Advertisement

Pemuliaan Alun-Alun Utara Menuju Warisan Budaya Dunia

Sunartono
Jum'at, 17 Juni 2022 - 09:47 WIB
Sirojul Khafid
Pemuliaan Alun-Alun Utara Menuju Warisan Budaya Dunia Kondisi Alun-Alun Utara Jogja dalam proses penggantian pasir yang bagian tengah telah terselesaikan. Foto diambil, Rabu (15/6/2022). - Harian Jogja/Sunartono.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menata fasad Alun-Alun Utara Jogja dengan melakukan penggantian pasir. Proses pemeliharaan atribut sumbu filosofi ini sebagai upaya memuliakan Alun-Alun Utara Jogja.

Alun-Alun Utara Jogja memiliki luas 300x300 meter persegi, pada bagian tengah berdiri dua pohon beringin. Sejak dahulu bagian permukaannya ditutup dengan pasir. Berdasarkan situs Kratonjogja.id pasir ini menggambarkan sebagai laut tak berpantai. Hal ini merupakan perwujudan dari kemahatakhinggaan Tuhan.

Seiring berjalannya waktu, kondisi pasir Alun-Alun tidak lagi ideal karena telah digunakan berbagai aktivitas manusia. Sehingga banyak bercampur dengan sampah dan ditumbuhi rerumputan. Selama ini, terdapat banyak aktivitas yang menyebabkan kondisi alun-alun kurang ideal. Material asli penyusun alun-alun yakni pasir, telah tercampur dengan banyak material lain karena kegiatan yang dilaksanakan di Alun-Alun Utara sering tidak inline dengan kelestariannya.

BACA JUGA: Naik Bus Sambil Belajar Sumbu Filosofi, JHT Sudah Diakses Ribuan Warga Jogja

Sebagai salah satu atribut sumbu filosofi yang merupakan bagian dari tata kota karya Sri Sultan Hamengkubuwono I, maka Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat melalui Tepas Panitikisma melakukan pemeliharaan fasad Alun-Alun. Adapun pemeliharaan ini dilakukan dengan mengganti pasir dengan cara dikeruk kemudian diganti dengan pasir baru. Proses ini dilakukan secara bertahap, dimulai sejak 3 April 2022 lalu yang diperkirakan akan selesai pada Juli 2022 mendatang. 

Proses pemuliaan ini sebagai langkah karaton dalam merawat aset-aset Kagungan Dalem sekaligus sebagai bentuk dukungan dalam mewujudkan Jogja sebagai Kota Warisan Dunia. Sekaligus sebagai salah satu pengejawantahan konsep menjaga dan memperindah keindahan dunia, Memayu Hayuning Bawono.

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat melalui rilis resminya menyatakan, sejak pemuliaan dilakukan, terdapat tumpukan benda-benda yang tidak seharusnya berada di Alun-Alun. Benda itu antara lain timbunan sampah, spanduk, hingga pondasi beton untuk kegiatan temporer yang pernah digelar.

“Sehingga mengembalikan tanah Alun-Alun Utara ke material aslinya dalam hal ini pasir, sangat penting untuk menjaga kemuliaan serta kelestarian alun-alun sebagaimana mestinya,” kata Wakil Penghageng II Tepas Panitikisma Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Suryo Satriyanto.

BACA JUGA: Satu-satunya di Dunia, Sumbu Filosofi Jogja Syarat Nilai Universal Kehidupan

Pasir yang akan digunakan untuk mengganti tersebut berasal dari tanah Kasultanan dan telah melalui proses pemilihan dan pertimbangan tim di internal Kasultanan. Pasir yang telah dipilih tersebut menggantikan material yang saat ini berada di Alun-alun Utara. Sebelum melakukan proses penggalian, pelaksana sudah melakukan rapat koordinasi dengan berbagai instansi serta dinas terkait maupun masyarakat di sekitar lokasi pengambilan pasir.

Advertisement

“Prosesnya dilakukan bergantian, kami menukar material yang ada di Alun-Alun dengan pasir yang telah kami pilih. Selanjutnya, material dari Alun-Alun Utara tersebut kami gunakan untuk menutup bekas galian pasir di wilayah pengambilan pasir,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan Harian Jogja, Rabu (15/6/2022) pelaksaan penggantian pasir tersebut masih terus berjalan. Proses itu dilakukan dengan mengeruk dan mengganti pada bagian tengah. Pada bagian tengah alun-alun tampak sudah selesai untuk penggantian pasir sehingga terlihat rapi. Saat ini para pekerja sedang menggarap penggantian ke tepian alun-alun.

Pakar Arsitektur, Revianto Budi Santoso, menilai upaya penggantian pasir lama dengan pasir baru merupakan bagian dari upaya pelestarian Alun-Alun Utara Jogja. Dengan dipelihara seperti itu maka harapannya atribut sumbu filosofi itu akan tetap terjaga dengan baik. Ia yakin sebelum dilakukan penggantian tentu ada berbagai pertimbangan terutama perencanaan teknis dan hasil kajian. Terutama mencegah agar pasir yang baru diganti ini tidak tersedot ke drainase ketika ada air masuk.

Advertisement

Menurutnya, ketika zaman dahulu Alun-Alun Utara berpasir, ketika itu masih pasir yang dibasahi air dari Sungai Larangan. Bahwa sebagian dari Sungai Larangan itu airnya masuk ke Alun-Alun sehingga tetap basah dan ketika musim panas dan terjadi angin debunya tidak beterbangan. “Untuk saat ini pengendaliannya seperti apa, kami belum mendapatkan informasi teknisnya. Tetapi kami yakin semua sudah dipertimbangkan,” katanya.

BACA JUGA: Apa Kabar Merapi? Dalam Sehari, Terjadi 83 Kali Gempa Guguran

Ia menambahkan Alun-Alun yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 250 tahun tentu pernah mengalami dinamika pemeliharaan fisik termasuk penggantian pasir pada era-era pemerintahan sebelumnya. “Pasir itu menyerap air tetapi dia juga mudah melepas air, artinya tidak memegang air, ketika ada air tentu akan mengalir yang lebih bawah. Tergantung level drainasenya nanti, seberapa banyak air yang tetap bertahan di pasir itu atau hanya pintasan,” ujarnya.

Jika nanti penataan fasad sudah selesai, tentunya masyarakat harus bersama-sama menjaga agar tetap bisa lestari, mulai dari menjaga keamanan agar tidak disalahgunakan. Selain itu perlu dijaga kebersihan, siklus air, sehingga pengelolaan bisa dilakukan secara komprehensif.

Advertisement

Kepala Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis, Dwi Agung Hernanto, menyatakan dalam berbagai referensi memang sejak dahulu alun-alun memang berpasir. Selain itu dari penelitian yang dilakukan ahli arkeologi, bahwa Alun-Alun Utara lokasinya lebih rendah dibandingkan Pagelaran. Sehingga teknis pemilihan pasir zaman dahulu diperkirakan agar bisa menyerap air lebih cepat.

“Secara teknis dahulu mungkin perencanaannya itu sangat efektif untuk resapan air, apalagi pasir kan lebih cepat menyerap,” ujarnya.

Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY, Aris Eko Nugroho, menyatakan pengerjaan Alun-Alun Utara Jogja tujuannya untuk membersihkan tanah yang semulanya pasir namun sudah banyak bercampur dengan sampah.

Advertisement

“Membersihkan tanah yang ada di sana diganti pasir. Saat digali ditemukan bekas beton, spanduk, bekas tenda ada tulisan tahun 1983. Disana banyak sampah diganti dengan tanah yang baru, tanah pasir yang baru,” katanya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Erick Thohir: Rasio Utang BUMN Turun Jadi 35 Persen

News
| Selasa, 05 Juli 2022, 04:47 WIB

Advertisement

alt

7 Makanan Indonesia Favorit Dunia

Wisata
| Sabtu, 02 Juli 2022, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement