TPR Baron Gunungkidul Resmi Terapkan Pembayaran Full Cashless
TPR Baron Gunungkidul resmi menerapkan pembayaran full cashless. Sistem non tunai akan dievaluasi sebelum diterapkan di TPR lain.
Telaga di Dusun Nglindur Kulon, Desa Nglindur, Girisubo, Minggu (8/3/2020). /Istimewa- Dokumen Kecamatan Girisubo
Harianjogja.com, Gunungkidul – Komunitas Resan Gunungkidul mencatat sejumlah telaga di Gunungkidul mengalami kerusakan ekosistem karena keberadaan ikan invasif atau predator. Diharapkan kepada masyarakat untuk tidak melepasliarkan ikan dengan sembarangan karena dapat mengancam keberadaan ikan endemik lokal.
Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo mengatakan, ikan invasif seperti sapu-sapu sudah mulai berkembang di sejumlah telaga. Kondisi ini tak bisa dibiarkan karena akan mengancam keberadaan ikan lokal seperti wader, cakul, tawes dan lain sebagainya.
“Pasti ada yang melepas ke telaga sehingga berkembang biak. Sapu-sapu merupakan ikan predator yang memakan ikan lainnya,” kata Edi kepada wartawan, Jumat (23/9/2022).
Menurut dia, jika terus dibiarkan maka ikan endemik lokal akan punah karena serangan ikan predator. Meski demikian, Edi tidak tahu menahu bagaimana menghilangkannya karena sapu-sapu tetap bisa hidup di sungai dengan kadar limbah yang tinggi.
Baca juga: Kawasan Girijati Gunungkidul Terbuka Untuk Investor
“Jadi ikan ini bisa hidup di air dengan polusi yang tinggi sehingga susah mati. Sedangkan dari sisi perkembangan juga cepat,” katanya.
Ia mengungkapkan, ikan-ikan predator ini mulai ditemukan di sejumlah telaga. Edi mencatat ikan invasif ini ditemukan di Telaga Ngomang di Kalurahan Planjan; Telaga Winong di Kalurahan Kepek; Telaga Bacak di Kalurahan Monggol di Kapanewon Saptosari. Sedangkan satunya merupakan Telaga Bromo di Kalurahan Karangasem, Paliyan.
“Sebenarnya banyak ikan invasif yang masuk, tapi sapu-sapu menjadi perhatian karena ikannya juga tidak bisa dikonsumsi,” katanya.
Dia berharap kepada masyarakat untuk tidak gampang melepasliarkan ikan-ikan ke telaga maupun sungai. Pasalnya, sekarang masih ngetren pemeliharaan ikan predator semisal channa, auranti, tomang dan lain sebagainya.
“Banyak yang jual maupun yang membeli. Kalau mau memelihara boleh, tapi kalau sudah bosan jangan dilepaskan sungai atau telaga karena berbahaya terhadap ekosistem yang ada,” katanya.
Salah seorang warga di Kalurahan Monggol, Saptosari, Taufik Nur Suratman mengaku senang memancing di Telaga Bacak dan sering mendapatkan ikan jenis sapu-sapu. Ia tidak menampik dari sisi sensasi tarikan, sapu-sapu memberikan perlawanan yang membuat senang pemancing.
Hanya saja, sambung dia, pada saat memperoleh ikan ini kebingungan maup diapakan karena kulitnya keras sehingga tak bisa dikonsumsi. “Sekarang sudah banyak karena saat mancing banyak yang mendapatkan ikan jenis ini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TPR Baron Gunungkidul resmi menerapkan pembayaran full cashless. Sistem non tunai akan dievaluasi sebelum diterapkan di TPR lain.
Alex Marquez diduga melaju lebih dari 200 km/jam saat mengalami crash horor di MotoGP Catalunya 2026. Ini estimasi kecepatannya.
Pengadaan TKD pengganti YIA di Palihan dan Glagah masih stagnan. Warga khawatir dana ganti rugi hangus jika tak segera direalisasikan.
Penelitian terbaru menunjukkan AI mampu memperpanjang usia baterai mobil listrik hingga 23 persen tanpa memperlambat pengisian daya.
Penyandang disabilitas saat ini telah menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang memainkan peran yang sama pentingnya dengan masyarakat umum dalam sektor
Libur panjang Kenaikan Yesus Kristus mendongkrak kunjungan wisata Gunungkidul hingga 145 ribu orang dengan PAD mencapai Rp1,7 miliar.