Advertisement

Ramadan Tahun Ini, Antara Euforia dan Upaya Kapitalisasi

Lajeng Padmaratri
Senin, 11 April 2022 - 06:27 WIB
Arief Junianto
Ramadan Tahun Ini, Antara Euforia dan Upaya Kapitalisasi Masyarakat berkegiatan di sekitar Kampung Ramadhan Jogokariyan, Selasa (13/4/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Berbeda dengan tahun lalu, masyarakat kali ini seolah kembali menemukan suasana Ramadan yang biasa mereka nikmati. Semarak tetapi tetap khusyuk, begitulah nuansa Ramadan tahun ini.

Bulan Ramadan identik dengan tradisi berburu takjil sebelum berbuka puasa. Banyak masyarakat yang kemudian memanfaatkan momentum ini untuk berjualan takjil dadakan. Masyarakat, termasuk anak muda, pun berbondong-bondong berburu takjil untuk berbuka puasa. 

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Sejak siang hari, Eta, sudah meracik buah-buahan untuk dijadikan es campur. Ada tiga stoples besar yang ia siapkan. Ketiga stoples itu untuk menampung masing-masing es buah, es kuwut, dan es capcin atau capuccino cincau.

BACA JUGA: Peringatan, Semua Ruas Jalan Utama Jogja Berpotensi Macet Saat Libur Lebaran Tahun Ini

Dibantu beberapa temannya, dia membawa ketiga stoples es campur itu ke tepian Jalan Kadipaten Kidul. Di atas sebuah meja beratapkan payung, ketiga toples itu berjejer menunggu pembeli.

Sejak tahun lalu, Eta memutuskan berjualan es campur saat Ramadan. Ketika banyak orang mencari es campur untuk berbuka puasa, dia pun ikut momentum. Dia pengin bisa meraup untung dari penjualan es campurnya di lapak dadakan pinggir jalan.

"Biasanya kalau orang puasa itu sore-sore nyari-nya es buah kan, soalnya segar. Memang saya jualan khusus saat Ramadan saja. Insyaallah kalo prospeknya bagus, kami juga pengin jualan di luar Ramadan," ujar Eta ketika ditemui Harianjogja.com, Jumat (8/4/2022) sembari berjualan.

Perempuan itu sehari-harinya berprofesi sebagai perias. Namun, ketika Ramadan tiba, mendadak dia beralih profesi sebagai penjual takjil. Di bulan ini, biasanya orderan pengantin sepi, sehingga Eta harus memutar otak agar tetap bisa mendapatkan pemasukan.

Sejak tahun lalu, pilihannya jatuh pada berjualan es campur. Setiap bungkus es yang dijualnya seharga Rp5.000.

BACA JUGA: Pacari dan Ajak Anak Berhubungan Badan, Pria di Jogja Dilaporkan Istrinya ke Polisi

Pada awal-awal Ramadan, Eta baru bersiap jualan di sore hari. Namun, rupanya hari-hari itu hujan turun, sehingga pelanggannya tidak banyak. Agar keuntungannya maksimal, ia pun kini mulai berjualan sejak siang hari. Harapannya, sudah ada pembeli es buah dari pengendara yang melintasi lapaknya.

Seperti Eta, Sri juga melakukan hal serupa. Ia turut serta jadi penjual takjil dadakan di kawasan Kampung Ramadhan Jogokaryan. Sebagai warga yang tinggal di sekitar Masjid Jogokaryan, dia juga ingin ikut dalam euforia pasar takjil di sana.

"Ini mumpung pasar takjil di Jogokaryan buka, jadi saya ikut jualan es campur. Soalnya rumah saya dekat sini," kata dia, Selasa (5/4/2022).

Kegiatannya sehari-hari adalah berjualan pakaian di Pasar Bantul. Pada pagi hari, dia masih berjualan di sana. Begitu sore hari, dia akan bersiap untuk berjualan takjil bersama 270 pedagang lainnya di Kampung Ramadhan Jogokaryan.

Momentum Ramadan yang berada di situasi pandemi tahun ketiga ini ia anggap berbeda dari tahun lalu. Sebab, saat ini, kegiatan ekonomi masyarakat lebih dibebaskan.

"Tahun lalu belum kepikiran kalau bakal ramai misal jualan takjil. Tetapi, tahun ini saya memutuskan untuk ikut jualan saja," ujarnya.

Ada yang Kurang

Euforia masyarakat dalam berjualan takjil ini pun disambut baik oleh para pembeli. Banyak anak muda yang merupakan pendatang di Jogja ikut menyambut semaraknya penjual takjil dadakan ini.

Salah satunya yaitu Yuni Wulandari, mahasiswa UAD asal Nusa Tenggara Barat ini pun menyempatkan waktu untuk berburu takjil ke Kampung Ramadhan Jogokaryan, Selasa lalu. Bersama kawannya, ia yang merupakan anak kos di Jogja merasa membutuhkan penjual takjil untuk memenuhi kebutuhannya berbuka puasa.

"Ini kali pertama saya ke sini. Tahun lalu belum sempat. Ini aja saya belum jajan banyak karena ramai sekali," ujar Yuni saat ditemui seusai waktu berbuka puasa.

BACA JUGA: Jogja Segera Punya Pusat Desain Industri Nasional 4 Lantai di Bekas Terminal Terban

Mulanya, dia mendapatkan informasi mengenai pasar takjil di Jogokaryan lewat media sosial. Yuni pun tertarik untuk berburu takjil kesana. Ia sudah sampai di kawasan Jogokaryan sejak pukul 16.00 WIB.

Namun, banyaknya penjual dan pembeli yang tumpah ruah di sana justru membuatnya kebingungan menentukan menu.

Lain cerita dari Rahma. Dara asal Jogja ini sudah berulang kali menyambangi pasar takjil di Jogokaryan. Menurutnya, adanya pasar takjil secara umum sangat membantunya dalam menyiapkan menu berbuka puasa.

"Pulang kerja sore-sore, aku sering nggak sempat masak buat buka puasa. Jadi adanya pasar takjil itu bikin aku bisa berbuka puasa dengan praktis," kata perempuan berusia 25 tahun itu.

Rahma juga beberapa kali memanfaatkan pasar takjil sebagai sarana ngabuburit. Ia akan datang bersama kawan-kawannya, lalu berjalan-jalan di sepanjang deretan pedagang takjil untuk memilih jajanan.

Ketika pandemi muncul pada 2020, hal itu membuatnya tidak mampu menikmati euforia pasar takjil. Menurutnya, ada yang kurang dari Ramadan jika dilewati tanpa mengunjungi pasar takjil.

"Ada yang kurang kalau Ramadan enggak ke pasar takjil. Kan serunya itu jajan sore-sore sebelum buka puasa, sambil ngabuburit," ujarnya.

BACA JUGA: Ini Dia Keunikan Gending Gati Dirgantara, Kado Sultan kepada HUT TNI AU

Meski belum semua pasar takjil di Jogja buka tahun ini, namun ia berharap tahun depan situasi sudah kembali normal. Sebab, ia rindu berkeliling pasar takjil di Jogja setiap hari bersama teman-temannya.

Kapitalisasi Ramadan

Peneliti dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Hempri Suyatna menuturkan ada beberapa hal yang menyebabkan pasar tiban setiap Ramadan selalu ramai pembeli. Hal itu salah satunya disebabkan faktor kapitalisasi Ramadan 

"Bulan Ramadan ini dianggap sebagai momentum juga untuk mendapatkan keuntungan, bagi para pelaku usaha baik pelaku usaha mikro, kecil maupun para pemilik modal," terang Hempri ketika dihubungi pada Kamis (7/4/2022).

Di sisi lain, lanjutnya, kultur masyarakat juga mendukung hal itu. Misalnya, ada pandangan jika berbuka puasa Ramadhan harus disertai dengan makan kolak, cendol, gorengan, dan sebagainya. "Belum afdal misalnya kalau buka puasa tidak minum cendol, kelapa muda maupun makanan-minuman yang manis-manis," imbuhnya.

Menurutnya, bentuk-bentuk pasar tiban ini bisa menjadi momentum untuk kebangkitan ekonomi rakyat. Apalagi kondisi Ramadan saat ini cukup berbeda dengan dua Ramadan sebelumnya, meskipun masih di era pandemi. Kehidupan masyarakat juga relatif normal dibandingkan sebelumnya.

Pasar tiban Ramadan di Jogja tidak hanya terdapat di Jogokaryan. Di situasi normal, pasar tiban juga ada di Nitikan, Umbulharjo; Lembah UGM; gang di Kauman; dan banyak titik lainnya.

Tak jarang, pasar tiban itu didatangi warga dari daerah lain. Padahal, banyak di pinggiran jalan di Jogja yang menjadi sentra penjual takjil dadakan.

Menurut Hempri, hal ini merupakan pilihan konsumen yang lebih senang mengunjungi tempat yang lengkap dan murah. Di sisi lain, mengunjungi pasar tiban yang jauh dari domisili juga menjadi kegiatan warga untuk mengisi waktu sambil menunggu buka puasa.

"Pemerintah seharusnya bisa menciptakan inovasi-inovasi model pasar tiban ini. Pemda bisa mengembangkan juga ke beberapa titik-titik lokasi dan juga bagian dari pengembangan UMKM," ujarnya.

BACA JUGA: Otopet Dilarang, Paguyuban: Banyak Orang Kehilangan Pekerjaan

Namun, pemerintah harus mempertimbangkan sejumlah hal jika ingin menciptakan pasar tiban. Yaitu pilihan lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, melakukan promosi dan branding, serta memperhatikan persaingan harga. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Begini Cara Pangeran Arab Saudi Nikmati Kekayaan

News
| Senin, 06 Februari 2023, 22:07 WIB

Advertisement

alt

Kunjungan Malioboro Meningkat, Oleh-oleh Bakpia Kukus Kebanjiran Pembeli

Wisata
| Senin, 06 Februari 2023, 10:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement