Advertisement

Fasad Malioboro Ditata sebagai Warisan Budaya Dunia

Yosef Leon
Jum'at, 17 Juni 2022 - 19:07 WIB
Budi Cahyana
Fasad Malioboro Ditata sebagai Warisan Budaya Dunia Fasad bangunan Malioboro pada Jumat (17/6/2022). Fasad bangunan di jantung Kota Jogja itu akan ditata seperti tempo dulu agar muka bangunan lebih terlihat. - Harian Jogja/Yosef Leon

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJAMalioboro sebagai bagian dari kawasan Sumbu Filosofi terus berbenah. Fasad bangunan di kawasan itu ditata perlahan-lahan dan dikembalikan ke bentuk tempo dulu. Fasad akan dicat dengan warna dominan putih tulang.

Pembenahan di kawasan Malioboro tidak selesai pada relokasi pedagang kaki lima (PKL) saja. Proses penataannya akan lebih komprehensif meliputi papan reklame pertokoan, warna cat bangunan, sarana dan prasarana pelengkap, serta sejumlah kabel dan saluran air yang ada di kawasan itu.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

BACA JUGA: Bank BPD DIY Dampingi Ekonomi Desa Agar Berjaya

Setelah PKL direkokasi ke tempat baru, wajah Malioboro memang terlihat lebih lengang. Apalagi bagian fasad bangunan kini lebih terlihat di sepanjang jantung Kota Jogja itu. Proses penataan reklame pun dalam waktu dekat akan dilakukan agar fasad bangunan di Malioboro baru bisa terwujud.

“Fasadnya kan masih tertutup reklame dan belum kelihatan sepenuhnya. Ke depan akan dikembalikan fasad aslinya yang tertutup dengan papan nama dan plang iklan sehingga fasad aslinya akan kelihatan,” kata Kepala Balai Pengelola Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF) Dinas Kebudayaan DIY, Dwi Agung Hernanto, Jumat (17/6/2022).

Menurut Agung, pengembalian fasad bangunan Malioboro seperti tempo dulu menjadi penting dalam pengajuan kawasan Sumbu Filosofi sebagai warisan budaya dunia.

“Dulu memang ada papan nama, tapi kan lebih kecil dan tidak terlalu menganggu fasad bangunan. Intinya adalah fasad Malioboro lebih kelihatan,” katanya.

Dalam proses penataan fasad Malioboro, BPKSF telah merancang bentuk dan konsepnya untuk ditata. Pemilik toko di kawasan Malioboro juga dilibatkan dan berhak mengetahui proses tersebut. Jika pemilik toko menyetujui, proses penataan baru dilaksanakan.

“Tahun ini baru lima bangunan yang ditata karena dana terbatas dan sebagian juga ada yang ditata mandiri di beberapa toko. Lima toko itu dicat sesuai dengan perencanaan yang disetujui oleh pemilik,” katanya.

Advertisement

BACA JUGA: Nonton Yuk! Ada Kompetisi Berselancar Nasional di Parangtritis

Agung mengatakan secara filosofis Malioboro merupakan salah satu bagian dalam tahapan hidup manusia yang kerap dilewati dalam perjalanan dari lahir menuju kematian. Malioboro sebagai bagian dari kawasan Sumbu Filosofi yang terbentang dari Panggung Krapyak-Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat-Tugu Pal Putih, di dalamnya terdapat Kepatihan sebagai representasi kekuasaan dan Pasar Beringharjo sebagai perwujudan keduniawian.

“Malioboro kan punya eksistensinya sendiri, dari perjalanan sangkan paraning dumadi itu. Dari Margo Utomo, Malioboro kemudian Margo Mulyo, Pangurakan dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang jadi proses perjalanan manusia menuju Sang Khalik,” urai dia.

Advertisement

Penataan dan Sosialisasi

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menyebut diberi waktu oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) di rentang Juni sampai dengan September ini untuk menyiapkan kawasan Sumbu Filosofi sebagai warisan budaya dunia. Untuk itu, berbagai program saat ini dikebut guna memaksimalkan proses pengajuan.

“Minimal masyarakat harus tahu bahwa areanya maju sebagai warisan budaya dunia, kemudian tahu apa yang disyaratkan dan seperti apa substansinya,” kata Dian.

Selain penataan kawasan Malioboro berikut fasad bangunannya, Dinas Kebudayaan DIY melalui BPKSF juga tengah menggencarkan sosialisasi mengenai makna Sumbu Filosofi di Jogja. Koordinator Paguyuban Pengusaha Malioboro dan Ahmad Yani Yogyakarta (PPMAY), Karyanto Purbo Husodo mengatakan siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam menata fasad bangunan di kawasan Malioboro. Pemilik toko sebagian besar telah mengecat fasad secara mandiri dengan warna putih tulang.

“Kami siap dilibatkan dan berkolaborasi dengan pemerintah. Semoga Malioboro semakin ramai dikunjungi setelah penataan selesai,” ucap Karyanto.

Advertisement

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Awan Panas Semeru Masih Keluar, BPBD Lumajang Tetapkan Masa Tanggap Darurat 14 Hari

News
| Senin, 05 Desember 2022, 22:07 WIB

Advertisement

alt

Jangan Sampai Salah, Hotel 26 Lantai di China Ini Khusus untuk Babi

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement