Pertashop Solusi Bagi BUMDes Bangun Ekonomi saat Pandemi Covid-19

Masyarakat mengisi pertamax di Pertashop kawasan Lereng Merbabu, beberapa waktu lalu. Keberadaan Pertashop memudahkan wilayah pedesaan untuk mengakses bahan bakar dengan harga sama dan takaran yang sama. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
15 November 2021 10:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 berdampak pada penurunan pendapatan hampir semua sektor. Tak terkecuali bagi pendapatan asli desa (PADes). Bagaimana pemerintah desa (kalurahan) bisa bertahan dan menjalankan program pembangunannya saat pandemi Covid-19? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Kalurahan Sendangrejo, Kapanewon Minggir, Sleman terletak di sisi Barat, belasan kilo meter dari pusat kota. Letaknya agak menjorok ke dalam. Sisi Utaranya berbatasan dengan wilayah Banyurejo, Tempel. Sebagian lahan yang dimiliki desa ini berupa area persawahan dan tegalan yang membujur dari Utara ke Selatan. Kawasan tersebut merupakan jalur hijau produktif dan masih dipertahankan.

Sebagai kawasan lahan hijau, Sendangrejo tidak memiliki kawasan industri yang mampu menyokong pembangunan dan perekonomian desa. Saat pandemi Covid-19 melanda Maret 2020 lalu, roda perekonomian mulai tersendat. Kondisi tersebut pun berdampak pada pendapatan asli desa (PADesa) Sendangrejo.

"Kemampuan PADesa kami tidak sekuat desa/kalurahan yang berada di pusat-pusat kota. Kami hanya memiliki banyak tanah kas desa yang disewakan dan tidak memiliki kawasan industri," cerita Carik Sendangrejo, Dira Nur Rochmawati kepada Harian Jogja, Minggu (14/11/2021).

Meski jalan-jalan penghubung dari Sendangrejo ke desa lainnya bisa dikatakan baik dan ditunjang dengan sarana transportasi yang memadai, namun pandemi Covid-19 berdampak pada pemasukan bagi PADesa. Yang paling terasa, kata Dira, tidak diperpanjangnya kontrak sewa lahan perkebunan tebu dari salah satu perusahaan gula di DIY.

"Kontrak sewa TKD nya tidak diperpanjang karena perusahaan produksi gula itu juga terdampak secara ekonomi akibat pandemi Covid-19. Dampaknya pun sangat terasa bagi kami," ujarnya.

Baca juga: TK di Sleman Mulai Gelar PTM Terbatas

Belum lagi banyak penyewa TKD lainnya dan kios pedagang yang meminta keringanan dan relaksasi. "Kami memaklumi karena kondisi pandemi memang berdampak pada tersendatnya roda perekonomian masyarakat. Gedung pertemuan yang biasa disewakan untuk gelar resepsi pun kini tak terpakai lagi karena pembatasan PPKM dan kebijakan pemerintah soal pandemi," ujarnya.

Pertashop mendekatkan yang jauh

Saat PPKM leveling diterapkan, pemerintah sempat menutup lokasi wisata untuk mencegah terjadinya penularan virus. Aktivitas di sektor pariwisata di Sendangrejo pun terkena imbasnya. Banyak warga yang kehilangan mata pencarian. "Sementara Dana Desa dan anggaran lainnya difokuskan untuk penanganan Covid-19, penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) bagi warga terdampak Covid-19 dan sebagainya," kata Dira.

Kondisi itulah yang menjadi alasan Pemerintah Kalurajan Sendangrejo mendirikan Pertashop dari Pertamina. Tentu saja tawaran pendirian Pertashop diputuskan dengan perhitungan yang matang dan perencanaan yang jelas. Sebuah tawaran yang menurut Dira mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.

Akhirnya, Pemerintah Kalurahan Sendangrejo pun menyiapkan lahan TKD seluas 1000 meter persegi. Lahan itu berdiri di atas bekas kolam ikan. Lokasinya strategis karena berada di jalur alternatif jalan dari Magelang menuju ke Kulonprogo. Pertimbangan lainnya, jarak antara Sendangrejo ke SPBU terdekat sekitar 5 km.

"Kendala saat itu muncul karena kami (BUMDes) tak cukup memiliki dana. Kami pun mengajukan pinjaman ke BKAD (Badan Keuangan dan Aset Daerah) Sleman sebesar Rp450 juta. Pinjaman itu dibayar dengan cara dicicil selama tiga tahun," ujarnya.

Pengajuan pinjaman disetujui BKAD. Proses pendirian Pertashop pun berlanjut. Setelah melalui berbagai persiapan, akhirnya Pertashop Sendangrejo beroperasi pada Mei 2021. Waktu itu, kata Dira, masih soft opening adapun grand opening digelar pada September 2021 kemarin.

"Saat ini Pertashop dilengkapi dua kios UMKM. Kami akan mengembangkan fasilitasnya layaknya SPBU. Rencananya dilengkapi dengan musola dan fasilitas lainnya. Jadi ini benar-benar bertujuan untuk mengangkat potensi yang dimiliki desa," katanya.

Baca juga: Simulasi Sistem Sugeng Rawuh, Masih Banyak Pengunjung yang Menolak

Bak gayung bersambut, operasional Pertashop setiap bulannya dinilai baik. Penjualan Pertashop terus mengalami peningkatan. Dari awalnya 300-400 liter per hari saat ini penjualan Pertamax di Pertashop tersebut rata-rata 1.000 liter per hari. Dengan pendapatan seperti itu, BUMDes pun mampu membayar angsuran ke BKAD dan sebagian disisihkan untuk pengembangan usaha.

"Tahun ini kami targetkan bisa menyumbang PAD sebesar Rp60 juta ke desa. Itu setelah dipotong setoran ke BKAD. Tahun depan target PAD bisa dinaikkan. Nanti setelah angsuran kami ke BKAD lunas, PAD yang diberikan ke pemerintah desa bisa lebih besar lagi," katanya.

Hingga Oktober, lanjut Dira, pendapatan desa dari Pertashop mampu melebihi pendapatan penyewaan lahan TKD per tahunnya. Kondisi tersebut layaknya oase di tengah padang pasir karena dilakukan saat proses pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Apalagi Sendangrejo bukan daerah industri dan perkotaan yang mudah mendapatkan pemasukan.

"Sebagian lahan kami lahan hijau, lahan pertanian yang menjadi penopang pangan di Sleman. Namun kami ingin tetap menjadikan Sendangrejo sebagai desa yang maju," katanya.

Dira masih ingat, rencana pendirian Pertashop awalnya banyak menuai kritikan dari sebagian masyarakat. Tidak sedikit yang menilai operasional Pertashop bisa berjalan sukses. Berdirinya Pertashop itu bahkan dituding akan mematikan usaha warga atau pelaku UMKM yang menjual BBM eceran.

Dira kemudian menunjuk sebuah kios di seberang Pertashop yang juga menjual BBM. Kios tersebut tetap melayani penjualan BBM eceran kepada warga. Jadi, lanjut Dira, keberadaan Pertahsop bisa dibilang bermanfaat bagi warga. Selain memangkas jarak tempuh warga ke SPBU di luar Kapanewon Minggir, juga untuk membantu kemajuan desa.

"Keberadaan kios di seberang sana ternyata tidak mati, pemiliknya tetap bisa berjualan. Bahkan penjual BBM eceran itu membeli BBM ke Pertashop kami. Artinya, anggapan Pertashop mematikan UMKM itu tidak benar," ujar Dira.

Saat ini, Pertashop tersebut baru menyerap enam tenaga kerja dari warga Sendangrejo. Searah perencanaan dan pengembangan ke depan, kata Dira, akan banyak warga Sendangrejo yang bisa bekerja di mini SPBU itu. Apalagi jika unit usaha lainnya yang dikelola BUMDesa bisa saling menopang, diharapkan terus membawa kemajuan bagi Sendangrejo.

Lurah Sendangrejo Harjanto mengatakan Pertashop yang berlokasi di timur Kantor Kalurahan Sendangrejo ini mulai terlihat perkembangannya. Pendapatan perbulan yang terus mengalami peningkatan ini diharapkan dapat menjadi pendukung UMKM warga sekitar.

"Perkembangan Perstahop yang cukup baik ini karena lokasinya yang cukup strategis, jadi diharapkan dapat membawa dampak positif bagi warga Sendangrejo," ucapnya.

Selain Sendangrejo, beberapa desa di Sleman juga mendirkan Pertashop. Seperti di Pertashop Sumbersari, Moyudan dan Pertashop Candibinangun Pakem yang baru diresmikan Oktober ini. Kedua desa ini lokasinya juga berada di wilayah pinggiran dan jauh dari pusat kota. Banyak desa yang berharap Pertahsop mampu menopang pembangunan di desa.

"Pertashop di Candibinangun dibangun di Bulus I Jalan Balong. Di sana akses penduduk ke SPBU jauh dan berada di dekat lokasi wisata. Diharapkan nanti bisa meningkatkan kunjungan wisatawan dan mengangkat perekonomian warga," kata Lurah Candibinangun, Sismantoro.

Sementara Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo berharap keberadaan Pertashop di setiap kalurahan dapat meningkatkan aktivitas dan dinamika perekonomian kalurahan dan masyarakat. "Keberadaan Pertashop juga diharapkan dapat membuka peluang kerja maupun usaha baru bagi masyarakat. Termasuk mendukungan upaya dalam membuka lapangan usaha," katanya.

Kustini juga berharap keberadaan Pertashop dapat menjadi pemicu tumbuh dan berkembangnya perekonomian di di masing-masing kalurahan sehingga pemerintahan kalurahan memiliki pusat ekonomi baru. "Diharapkan Pertasho dapat sekaligus berfungsi sebagai one stop shopping," kata Kustini. (hamied@harianjogja.com)