnya tawuran antara dua geng pelajar yang menewaskan MKA, 18, salah satu siswa sekolah menengah atas (SMA) negeri di Kapanewon Sewon, Bantul.

"Kami tadi telah kumpulkan semua kepala sekolah baik untuk tingkat SMP dan SMA sederajat. Kami berikan penguatan kepada para kepala sekolah untuk bersama-sama menekan keberadaan geng-geng pelajar," kata Kepala Disdikpora DIY Didik Wardaya, Selasa (9/11/2021).

BACA JUGA : Kronologi Tawuran Maut Stepiro Vs Sase di Bantul

Dalam pertemuan tersebut, Disdikpora meminta kepada para kepala sekolah untuk bisa mengkondisikan agar tidak muncul geng pelajar di wilayahnya. Tidak hanya mengkondisikan agar tidak muncul geng pelajar, Disdikpora juga meminta kepada kepala sekolah agar bisa menekan perekrutan anggota geng pelajar.

"Caranya, kami minta sekolah untuk bisa membentuk kegiatan positif untuk pelajar. Dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan mampu menekan kegiatan siswa yang mengarah ke hal-hal negatif," jelas Didik.

Selain itu, Didik juga meminta kepada para kepala sekolah untuk berkoordinasi dengan orang tua siswa. Di mana, kepala sekolah harus bisa memastikan jika siswa benar-benar sudah berada di rumah, saat kegiatan pembelajaran di sekolah selesai.

"Jadi, harus ada komunikasi dengan orang tua. Pastikan jika posisi sudah pulang, anak itu apakah sudah benar-benar pulang ke rumah," terangnya.

Mengenai tertangkapnya geng pelajar, Didik memastikan hal tersebut sudah menjadi ranah kepolisian dalam penegakan terhadap tindakan kriminal. Sebab, sejauh ini pihaknya sudah berupaya untuk menekan timbulnya geng pelajar.

BACA JUGA : Sebelum Tawur, 2 Geng Maut di Bantul Buat Perjanjian! Isinya

"Kami juga sudah minta sekolah untuk inventarisir kendaraan pelajar. Kami juga minta ke masyarakat, jika ada anak sekolah menitipkan kendaraan jangan diizinkan," ucapnya.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji meminta kepada semua pihak, baik dari sekolah, orang tua maupun masyarakat untuk saling berkomunikasi terkait keberadaan siswa. Utamanya, jika ada siswa yang tidak masuk sekolah.

"Kalau ada anak tidak masuk sekolah, maka sekolah harus memberitahu ke rumah, apakah anak itu di rumah. Jika kemudian, masyarakat menemukan ada anak-anak kumpul-kumpul di jam sekolah, maka bisa melaporkan ke pihak petugas [kepolisian] untuk mencegah hal-hal seperti itu," kata Aji.

Mengenai sampai ada pelajar yang meninggal karena adanya tawuran antargeng pelajar, Aji menyatakan hal itu sudah masuk ranah kriminal. "Itu urusannya penegak hukum. Dan, jangan sampai terjadi lagi. Sekolah itu jangan sampai membiarkan anak tidak masuk tanpa kabar. Orang tua jangan sampai melepas anak ke sekolah tapi tidak masuk ke sekolah," ucap Aji.